Bukan Tentang Sudah Sampai Mana, Tapi Sudah Jadi Siapa
Buatku, usia muda itu masa yang paling aneh… tapi juga paling penting.
Banyak orang bilang ini masa emas. masa untuk bangun mimpi, cari jati diri, dan jalani hidup semau kita. Tapi yang aku rasakan gak sesimpel itu. Usia muda justru terasa seperti ruang transisi yang membingungkan. Aku belajar banyak, mikir terlalu banyak. Kadang ngerasa kuat banget, bisa sendiri, bisa hadapin semuanya. Tapi di saat lain, aku juga ngerasa kosong, capek, gak tahu harus ke mana.
Aku ngalamin banyak hal di usia ini.
Aku kehilangan. Orang yang aku cintai, yang aku anggap rumah, pergi lebih dulu ke hadapan Allah. Dan lubangnya masih kerasa sampai sekarang. Tapi dari kehilangan itu juga, aku belajar bahwa hidup ini gak abadi. Yang akan tinggal hanyalah hubungan kita dengan Allah, dan apa yang kita tinggalkan di hati orang lain.
Aku berusaha. Bangun usaha kecil, belajar ngatur keuangan, hidup mandiri, bantu keluarga. Kadang berhasil, kadang bingung. Tapi aku tetap jalan terus. Pelan-pelan. Gak gampang, tapi aku bangga karena aku gak nyerah. Usaha fotokopi ini mungkin terlihat sederhana, tapi di situlah aku merasa hidup. Di balik mesin dan kertas, aku sedang membangun versi terbaik dari diriku.
Aku jatuh, tapi gak sepenuhnya lepas. Pernah jauh dari ibadah, kehilangan arah, terlalu sibuk sampai lupa menyapa Tuhan. Tapi selalu ada rasa bersalah yang lembut, seperti ada suara yang bilang, "Salma, pulang yuk."
Aku mulai sadar, bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang sampai duluan, bukan soal siapa yang punya pencapaian lebih banyak. Tapi tentang siapa yang tetap berjalan meski pelan, yang tetap berusaha mengenal dirinya, dan yang terus belajar menjadi lebih baik.
Aku ngerasa dijaga. Entah kenapa, di tengah semua beratnya hidup, aku ngerasa selalu ada yang jagain. Kayak cahaya yang gak kelihatan tapi selalu hadir. Mungkin itu doa orangtuaku. Mungkin itu kasih Allah yang gak pernah benar-benar jauh.
Dan sekarang, aku sampai pada titik di mana aku lebih peduli jadi siapa, bukan sudah sampai mana. Karena pencapaian bisa hilang, tapi siapa dirimu di dalam akan tetap tinggal.
Jadi malam ini, aku menulis ini untuk kamu yang mungkin sedang di masa muda, sedang bingung, sedang jatuh cinta pada hidup dan takut padanya di saat bersamaan. Kamu gak sendirian. Aku pun begitu. Kita sedang dibentuk, bukan untuk jadi sempurna, tapi untuk jadi seseorang yang bermakna.











