Melanjutkan cerita lama dan tulisan lama. Sebelumnya ada di sini: https://janatunrahmilah.tumblr.com/post/630574833933156352/peresean-dusun-sasak-ende
Masih di hari ke-2, kami melanjutkan perjalanan dari UMMAT menuju Desa Sukarara (dibaca: Sukarare). Desa ini terkenal dengan hasil tenunnya. Saya sendiri mengkaji Sosekpol di Desa Sukarare ini, dan hasilnya sangat miris. Penenun hanya mendapat keuntungan sedikit, harga satu kain tenun dari penenunnya langsung berkisar 200.000 rupiah, namun harga di Artshop (sebutan toko oleh-oleh tenun) mencapai 500.000 rupiah.
Bukan hanya itu, kami menemukan banyak anak kecil yang terlihat lusuh. Masyarakat di sekitar atau di belakang Artshop nampak kumuh. Pendidikan warga rata-rata hanya sampai lulus SD dan SMP, bahkan narasumber yang saya wawancara tidak bisa berbahasa Indonesia.
Ibu yang sedang menenun ini, sudah belajar menenun dari kecil. Saat ditanya ke warga, ibu-ibu penenun depan Artshop ini hanya ada saat pengunjung datang, hanya untuk menarik pembeli saja. Hasil tenun yang ada di Artshop itu berasal dari seluruh warga Desa Sukarare yang ada di sekitar dan belakang Artshop.
Saat kami di Artshop, pemandunya bilang “Wanita di Desa Sukarare ini harus bisa menenun sebelum menikah, itu syaratnya”. Tapi saat kami kroscek ke lapangan, yakni ke masyarakatnya langsung, “Tidak apa-apa kok, kalau mau menikah tinggal menikah saja tidak perlu jago menenun dulu. Itu dulu, kalau sekarang sudah gak begitu.”
Mbak Sunar sudah belajar tenun dari umur 6 tahun. Sekarang Mabk Sunar sedang merapihkan benang atau disebut ngani. Kain motif rangrang hanya dikerjakan seminggu oleh mbak ini, beli benangnya 2000 rupiah per gulung. Benang yang digunakan sama saja seperti benang pada umumnya. Satu kain rangrang dijual 300.000 rupiah, kalau di Artshop bisa mencapai 700.000 rupiah.
Ibu yang dibawah ini sedang memasukkan benang ke celah-celah kayu yang rapat. Kalau saya lihat, kayunya itu seperti sisir serit, hhe. Nama alatnya ani-ani. Kalau terlewat satu celah saja, maka akan fatal jadinya saat nanti menenun. Harus penuh ketelitian, ulet, dan telaten! :)
Ibu ini menyelesaikan motif rangrang satu meter itu cukup 4 hari saja.
Tenun seharga 200.000 dan dijual di Artshop 500.000 adalah motif ketupat seperti dibawah ini. Kata Ibu penenunnya bilang, “Lebih baik beli di saya langsung mbak kalau disini lebih murah, saya kasih 200.000 – 250.000, mbak juga bisa pesan mau motif apa sesuai selera. Kalau di Artshop bisa dua kali lipat harganya. Satu kain ini biasanya menghabiskan 12 gulung benang, 2 minggu juga sudah jadi seperti ini.”
Kata ibunya, menenun itu hobi apalagi kalau dapat uang, tambah senang katanya. Warga disini kebanyakan bertani, setelah panen (merampe) maka 4 bulan sisanya dihabiskan untuk menenun.
Ada banyak masalah yang perlu diangkat mulai dari harga pengumpul yang mahal sampai pada kesejahteraan masyarakat Desa Sukarara. Tentu perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat setempat. Dan solusi itulah yang akan kami rancang dalam KKL ini.
Nah, setelah ini kami akan langsung melanjutkan perjalanan ke Tanjung Aan. Katanya sih sunset nya keren. Penasaran secantik apa sunset nya?
KKL Pendidikan Geografi ‘2012
Desa Sukarara, 13 Mei 2015