Angga atau Anggara, begitu biasanya teman-teman memanggil saya. Ada juga yang memanggilku Ceking, merujuk pada tubuhku yang kurus kerempeng ketika SMA.
Well, sekarang, Ceking sudah tidak kerempeng lagi. Sebagai perbandingan saja, sewaktu SMA tinggi saya 180cm dengan bobot tubuh hanya 60kg. Kini saat tulisan ini dimuat, 183cm/84kg. Thanks God!
Saya suka sepakbola, khususnya Inter Milan. Ayah yang pertama kali memperkenalkan aku dengan olahraga sebelas lawan sebelas ini. Ketika itu, kesebelasan Inggris entah sedang melawan apa, tetapi ada satu hal yang tidak mungkin kulupakan:
“Pah, kenapa kipernya enggak megang bola sampai gawang musuh aja kalau begitu?”
Angga kecil bertanya kepada ayahnya. Dia bingung, kenapa ada dua pemain yang diperbolehkan memegang bola. Dan kenapa hal ini tidak dimanfaatkan untuk memegang bola sampai gawang lawan.
Saya suka mendengarkan The Beatles dan reggae. Saya juga suka membaca, menulis, berbicara, merayu, nyeleneh, bercanda. Kata terakhir pada kalimat sebelum ini, mungkin, adalah sifat yang paling menggambarkan diri saya. Anda tidak akan melihatnya pada tulisan, karena menulis adalah cara saya menyampaikan hal-hal yang tidak terucapkan oleh lidah.
Satu lagi. Saya suka INDONESIA. Bagi saya, Indonesia adalah negara pilihan Tuhan. Dan Anda semua, termasuk saya, yang dilahirkan di Indonesia haruslah bersyukur. Mungkin saja setelah kehidupan ini Anda tidak masuk surga. Tapi setidaknya Anda telah merasakan hidup di Indonesia. Berbahagialan Anda yang tinggal di Indonesia dan kemudian masuk surga. Itu artinya Anda sangat amat beruntung karena dua kali merasakan keindahan ciptaan Tuhan.
Mungkin itu sebabnya orang Indonesia banyak yang tamak, egois, dan berani melanggar melawan Tuhan. Bangsa Indonesia merasa tidak perlu lagi merasakan indahnya surga, karena toh sudah tau rasanya seperti apa. Dan mungkin juga inilah yang menyebabkan banyak sekali orang mancanegara berbondong-bondong datang ke negara kita.
Saya takut ketinggian dan hal-hal yang super cepat. Pesawat dan wahana permaianan seperti Dunia Fantasi (Dufan) adalah contohnya. Tidak hanya karena terbang tinggi, yang membuatku takut naik pesawat terbang, tetapi juga kecepatan super yang mesti dilakoni pesawat saat hendak meninggalkan landasan. Dufan lebih parah lagi. Terombang-ambing di ketinggian dengan kecepatan yang fantastis. Sebagai pelengkap, kita hanya bergantung pada sabuk pengaman dan tanpa helm. Kodok bongkrek untuk permainan yang satu ini.
Saya tidak menyukai amarah. Bagi saya, amarah tidak menambah apa-apa selain sakit hati. Saya kerap dibuat bingung oleh mereka yang mudah sekali tersulut emosinya, lantas marah. Sebetulnya apa yang mereka harapkan dengan mengangsurkan amarah? Agar lega hatinya? Egois sekali! Atau untuk memberi efek jera? Sombong sekali!
Saya mudah sekali terenyuh. Melihat pemulung, selalu membuat saya merasa tidak beguna. Ingin sekali membantu, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Sesekali saya dapat memberi. Tentu hanya sesekali. Suatu hari nanti, ingin sekali dapat membantu mereka sekali saja, namun cukup membuat mereka untuk hidup lebih layak. Terlebih untuk anak-anak kecil dan ibu-ibu yang masih harus menenteng karung di malam hari untuk mencari sesuap nasi.
Saking mudahnya saya terenyuh, sampai-sampai tidak bisa melihat orang kesakitan. Melihat adegan kecelakaan atau mendegar orang yang tertimpa musibah, cukup membuat perut saya mules dan jantung berdebar kencang. Sungguh.
Saya tergila-gila pada perempuan yang pintar tapi rendah hati. Tidak hanya itu, dia juga harus pekerja kerasa dan mengerti cara mempercantik diri. Entah dengan riasan di wajah, wewangian di tubuh, atau sekedar apik dalam berpakaian. Saya rasa itu tidak muluk-muluk karena ibu saya adalah contoh nyatanya.
Apabila ditanya apa cita-cita saya, maka dengan tegas saya jawab: Presiden Indonesia. Lalu bagaimana apabila tidak kesampaian? Saya akan menjadi pelatih sepakbola, Jika tidak kesampaian juga, bagaimana? Saya akan menjadi pengusaha yang sukses dan menulis beberapa buku. Bagaimana jika hal ini tidak kesampaian juga? Tidak mungkin!
Anggara selalu mendapatkan apa yang dia mau. Dia tidak hanya punya tekad yang kuat, tapi juga mempunyai Tuhan yang baik. Oleh karena itulah, dia selalu yakin akan buah manis dari tiap-tiap usahanya.