Beberapa pekan lalu, Elon Musk di platform X resminya menyatakan kalau "money can't buy happiness". Uang ribuan triliun yang ia punya ternyata membuat ia merasa tidak bahagia.
Uang sebanyak itu, kalau ditumpuk kayaknya bisa setinggi gedung pencakar langit. Bayangkan ia punya uang belasan ribu triliun. Tapi uang sebanyak itu, tidak membuatnya bahagia sama sekali.
Lalu kalau uang tidak bisa membuat bahagia, apa sebenarnya yang membuat kita bisa tenang dan bahagia menjalani hidup ini?
Sebagai seorang muslim, saya memandang bahwa cara untuk menjadi bahagia dan tenang menjalani hidup itu cukuplah dua.
Kebahagiaan hanya akan didapatkan saat kita mengingat akhirat
Karena kalau dunia yang dikejar, yang ada hanyalah perasaan tidak pernah puas dan tidak pernah cukup. Sudah dapat ini, mau itu. Sudah beli ini, mau yang baru. Sudah upgrade yang ini, keluar lagi yang baru, mau beli lagi, lagi, dan lagi. Begitu seterusnya. Karena itulah sifat dunia, tak akan pernah puas jika terus dikejar. Makin dikejar, makin jauh, makin tak pernah sampai. Mau, mau, dan mau lagi. Kita sebagai manusialah yang harus menentukan batas, menakar angka cukup, dan mengeremnya.
Ingatlah akhirat. Niscaya kita akan berusaha sebisa mungkin untuk menyeimbangkan perihal urusan dunia dengan urusan akhirat ini.
Harta akan kita letakkan di tangan, bukan di hati. Karena kita paham bahwa harta itu tidak ada apa-apanya dibandingkan amalan. Harta kalau didapat dengan cara halal akan dihisab. Kalau didapat dengan cara haram akan diazab. Berat. Qorun ditenggalamkan Allah pun juga karena harta. Abdurrahman bin Auf pun dihisab paling lama juga karena harta dan kekayaannya.
Kalau di dunia ini kita salah dalam memandang dan memaknai harta, bahaya. Yang terjadi adalah sifat tak pernah puas, menumpuk, dan terus menumpuk.
2. Kebahagiaan akan kita rasakan saat kita punya ilmu agama dan mau belajar agama
Kalau hidup tanpa ilmu agama, ibarat tanah kering nan kerontang. Gersang dan panas. Tapi bayangkan hidup dengan ilmu agama seperti tanah yang luas ditumbuhi pepohonan, hijau, tenang, damai, dan sejuk disepoi angin.
Kalau hidup tanpa ilmu agama, niscaya setiap ujian hidup yang datang terasa berat sekali. Mengeluh. Kenapa begini, kenapa begitu.
Tapi kalau hidup dengan ilmu agama dan mau belajar agama. Niscaya kita punya cara pandang kalau ujian hidup yang datang di dunia ini adalah bagian dari cara Allah menaikkan derajat kita. Ujian yang datang bukti sayang Allah ke kita agar kita bisa kembali lagi mengingat-Nya.
Lihatlah bedanya "wajah" bagaimana orang hidup taat agama dengan jauh dari agama. Lihat juga bagaimana mereka memandang hidup, menyikapi ujian, melewati fase terendah, mendapatkan fase tertinggi, memandang harta, memandang hidup, dll.. akan berbeda bagaimana mereka memandang dan menyikapinya.
Punya harta yang banyak, uang yang bertumpuk-tumpuk, kalau kita jauh dari agama yang akan dirasakan hanyalah spiritual emptiness. Kekosongan spiritual. Kegelisahan. Mungkin kita bisa membeli apa saja karena punya uang yang banyak, tapi kita tidak akan pernah bisa membeli ketenangan & kebahagiaan hidup.
Robi Afrizan (25/02/2026)