#25 — Hangatnya Berkesadaran
Ada kalanya, upaya yang kita lakukan tak kunjung jelas ujungnya. Bertemu putaran masalah yang itu-itu saja, tak jarang melaju ke kondisi yang sukar solusi.
Seperti terjebak dalam labirin yang sebetulnya kita sedang melintasinya. Sekat demi sekat, berjalan bahkan berlari sekuat tenaga. Bertemu persimpangan jalan, memilih jalur mana yang layak dilalui, disertai rasa gusar, bingung, tak jarang dengan penuh ragu.
Ada yang dimulai dengan tergesa-gesa, penuh pertimbangan atau seruduk tanpa arah. Kadang terasa ngos-ngosan padahal baru saja dimulai, kadang terasuk sebuah rasa tanpa hasrat. Tidak ingin lagi, tidak suka atau mau mengakhiri saja. Tanpa alasan atau bingung kenapa dan ada apa. Sekedar tidak mengerti, entahlah.
Kita perlu berhenti sejenak. Rehat atau istirahat. Mengosongkan pikiran yang semrawut, meredupkan perasaan yang labil sejadi-jadinya, serta meringankan beban fisik yang berat sana-sini.
Ya, belajar untuk melangkah secara perlahan.
Sesekali, itu perlu. Tidak ada yang tertinggal dan meninggalkan, hidup ini bukanlah kompetisi. Sempit sekali definisinya, perluaslah segera. Persetan dengan segala omongan orang, kita jadi kerdil jika dirasa, perkuat aksimu.
Saat ini, detik ini. Kita adalah manusia yang penuh sifat kesementaraan.
Ada lelahnya, ada emosionalnya, ada sejuknya, dan itu sangatlah wajar.
Seringkali, bukan beban hidup atau masalahmu yang rumit.
Tetapi, kitalah yang mempersulitnya. Sadarkah?
Misalnya nih. Waktunya istirahat bukannya dimanfaatkan dengan baik, malah tetap sibuk katanya produktif padahal sedang terjerembab dalam perilaku toxic kepada diri sendiri.
Terucap, bertekad, tiba-tiba membuat rencana radikal. Semua-semua berfokus dengan luar dirimu. Ya, liburan, nonton hiburan atau lainnya.
Ada baiknya, kita mulai mencoba fokus ke dalam dirimu.
Merefleksikan apa-apa yang telah menjadi sebuah langkah, keputusan, pilihan bahkan gulungan salah, keliru, dan gagal yang kini telah menempuh jalur rasa pada dirimu. Entah rasa yang mendorong untuk tidak mendekati orang, hubungan atau masalah tertentu.
Kita tidak membutuhkan kegiatan hura-hura yang membuang materi dan waktu secara berlebihan, tetapi kegiatan sederhana yang memastikan dirimu nyaman dengan dirimu sendiri.
Tidak ada salahnya untuk menghibur diri melalui pernak-pernik di luar diri.
Lucu gak sih, boleh jadi sering dialami oleh kita, sudah membara dengan energi yang terakumulasi jegar-jeger ke dalam jiwa. Eh, ternyata saat menghadapi realitas, balik lagi, healing lagi, balik lagi. Begitu terus sampai tidak ada ujungnya, sayang sekali.
Titik bahagia diciptakan bukan dicari. Dengan pemahaman yang konsisten dan tahan banting, mulai merajut dari yang sedang dan kini bersama dengan dirimu, ya, fisikmu, jiwamu, perasaanmu dan pikiranmu. Satu hal penting yang seringkali kita teralihkan dengan komponen di luar diri, yaitu:
"Daya untuk setia merawat diri seutuhnya. Seni dalam berfokus dalam seapaadanya. Tanpa dan dengan adanya orang lain, dirimu tetap bisa bahagia, sejuk, tenang dan bertumbuh semestinya."
Kita ada karena ketiadaan, semua ada masanya, termasuk orang, hubungan serta beban berat yang ditopang selama hidupmu. Bertumbuhlah menjadi tangguh, beranikah?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin