Tak Sempat Jadi Kita
aku masih ingat hari pertama menatapnya bukan karena ada hal istimewa, tapi karena ia begitu biasa. ia datang dengan tawa yang ringan, seolah dunia tidak sedang terbakar di luar sana. kami bicara seperlunya, lalu entah bagaimana, percakapan sederhana itu berubah jadi begitu menyenangkan.
hari selanjutnya terasa lebih ramai. ada pesan singkat setiap pagi, obrolan kecil tentang kopi yang terlalu pahit, tentang tugas yang menumpuk, tentang lelah yang kami pura-pura kuatkan. tak ada janji, tak ada kata “sayang”, tapi entah kapan… ada sesuatu yang tumbuh diam-diam diantara jeda percakapan itu. sesuatu yang tidak berani kami beri nama.
aku mulai hafal caranya tertawa. ia mulai tahu kapan aku sedang bersandiwara baik-baik saja. kami saling menemukan ketenangan yang aneh… tenang karena merasa dekat, tapi juga takut karena tahu jarak itu rapuh.
lalu waktu berjalan dengan caranya yang kejam. perlahan, kami mulai berbicara lebih jarang. dia mulai sibuk, aku mulai belajar untuk tak menunggu. tak ada perpisahan resmi, tak ada akhir yang dramatis. hanya dua orang yang berhenti di tengah jalan, tanpa sempat mengatakan bahwa mereka saling menyukai.
sekarang, setiap kali mengingatnya, aku tidak lagi sedih. ada rasa hangat namun tak jelas, seperti sisa mentari sore yang memantul di jendela kamar. ia pernah ada bukan untuk dimiliki, tapi untuk mengajarkan bahwa beberapa perasaan memang diciptakan hanya untuk dirasakan.
mungkin, itu juga bentuk paling tulus dari cinta: yang tak sampai, tapi tetap tinggal di hati.












