“.”
'Titik' adalah sebuah tanda yang dahulu sempat kusematkan pada nama yang kini tak lagi menyapa.
“Mengapa titik?”
“Karena aku berhenti di kamu”
Ternyata titik sebagai tanda pemberhentian, bukanlah yang menjadikan sebuah awal harus berakhir lantas selamanya menetap pada satu tempat.
Di hari kau meninggalkanku teriknya sinar mentari mengajakku untuk rela atas kapal yang tak lagi berlabuh, namun hati ku terlalu berantakan untuk mau nerima ajakannya.
Di hari kepergianmu baskara tak datang untuk menegarkan hatiku, yang lebih satir adalah sang cakrawala yang justru mengirimkan hujan. Di hari itu sepertinya alam membisikan bahwa sebuah akhir adalah ketika sosok yang pernah istimewa hanya akan kembali menyapa melalui keberuntungan, dan di hari itu pula aku kembali belajar untuk berpura-pura merasa kau dan aku tak pernah sempat menjadi kita.
Donat. Aku yang belum mengerti feedback, kamu yang haus validasi, dan kita yang tak ingin mengusahakan. Betapa indahnya masa itu, kadang aku ingin kembali duduk bersama segala kenangannya dan akan kukatakan pada mu bahwa berada di dekatmu menjadi hal yang sangat menyenangkan.
Janji yang kita rangkai kala itu seharusnya memungkinkan kita berteman baik hingga kini, nahasnya bahkan janji sesederhana itu saja tak mampu kita nyatakan.
Waktu telah memanggil untuk kita benar-benar menghilang. Semoga kau bahagia dan tetap baik-baik saja di perjalanan-perjalananmu berikutnya tuan.
Wanasigra, 12 April 2025










