Aku dan Jalan Hidup yang Allah Pilihkan
Aku sering berpikir, mungkin hidupku tidak sama seperti kebanyakan orang.
Bukan karena aku lebih kuat dari orang lain, tapi karena sejak kecil aku sudah belajar menerima hal-hal yang tidak selalu mudah.
Perjalananku tidak dimulai ketika aku dewasa.
Perjalanan itu sudah dimulai sejak aku masih kecil.
Sejak usia sembilan tahun, aku sudah merasakan bagaimana hidup kadang memberi ujian yang tidak pernah kita minta. Di usia ketika anak-anak lain masih bermain tanpa banyak pikiran, aku mulai belajar memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.
Ada banyak hal yang harus kuterima meskipun hatiku sebenarnya belum siap.
Aku tumbuh dengan banyak pertanyaan di dalam hati. Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, kenapa jalan hidupku seperti ini? Kenapa aku harus melewati hal-hal yang tidak semua orang rasakan?
Namun seiring waktu berjalan, aku mulai mengerti sesuatu yang pelan-pelan menenangkan hatiku.
Bahwa mungkin Allah tidak pernah salah dalam menuliskan takdir seseorang.
Ada hari-hari di mana aku merasa kuat.
Ada juga hari-hari di mana aku merasa sangat lelah.
Tapi setiap kali aku merasa lemah, aku selalu kembali kepada satu tempat yang sama: kepada Allah.
Aku bukan perempuan yang sempurna. Aku juga sering merasa takut, merasa bingung, merasa tidak tahu harus melangkah ke mana. Namun setiap kali hatiku terasa penuh oleh kegelisahan, aku selalu mencoba berbicara kepada Allah dalam doaku.
Aku percaya bahwa tidak ada doa yang benar-benar hilang.
Mungkin tidak semua doa langsung dijawab dengan cara yang kita inginkan. Kadang Allah menjawabnya dengan waktu yang berbeda, atau dengan jalan yang tidak kita duga.
Namun aku percaya Allah selalu mendengar.
Dalam perjalanan hidupku, aku juga bertemu dengan banyak orang. Ada yang datang hanya sebentar, ada yang pergi tanpa sempat berpamitan, dan ada juga yang meninggalkan jejak di hatiku tanpa pernah benar-benar menjadi bagian dari hidupku.
Dulu aku sering mencoba memahami kenapa manusia datang dan pergi seperti itu. Tapi sekarang aku mulai menerima bahwa mungkin memang seperti itulah kehidupan.
Tidak semua orang yang kita temui akan berjalan bersama kita sampai akhir.
Ada yang hanya menjadi pelajaran.
Ada yang menjadi kenangan.
Ada yang mengajarkan kita tentang rasa kehilangan.
Dan ada juga yang mengajarkan kita tentang harapan.
Aku adalah seseorang yang tidak mudah membuka hati kepada orang lain. Mungkin karena perjalanan hidupku membuatku lebih berhati-hati. Aku belajar bahwa perasaan bukan sesuatu yang bisa diberikan sembarangan.
Namun ketika aku menyukai seseorang, biasanya bukan karena hal-hal yang sederhana.
Aku menyukai seseorang karena aku melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain. Aku memperhatikan bagaimana dia berpikir, bagaimana dia berbicara, bagaimana dia menghormati orang-orang di sekitarnya.
Dan yang paling penting bagiku adalah bagaimana hubungannya dengan Allah.
Karena bagiku, seseorang yang dekat dengan Tuhannya biasanya memiliki hati yang lebih tenang.
Dalam hidupku juga pernah ada seseorang yang tanpa sengaja meninggalkan kesan di hatiku. Tidak ada cerita besar di antara kami. Tidak ada hubungan yang pernah dimulai.
Kami hanya pernah berada di waktu yang sama, berbicara, berdiskusi, dan saling mengenal sebatas yang kehidupan izinkan saat itu.
Setelah itu jalan kami berbeda.
Kami tidak saling mencari.
Kami tidak saling mengejar.
Namun anehnya, namanya kadang masih muncul dalam pikiranku.
Bukan sebagai luka, bukan sebagai penyesalan, tapi sebagai kenangan yang tenang. Kadang aku sendiri tidak mengerti kenapa perasaan itu masih ada.
Aku pernah mencoba melepaskannya berkali-kali dalam pikiranku. Aku pernah berkata kepada diriku sendiri bahwa mungkin dia bukan bagian dari masa depanku.
Tapi setiap kali aku mencoba memahami semuanya dengan logika, hatiku justru memilih untuk menyerahkannya kepada Allah.
Karena aku sadar ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita paksa.
Aku tidak tahu apakah dia adalah bagian dari takdirku atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah suatu hari nanti jalan kami akan bertemu lagi atau justru semakin jauh.
Namun aku tidak ingin memaksakan apa pun.
Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan baik, memperbaiki diriku, dan terus berharap kepada Allah.
Jika memang dia adalah orang yang Allah tuliskan untukku, aku percaya jalan kami akan dipertemukan kembali dengan cara yang baik.
Jika bukan dia, aku juga percaya Allah tidak akan mengambil sesuatu dari hidupku tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Hari ini aku masih berjalan di jalanku sendiri.
Aku masih belajar menjadi perempuan yang lebih kuat. Aku masih belajar menerima masa lalu tanpa membiarkannya menguasai masa depanku.
Kadang aku merasa sendirian, tapi aku tahu sebenarnya aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Dan mungkin itulah alasan kenapa aku masih bisa berdiri sampai hari ini.
Bukan karena hidupku mudah.
Bukan karena aku tidak pernah terluka.
Tapi karena setiap kali hidup membuatku jatuh, aku selalu menemukan cara untuk kembali berdiri dengan satu keyakinan yang sama:
bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang tetap berharap kepada-Nya.
Aku tidak tahu seperti apa masa depanku nanti.
Aku tidak tahu siapa yang akan berjalan bersamaku di masa depan.
Namun satu hal yang selalu kupegang dalam hatiku adalah ini:
Aku ingin hidupku tetap dekat dengan Allah.
Aku ingin setiap langkahku tetap berada dalam penjagaan-Nya.
Dan aku ingin seseorang yang kelak berjalan bersamaku adalah seseorang yang juga mencintai Allah seperti aku mencoba mencintai-Nya.
Jika hari itu datang, aku ingin menyambutnya dengan hati yang tenang.
Karena setelah semua yang pernah kulalui sejak kecil, aku percaya satu hal:
bahwa takdir yang datang dari Allah tidak pernah buruk.
Dia hanya sedang menyiapkan waktu yang paling tepat untuk setiap cerita dalam hidup kita.