Lupa Tilawah
instagram doesn’t really feel like my thing. entah kenapa, selalu lebih enak nulis di sini.
tadi sempat kepikiran mau post ini di ig, tapi ngga jadi-jadi. kayaknya memang ada hal-hal yang lebih cocok ditulis di tumblr.
—
beberapa waktu ke belakang, aku lagi banyak merenung soal tilawah.
tahun ini rasanya beda. ada semacam peningkatan—bukan dalam arti jadi “hebat”, tapi lebih ke… mulai menemukan cara yang lebih cocok.
dan mungkin ini juga ramadan pertama setelah aku tahu kalau aku punya ADHD.
dulu, salah satu struggle terbesar itu simpel tapi bikin frustrasi: lupa.
lupa sudah sampai mana. lupa halaman berapa. lupa terakhir baca kapan.
kadang mushafnya juga ikut “lupa”—tertinggal, atau entah ke mana.
akhirnya yang terjadi berulang: hari ini baca → besok ngulang lagi → lusa ternyata ngulang lagi. bahkan pernah ngulang lebih dari satu juz, bukan cuma satu dua halaman.
dan kalau pembatasnya lepas… ya sudah. reset.
sempat coba beli mushaf kecil biar bisa dibawa ke mana-mana. ternyata… jadi lebih mudah hilang.
sampai rasanya tiap semester beli mushaf baru.
—
tahun ini aku coba pelan-pelan mengubah sistem.
beberapa waktu terakhir lebih sering pakai tablet untuk tilawah. ironis juga sih—gadget justru lebih “aman” daripada mushaf.
karena dijaga. karena dianggap penting.
sedih juga kalau dipikir-pikir.
tapi setidaknya, ini membantu.
masalah lupa jadi sedikit berkurang.
walaupun ada trade-off: mata lebih cepat lelah dibanding baca mushaf fisik.
—
yang cukup membantu ternyata fitur sederhana: bookmark.
aku pakai itu buat nandain terakhir baca sampai mana. jadi tidak perlu lagi mengandalkan ingatan yang… ya, sering tidak bisa diandalkan.
kadang juga tetap ditandem sama mushaf biasa. jadi tabletnya lebih ke alat pencatatan.
—
aku juga sadar mungkin belum pakai fitur-fitur yang ada secara maksimal. tapi sejauh ini, perubahan kecil ini sudah cukup berarti.
bukan jadi sempurna. tapi jadi lebih mungkin untuk lanjut.
dan mungkin itu yang paling penting sekarang: bukan seberapa banyak, tapi bagaimana supaya tetap berjalan.
—
kalau dipikir lagi, mungkin ini bukan soal “kurang menjaga mushaf”.
tapi tentang belajar menjaga hubungan— dengan cara yang realistis, dengan kondisi diri sendiri.
dan tahun ini, rasanya hubungan itu sedikit lebih terjaga.















