“Bergerak atau tergantikan!”
Ungkapan itu dilontarkan oleh temanku di suatu waktu dalam majelis ilmu. Entah kenapa tiga kata sederhana itu tidak memberi efek yang sederhana pada telingaku. Kata-kata itu seperti menghentak perasaan, sukses membuatku merasa menjadi tersangka. Posisiku terancam.
Pasalnya, jika di jalan ini hanya ada dua pilihan : bergerak atau tergantikan (tidak ada istirahat atau main atau selfie dulu gitu) maka kutegaskan sekali lagi, posisiku terancam. Dimana posisiku memangnya?
Aku merasa tidak bergerak, atau mungkin merangkak limit nol atau jangan-jangan mulai mundur, naudzubillah. Aku pun ragu untuk menyatakan bahwa aku tengah bergerak, karena pemandangan yang kulihat hanya itu-itu saja dari kemarin, perasaanku begitu-begitu saja dari yang lalu pun semangatku, seperti kehabisan suluh.
Jadi, jika aku bukan seorang yang bergerak maka layaklah aku seorang yang tergantikan. Seperti seorang peserta lomba marathon yang keluar arena atau peserta uji nyali yang melambaikan tangan ke kamera atau bahkan digantikan saat tanding tarik tambang di komplek rumah karena aku terlalu lemah sedang telah datang orang yang jauh lebih kuat.
“Bergerak atau tergantikan!”
Nyatanya aku takut. Aku takut menjadi seorang yang tergantikan. Saking lemah dan tidak berguna bahkan menyulitkan lancarnya jalan ini atau yang lebih menyedihkan: penghambat kemenangan. Aku ternyata tidak mau. Tidak mau menjadi yang tergantikan.
“Bergerak atau tergantikan!”
Oleh karena itu,
tiada pilihan bagiku selain bergerak,
meski merangkak,
meski terasa sesak,
meski sulit menjejak,
meski banyak terdesak,
meski semangat masih terserak.
Karena aku yakin:
ketakutan ini akan jauh lebih kusyukuri,
perjalanan ini akan jauh lebih kunikmati,
kebaikan ini takkan pernah kusesali,
dan perjuangan disini akan sangat berarti,
untuk masa-masa yang akan dihadapi nanti.


















