Diri sendiri bisa menjadi musuh dan teman karib. Aku sadari. Saat ini diriku menjadi musuh. Musuh yang tak memberi kata maaf. Dia tinggalkanku. Lalu mengapa diri ini masih menunggunya? Menunggu cinta terlarang.
Aku hanyalah kutu bagi mereka. Dia pergi tanpa kesan dan menggores sayat luka. Sakit tapi tak sampai merajut. Bodoh. Tentu saja. Hati tersayat hilang seketika bertemunya. Tanpa maaf menjauh lagi. Ingatanku seolah hilang timbul akan dia. Aku tak mengerti.
Pupus harapku dengannya. Aku berteduh dalam patah kenangan. Menggenggam jemari menapaki ruang. Aku mati. Pembunuhan kasih mengusik hidupku.
“Aku milikmu. Sisi lainku tak pantas bersamamu. Menapaki ruang dalam detik bukanlah milik kita. Menggenggam dan berdayu dalam senja memanjakan rindu sendu.” katamu.
Dibawah lampion, kau patahkan anganku. Menyingkirkanku dalam lautan. Menari-nari bersamanya. Salah apakah aku? Tendangan dahsyatmu menggores luka.
Kini, apa yang kutunggu? Apa yang mempertahankanku? Bodoh. Sangatlah bodoh. Derai tangis adalah musuhku.
.
.
-Maul_MK
#3












