Aku takjub dengan skenario ini. Dari seperempat abad lebih kita hidup, hanya tiga tahun kita saling bertemu, itupun di saat kita masih hanya mengenal tentang bermain dan teman sepermainan. Tahun 2000 bertemu, tahun 2003 kita berpisah. Tak ada kata perpisahan, aku tiba-tiba saja diajak Tuhan untuk merasakan kelana baru, meninggalkanmu. Kemudian saat dunia digital mulai berkembang, delapan tahun kemudian kita bertegur sapa kembali, rasanya seperti takdir ini diciptakan hanya untuk kita. Tahun 2011 itu sangat menggelikan. Kita bertegur sapa hanya untuk saling mendebat. "Teman macam apa yang pergi tiba-tiba tanpa izin ke teman-temannya?", begitulah kata sambutanmu ketika pertama kali melihatku hadir kembali. Aku tak mengerti apakah itu caramu mengutarakan kekesalan, atau justru perhatian? Tapi seketika kau kujadikan "musuh" karena sikap dinginmu itu. Kita saling mendebat satu sama lain. Kau keras kepala, sedangkan aku tak pernah mau kalah. Kita saling menganggap prinsip kita saling berseberangan. Padahal jika dipikirkan lebih dalam, sesungguhnya kita ada dalam satu kotak idealisme yang sama, hanya berada di sisi yang berseberangan. Tak hanya tentang idealisme saja yang sebetulnya sama, tapi tantang perasaan juga. Tiga tahun setelahnya, tahun 2014, kau membuat sebuah cerita fiksi tentang rasa yang berjarak ratusan kilometer jauhnya. Aku tak mengetahuinya. Begitu sibuk aku dengan duniaku, sehingga aku tak pernah menyadarimu. Kaupun hanya diam berharap aku membaca tiap progres yang kau sampaikan melalui linimasa. Tapi aku tak pernah tahu. Belum tepatnya. Hingga lima tahun kemudian, 2019, aku kembali, betul-betul kembali ke tempat kita pertama bertemu, saat kita hanya mengenal bermain dan teman sepermainan. Tak disangka kini aku yang begitu terobsesi atas masa lalu itu. Dan kau menyebutkan mengenai cerita fiksimu itu saat kau sudah tak peduli denganku. Ah, tak apa. Aku hanya takjub dengan skenario ini. Skenario yang dituliskan hampir seumur hidup kita. Aku penasaran, seperti apa akhir ceritanya?