Forgiveness Project #1: Saat Memaafkan Terasa Tak Masuk Akal
Hai, salam kenal! Katanya, selama 30 hari ke depan kamu akan berkenalan denganku dan memasuki banyak ruang rahasia yang aku punya, ya? Hmm, entah apa rasanya perasaanku. Entah senang atau sedih, aku tidak tahu. Banyak peristiwa telah membuatku mati rasa. Apa itu senang? Apa itu sedih? Terkadang keduanya menjadi begitu saru. Tapi, paling tidak ada satu hal yang sedang aku coba pahami dari pertemuan dan perkenalan kita ini, bahwa kita adalah orang asing bagi satu sama lain, yang membawa kisahnya masing-masing. Aku yakin, ada kesamaan-kesamaan dalam kisah-kisah itu. Sebab, jika tidak demikian, apalah kiranya yang membuatmu sudi mengetuk ruangku? Bukankah ruang ini boleh jadi menghantarkanmu pada ruangmu sendiri, yang gelap, dan sering kamu hindari itu?
Aku tidak ingin menebak apa yang menjadi masa lalumu. Aku juga bukan cenayang yang ingin repot-repot mengetahui apa yang menjadi lukamu. Aku yakin, cepat atau lambat, mulutmu akan terbuka juga. Kamu pasti akan bercerita. Kalau begitu, biar aku saja yang memulai semuanya, ya? Mungkin ada tanya di hatimu, tentang mengapa aku semudah ini bersedia bercerita bahkan kepada orang yang aku saja tak tahu siapa nama belakangnya. Hmm, tenang saja. Aku sedang belajar percaya. Selain itu, aku juga sedang mencoba untuk membagi hal-hal yang berharga. Bukan harta, tapi cerita.
Kau tahu, jika kukatakan bahwa hidupku tak mudah, banyak orang yang tidak mau percaya. Pun jika kukatakan bahwa aku pernah mengoleksi banyak luka, mereka pun hanya tertawa sebab menganggapku bercanda. Tapi, asal kau tahu, semua itu pernah nyata pada masanya. Luka itu pernah ada, tangis itu pernah pecah hingga tak lagi bersuara, dan darah itu pernah mengalir meski tak merah warnanya. Apa yang membuat semua itu terjadi?
Entahlah. Sudah lebih dari 20 tahun aku menjadi seorang manusia yang berinteraksi dengan manusia, yang dikecewakan sekaligus mengecewakan manusia, juga yang mungkin dilukai sekaligus melukai manusia. Begitulah, aku bukan titisan malaikat yang tanpa cela. Bukan pula manusia datar yang menganggap semua perasaan sama saja. Aku hanya manusia biasa, yang berkawan dengan luka, lalu ingin berupaya menyembuhkannya. Bukankah kamu juga merasakan hal yang sama?
“Sudahlah, maafkan saja.” Begitulah kalimat yang sering kudengar dari lisan orang-orang. Jika ada sesuatu yang mengganggu hatiku, mengacaukan pikiranku, atau bahkan meninggalkan luka pada ingatan-ingatanku tentang masa lalu, mereka bilang maafkan saja. Bagiku, kalimat itu entah mengapa seringkali terdengar naif, seolah-olah maaf adalah barang dagang yang murah, semurah apapun yang nilai jualnya paling rendah. Padahal, tidak semua proses memaafkan terjadi begitu saja dan semudah itu, bukan?
Aku merasa tak pasti tentang apakah kamu pernah merasakannya atau tidak. Namun, bagiku hidup ini unik sekaligus menarik dalam waktu yang sama. Kau tahu apa yang membuatnya demikian? Dinamika-dinamika di dalamnya, yang tak jarang semua itu membuat kita memiliki kisah-kisah yang sulit untuk kita maafkan: entah itu antara kita dengan diri kita sendiri, kita dengan orang lain, atau bahkan kita dengan-Nya. Ah, yang ketiga ini kiranya yang paling sering terjadi, meski tanpa kita sadari.
Barangkali aku terlalu bodoh atau keras kepala, ah aku tidak tahu. Hanya saja, mengapa memaafkan (pun juga meminta maaf) seringkali terasa tak masuk akal, ya? Apalagi jika aku merasa aku yang benar, semua semakin tak masuk akal! Pemikiran ini kusimpan sejak lama tapi tak pernah kukatakan pada siapa-siapa. Sebab, oh tidak, Rabb kita adalah yang Maha Pemaaf. Siapapun yang berdosa, jika ia mendatangi-Nya dengan segenap harap dan percaya dengan tidak menduakan-Nya dengan sesuatu apapun, Dia akan memaafkannya. Lalu, mengapa aku, kamu, dan kita semua yang hanya manusia biasa ini begitu angkuh menaikkan harga maaf sedemikian tingginya?
Baiklah, jika saat ini memaafkan masih tak masuk akal, bagaimana jika kita berdoa saja? Semoga besok, atau besoknya lagi, atau kapan pun itu, kita bisa menjadi seorang pemaaf, terlepas dari luka apapun yang kita punya.















