Senin malam tanggal 13 Mei 2019, aku kembali merasakan kontraksi tetapi rasanya lebih sakit dari sebelumnya (kontraksi palsu). Tetapi karena kuanggap sama saja dengan kontraksi-kontraksi sebelumnya, aku masih memaksakan diri untuk tidur. Tidur-duduk selonjoran untuk mengurangi kontraksi-tidur lagi. Sebenarnya bukan mengurangi kontraksi, tapi menunggu kontraksi hilang sejenak.
Pukul 2.00 pagi, 14 Mei 2019, aku masih ga bisa tidur. Bangun, shalat tarawih-tahajjud. Tahajjud terakhir belum sempat kuselesaikan. Pukul 03.30, turun ke bawah untuk (ikut) sahur. Sambil makan sambil menahan mulasnya kontraksi yang datang makin sering (5 menit sekali). Ibu mertua bilang, itu sudah masuk tanda-tanda mau melahirkan. Oh no, aku beneran belum siap untuk melahirkan!
Rasanya sudah campur aduk antara ngantuk, cape, sakit dan takut. Makanan saat sahur pun aku muntahkan. Akhirnya aku mengalami moment ini. Gelombang cinta aka kontraksi, yang sakit mulesnya 100x lipat dari mules saat menstruasi. Sudah ada flek bercampur lendir.
Aku sempatkan untuk video call ke Bapak, minta maaf dan minta ridhonya untuk persalinan. Ya Rabb, seandainya ada Bapak di dekatku ingin sekali rasanya memeluk erat dan menenggelamkan segala tangis di pundaknya. Kangen Bapak.
Suami segera telp ke bidan terdekat tempat biasa aku kontrol kehamilan. Pukul 06.30 aku diantar ke klinik bersalin oleh suami (bonceng motor). Sebelum berangkat aku mengucap bismillah dan meminta pada Allah agar dimudahkan perjalanannya, tidak terjadi kontraksi saat di motor. Alhamdulillah.. Allah mudahkan.
Sampai klinik bersalin, bidan langsung cek bukaan. Ugh, dicek bukaan adalah salah satu tindakan paling sakit yang pernah aku rasakan. Ternyata sudah masuk bukaan 5-6. Alhamdulillah! Senang sekaligus takut karena rasa sakitnya kontraksi makin menjadi-jadi. Sambil menunggu bukaan naik, aku "menikmati" kontraksi sambil bolak-balik jalan di kamar inap, ditemani ibu mertua dan suami. Sambil ngantuk, masih disuapi untuk makan lagi, sempat muntah-muntah juga.
Pukul 10.00 bidan jaga kembali cek bukaan, masih bukaan 6. Pukul 13.30 ketuban pecah, masuk bukaan 7. Bidan senior bilang seharusnya pukul 12.00 sudah lahiran. Masuk ruang bersalin. Makin takut tapi aku harus berjuang, karena adek pun sudah berjuang membuka jalan. Akhirnya disuntik perangsang. Rasa mulesnya makin berkali-kali lipat. Perut makin kayak didorong-dorong buat dikeluarin isinya. La hawla wala kuwwata illa billah.
Aku sempat berteriak dan mengeluh sakit beberapa kali. Seisi ruangan mengingatkanku untuk jangan berteriak dan mengejan terlebih dahulu. Padahal udah lemas banget rasanya bused dah. Ibu mertua sampai bilang, "klo dirasa sakit remas tangan ummi", tapi boro2 remas tangan, sudah lemas duluan dan mikir gimana biar adek cepat keluar (dan cepat berlalu rasa sakitnya). Ya Allah.. jadi begini rasanya pertaruhan nyawa buat melahirkan normal.
Masuk sesi mengejan, tim bidan bilang paling gak 5x mengejan adek bayi sudah keluar. Awalnya aku kesulitan mengejan karena rasanya sangat-sangat ingin teriak. Begitu masuk 3x mengejan, bidan bilang 1-2x lagi sudah keluar semua nanti bayinya. Aku lebih bersemangat lagi untuk mengejan. Dan tepat pada pukul 14.05, adek lahir. Air ketuban ikut keluar lagi, hangat. Teriakan adek diikuti tangisan haru suami.
Nanti adek baca cerita ini juga ya, ingat selalu perjuangan kita. Mama Papa sayang adek Syams.