Legacy Makers #1: Perempuan dan Cangkir Kosongnya
Sebagai perempuan, kita seringkali dikaitkan dengan peran memberi kasih sayang, mengasuh, mengayomi, dan menjaga orang lain. Tapi, pernahkah kita berpikir hal yang sebaliknya: jika kita melakukan semua itu untuk orang lain, lalu siapa yang melakukan semua itu untuk kita?
Pertanyaan itu menjadi pemantik dari Dr. Rania Awaad pada diskusi panel di acara "Legacy Makers on Women, Wellness, and the Future of the Ummah" yang diselenggarakan oleh Luminihsan. Acara tersebut diadakan kemarin (12 Juli 2025) di Jakarta. Alhamdulillah, atas seizin-Nya saya hadir untuk memenuhi undangan mewakili Heal Yourself di acara tersebut.
Mendengar pertanyaan pemantik tadi, saya merinding. Saya tiba-tiba saja teringat pada banyak puzzle hidup yang sedang saya coba susun dalam beberapa bulan ke belakang. Qadarullah, saya sempat merasakan ketidaknyamanan pada beberapa kondisi fisik sehingga saya jadi bertanya-tanya, "Apakah mungkin saya selama ini terlalu banyak berfokus pada orang lain tapi lupa berfokus pada diri saya sendiri? Saya memberi, melayani, mendengarkan, hadir untuk banyak orang, tapi apakah saya juga menyediakan ruang dan waktu untuk melakukan hal yang sama untuk diri saya sendiri?" Pertanyaan itu berkali-kali muncul di benak saya, tapi saya merasa takut untuk memikirkannya. Iya, saya takut dengan berpikir seperti itu maka berarti saya sedang egois. Kamu pernah juga nggak sih merasakan hal yang sama?
Saya merasa mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dari sebuah pernyataan yang dikatakan oleh Dr. Rania, "Make sure that your cup isn't empty." Pastikan bahwa "cangkirmu" tidak kosong. Pernyataan ini mirip dengan analogi lain yang sering suami saya sampaikan dalam banyak diskusi kami, "Berbagi itu seperti kita menuang isi teko ke gelas-gelas milik orang lain. Kalau teko kita kosong, apa yang mau kita bagi?"
Ah ya, "cangkir" saya sedang kosong, tapi saya terus memaksakan diri dan lupa untuk mengisinya lagi. Barangkali memang itu yang sedang menjadi kondisi saya belakangan ini (yang biidznillah sekarang sudah terus membaik). Saya melupakan diri saya sendiri sehingga pada satu titik saya merasa begitu lelah, kelelahan yang sulit untuk saya pahami. Padahal, memperhatikan diri kita sendiri sama sekali bukan bentuk keegoisan kita sebagai perempuan. Sebab ...
Perempuan yang jiwanya terisi sepenuh utuh adalah perempuan yang akan bisa membaginya dalam berbagai bentuk cinta dan welas asih kepada pasangan, anak-anak, sesama perempuan, serta kepada ummat secara keseluruhan.
Tapi bagaimana caranya agar kita bisa mengisi "cangkir" kita lagi? Berikut saya merangkum beberapa hal dari pembahasan kemarin:
Pertama, pastikan kita memiliki keterhubungan yang baik dengan Allah. Sering-sering berupaya untuk menyadari bahwa segala yang kita lakukan dengan tulus, jika kita mau menyadarinya, bisa menjadi bentuk-bentuk ibadah yang akan berkontribusi pada kekuatan dan kebaikan untuk ummat.
Kedua, sadari bahwa sebagai perempuan yang seringkali berfokus pada orang lain, diri kita juga sebenarnya penting. Kita boleh mengambil waktu untuk diri kita sendiri. Kita boleh memperhatikan diri kita sendiri. Kita pun boleh mendengarkan apa yang sedang kita rasakan sebagai bentuk kepekaan untuk diri kita sendiri.
Apakah hal ini selaras dengan nilai-nilai kita sebagai Muslim? Apakah benar diri kita ini memiliki hak juga untuk diperhatikan dan diprioritaskan? Untuk menjawab hal ini, kemarin Dr. Rania membahas sebuah Hadist tentang nasehat Salman kepada Abu Darda' setelah dipersaudarakan oleh Rasulullah, yaitu,
“Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atasmu, dan dirimu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu mempunyai hak atasmu, maka berilah setiap hak kepada orang yang berhak.”(selengkapnya tentang Hadist ini cek disini).
Maa syaa Allah. Saya semakin kagum pada bagaimana Allah memberikan arahan-arahan hidup kepada kita sebagai manusia. Di tengah-tengah tugas besar sebagai seorang khalifah, rupanya Allah juga memberikan ruang agar diri kita bisa memperhatikan hak-hak atas diri, untuk senantiasa mengisi "cangkir" kita agar tidak kosong (tentunya dengan tetap memperhatikan agar jangan sampai cara yang kita lakukan menyalahi syariat, ya).
Kembali ke pertanyaan yang ada di awal tulisan ini tadi, jadi siapa yang memberikan kasih sayang, mengasuh, mengayomi, dan menjaga kita sebagai perempuan di saat kita sibuk melakukan semua itu untuk orang lain?
Pada hakikatnya, kita selalu berada di dalam kasih sayang, pengasuhan, pengayoman, dan penjagaan dari Allah. Kita pun diperintahkan untuk menjaga dan memenuhi hak-hak atas diri kita sendiri. Dan jika setiap perempuan yang terhubung dengan Allah dan peduli pada hak-hak atas dirinya ini saling mendukung satu sama lain, maka dunia tentu akan terasa lebih supportif bagi kita sesama perempuan.
Saat kita merasa lelah memberi (untuk orang lain), mungkin bukan memberinya yang melelahkan sebab kita sebenarnya tahu ada kebaikan di baliknya. Namun, kelelahan itu boleh jadi hadir dari sikap kita yang lupa untuk memberi kepada diri kita sendiri.
Saat kita merasa lelah berkorban (untuk orang lain), mungkin bukan berkorbannya yang melelahkan sebab kita sebenarnya tahu ada keberkahan di baliknya. Namun, kelelahan itu boleh jadi hadir dari sikap kita yang lupa untuk menyediakan ruang agar kita dapat memenuhi hak-hak atas diri kita sendiri.
Semoga Allah memudahkan agar kita bisa menjadi perempuan-perempuan yang penuh cinta kepada pasangan, anak-anak, orang-orang di sekitar, dan utamanya juga kepada diri kita sendiri sebab itulah yang menjadi asupan energi bagi kita untuk kembali berfokus menjalani fungsi dan peran yang dimiliki. Wallahu 'alam bishawab.