Siapa kamu? Kenapa doa mu begitu kuat sehingga aku tidak memiliki rasa kepada siapapun!

shark vs the universe
hello vonnie
will byers stan first human second
Xuebing Du

tannertan36

@theartofmadeline
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Origami Around

Misplaced Lens Cap
almost home
taylor price
🪼
Monterey Bay Aquarium

Discoholic 🪩
we're not kids anymore.
Cosimo Galluzzi
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

#extradirty

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Mexico

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from India

seen from Bangladesh
seen from Nigeria

seen from Ecuador

seen from United Kingdom

seen from India
seen from Indonesia
seen from United Kingdom
@tembelek-senden
Siapa kamu? Kenapa doa mu begitu kuat sehingga aku tidak memiliki rasa kepada siapapun!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Yang kau lihat mungkin hanya seseorang yang tersenyum seperti biasa. Yang tidak kau lihat, la sedang menahan ribuan perang di dalam kepalanya agar tidak tumpah menjadi air mata. Setiap pagi ia mengumpulkan kembali serpihan hatinya, lalu berpura-pura kuat agar dunia tidak semakin gaduh.
Maka sebelum kau melontarkan kalimat yang menurutmu hanya candaan, ingatlah mungkin bisa jadi ia sedang bertahan dengan sisa kekuatan yang bahkan tak cukup untuk membenci hidupnya
Tidak semua perjuangan meminta tepuk tangan, dan tidak semua penderitaan mampu bercerita. Ada yang memikul dunia di kedua bahunya, tetapi masih sempat bertanya apakah orang lain sudah makan. Ada yang hatinya porak-poranda seluas langit, namun bibirnya tetap mengucapkan, "Aku baik-baik saja."
Jika kau tak mampu menjadi tempat pulang bagi lelahnya, setidaknya jangan menjadi batu yang menambah berat takdir yang sedang ia pelajari untuk dicintai.
Written by Aftansa
Tubuku sedang merayakan kehancuran kecilnya sendiri. Sebuah siklus purba yang menolak kompromi dengan jadwal harian manusia kontemporer.
Aku tidak sedang ingin menjadi manusia sosial hari ini. Aku hanya ingin menjadi sebongkah batu karang yang tidak punya kewajiban untuk beramah-tamah.
Jangan tanyakan apa yang kuinginkan. Bahkan jika aku meminta bulan yang digoreng garing, semenit kemudian aku akan menangis karena bulannya terlalu bundar.
Tolong mengerti. Jangan mendekat. Jangan ganggu!
Hujan
Belakangan, tak lagi tercium aroma hujan Namun hari ini aroma hujan membias begitu menyengat Aku tak sanggup menoleh kembali pada ingatan Maka kuraibkan segala tentangmu yang terpaut dalam bait
Kau bilang menyukai sastra Lantas mengapa kau raib ketika prosaku hanya membicarakan dirimu? Kau bilang sulit jatuh cinta Lantas mengapa berbahagia meninggalkan aku yang masih pilu?
Jemariku sukar melihat arah mata pena Benakku pun kesulitan merangkai prosa Bait puisi hambar, kehilangan nyawanya Sialnya nalar belum memberi izin pada lupa
Aku harap jatuh hatimu kali ini adalah benar Aku harap nalar akhirnya memberi izin pada lupa Aku harap cakrawala tak lagi ingat asa ku tentang dirimu Agar kelak ia menjadi atap paling indah bagi kau dan dia
Aku Juga Mau.
Allah ku,
Tolong hadiahkan aku seporsi kemenangan seperti yang Engkau hadiahkan juga pada orang-orang.
Aku juga mau ya Allah, mau merasakan kemenangan itu, kemenangan dalam segala hal yang aku mau.
.......

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Terlalu sering telinga ini dijejali oleh petuah suci, hingga perlahan kita kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakan bobotnya.
Ironi paling menampar dari sebuah kalimat agama kerap kali tidak terletak pada siapa yang menyampaikannya, melainkan pada betapa kebasnya diri kita saat menerimanya.
Kala dunia terasa sedang runtuh dan seseorang menepuk pundak kita seraya membisikkan ayat penenang—bahwa Tuhan tidak akan pernah menitipkan badai yang tak sanggup dilalui hamba-Nya—kita hanya mengangguk pelan. Namun jauh di dalam dada, pengingat sakral itu lewat begitu saja. Ia menguap sekadar menjadi angin lalu, tak ubahnya rentetan formalitas basa-basi penawar duka dari seorang kawan yang tak tahu harus berkata apa.
Kita hafal betul ayat-ayat penenang itu di luar kepala. Kita bahkan terlampau fasih merapalnya saat mencoba menambal luka orang lain. Namun giliran diri sendiri yang dipaksa babak belur oleh realita, kita mendadak tuli. Kita lebih memilih untuk menaruh iman pada rasa cemas yang fana, bertekuk lutut pada isi kepala yang bising di tengah malam, dan secara tidak langsung memperlakukan janji Sang Pencipta layaknya kalimat klise yang tidak bisa menyelesaikan masalah.
Barangkali, itulah bentuk kesombongan manusia yang paling senyap. Ketika kita merasa kerumitan masalah dan rasa sakit kita jauh lebih besar daripada kebesaran Dzat yang menciptakan semesta itu sendiri. Kita mendengar ayatnya, kita menganggukkan kepala, namun ironisnya—hati kita menolak untuk sungguh-sungguh berserah.
For the ear may catch the holiest of whispers, yet the restless mind chooseth to treat divine solace as but a passing breeze.
Jogjakarta. neia.
Manusia merencanakan dengan harapan
Takdir berjalan dengan ketetapan.
Di antara keduanya, terdapat ruang bernama ikhtiar...
🤲🏻
Ya Allah, jika hatiku sedang sempit, lapangkanlah. Jika aku sedang lemah, kuatkanlah. Jika aku takut terhadap masa depan, cukupkanlah aku dengan pertolongan-Mu. Jadikan aku hamba yang selalu bergantung kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu. Berkahilah keluargaku, bahagiakan mereka, dan jadikan aku sebab datangnya kebaikan bagi mereka. Aamiin..
Ada sebuah transformasi paling sunyi dari cara seseorang menatap dunia, tepat setelah ia terlampau sering dihantam oleh keadaan.
Kita sering kali terlalu sibuk menelaah senyum yang dipaksakan, hingga luput menyadari perubahan pada sepasang mata. Padahal, mata tidak pernah bisa diajak berkompromi untuk menyembunyikan seberapa banyak duka yang telah ditelan oleh pemiliknya.
Binar yang dahulu mungkin menyala terang, hangat, dan penuh harap, perlahan-lahan meredup seiring dengan bertambahnya usia luka. Namun, jika ditelaah lebih lekat, binar itu sesungguhnya tidak pernah benar-benar mati; ia hanya perlahan membiru.
Membiru, layaknya lebam pada kulit yang tak kasatmata. Ia adalah residu dari ribuan ekspektasi yang membentur kerasnya realita. Ketika kesedihan tak lagi sanggup diterjemahkan lewat tangis yang berisik, emosi itu akan memilih untuk mengendap dalam diam dan mengubah spektrum warna di dalam jiwa. Binar mata yang membiru adalah saksi paling jujur dari seseorang yang pada akhirnya menyadari bahwa dunia tidak selalu menjadi tempat yang ramah.
Namun, barangkali di situlah letak keindahannya yang teramat ganjil.
Sepasang mata yang telah membiru oleh kepedihan tahu persis bagaimana rasanya hancur sendirian. Dan sering kali, justru karena lebam batin itulah, mereka tumbuh menjadi sepasang mata yang menatap luka orang lain dengan cara yang paling lembut.
For the truest depth of a soul is seen not in a gaze that shineth bright, but in the quiet eyes that have bruised into blue, yet still choose to look upon the world with profound mercy.
Jogjakarta. neia.
Orang yang memiliki trauma sering kali merasa tidak siap menerima cinta yang tenang dan tulus, karena mereka selalu mengantisipasi kapan badai berikutnya akan datang. Padahal tidak semua orang datang berniat jahat atau memanfaatkan keuntungan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Memilih menjadi budak yang santun di hadapan sesama budak, lalu berlagak menjadi majikan yang pongah di hadapan Pencipta, adalah pilihan yang tidak hanya ganjil, tapi juga menunjukkan betapa rendahnya selera kita dalam memilih kepada siapa kita berlutut.
Bisa jadi cara kamu bersimpati sama orang masih salah. Jadi nya orang itu merasa tidak nyaman
Menyaksikan segelintir manusia yang dianugerahi radar emosional terlampau peka, acap kali menyisakan kekaguman sekaligus rasa ngilu yang ganjil.
Mereka yang hidup dengan kondisi ini seolah memiliki mata batin yang mampu membaca apa yang tidak disuarakan. Mereka bisa menangkap rekam jejak luka orang lain justru dari hal-hal yang paling sunyi; dari sorot mata yang mendadak kosong saat hening menyergap, atau dari gestur kaku kala seseorang memaksakan senyum di tengah keramaian. Bagi mereka, patahan duka orang lain terdengar begitu lantang, bahkan sebelum satu patah kata pun sempat terucap.
Berbekal kepekaan yang sedemikian dalam, insting alamiah mereka biasanya adalah mengulurkan tangan. Mereka akan melangkah maju dengan niat paling murni sedunia, mencoba merengkuh dan menambal luka yang mati-matian disembunyikan oleh sosok yang merasa dirinya kuat tersebut. Namun, di sinilah letak ironi yang paling kejam dari sebuah dinamika antarmanusia.
Betapapun tulusnya niat baik yang mereka tawarkan, mereka tetap harus membentur satu dinding mutlak: ketidakmampuan untuk mengendalikan respons orang lain. Mereka sama sekali tidak memegang kuasa secuil pun untuk mendikte bagaimana sosok tersebut pada akhirnya memilih untuk memperlakukan mereka kembali.
Maka tak jarang, tangan yang paling bersikeras menyembuhkan justru berakhir menjadi pihak yang paling banyak menampung sayatan baru. Sebab pada akhirnya, sebesar apa pun empati dan ketulusan yang disodorkan, manusia di hadapannya tetaplah entitas merdeka yang memiliki hak penuh untuk membalas kebaikan tersebut dengan cara apa pun—bahkan dengan cara yang paling tidak tahu terima kasih sekalipun.
For a soul may offer a heart of purest intent, yet possess no sway over the hands that choose how to repay its grace.
Jogjakarta. neia.
Tertular kebingungan, yah seperti itulah rasanya...
Entah siapa kamu, tuan? do'a mu begitu kuat sehingga aku selalu gagal untuk memulai kisah dengan lelaki yang pernah singgah di hidupku,
Siapapun kamu, semoga kamu adalah orang yang baik agamanya, lembut hati dan perkataannya, dan tentunya mampu menjadi Qowwam yang siap membimbing ku didunia sampai ke akhirat-Nya kelak!
Kalau memang sudah siap untuk memulai kisah baru bernama Pernikahan, tolong langsung datang ke rumah yaa hehe,
Tapi jangan lupa minta alamat rumah dulu, nanti takutnya kamu nyasar lagi 😭
Lombok timur || di sudut kamar.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apa yang kamu perbuat akan kembali lagi ke kamu,hari itu juga atau dilain waktu,langsung ke kamu atau anak keturunanmu,maka perlakukanlah orang sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
FENOMENA AKHIR ZAMAN
Banyak rumah semakin besar, tapi keluarganya semakin kecil.
Gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah.
Pengobatan semakin canggih, kesehatan semakin buruk.
Travelling keliling dunia, tapi tidak kenal dengan tetangga sendiri.
Penghasilan semakin meningkat, ketenteraman jiwa semakin berkurang.
Kualitas Ilmu semakin tinggi, kualitas emosi semakin rendah.
Jumlah Manusia semakin banyak, rasa kemanusiaan semakin menipis.
Pengetahuan semakin bagus, kearifan semakin berkurang.
Perselingkuhan semakin marak, kesetiaan semakin punah.
Semakin banyak teman di dunia maya, semakin sedikit sahabat yang sejati.
Minuman semakin banyak jenisnya, air bersih semakin berkurang jumlahnya.
Pakai jam tangan mahal, tapi tak pernah tepat waktu.
Ilmu semakin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap.
Belajar semakin mudah, guru semakin tidak dihargai.
Teknologi Informasi semakin canggih, fitnah dan aib semakin tersebar.
Orang yang rendah ilmu banyak bicara, orang yang tinggi ilmu banyak terdiam.
Tontonan semakin banyak, tuntunan semakin berkurang.
اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ ﴿الأنبياء : ۱﴾
Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat).
(QS. Al-Anbiya': 1)