ServerForestÂ
Stop on details.
Listen to nature.
Love your h/earth.
My experience can be yours:)
Support me on Youtube with your Like!
seen from Mexico

seen from Malaysia

seen from TĂźrkiye
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Portugal

seen from Spain
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Spain
seen from United States
ServerForestÂ
Stop on details.
Listen to nature.
Love your h/earth.
My experience can be yours:)
Support me on Youtube with your Like!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
#selfexperience https://www.instagram.com/p/CAXHhwMgp3xs-0IWyfguclz3CbHdtPeA3wWjxY0/?igshid=1hj3j0opgqsh7
They say: You're not supposed to look at the solar eclipse! Do not eat or drink! Stay indoor! But a seeker doesn't conclude by listening, reading or watching. A seeker concludes only by: self-exploration... self-experiment... self-experience... and self-realization... Nothing else will make a seeker settle down. #yoga #vriksasana (tree pose) #selfexploration #selfexperiment #selfexperience #selfrealization #solareclipse Photo credits: @aaron87thomas https://www.instagram.com/p/B6iUYYTlAU2/?igshid=191l9i29d3sk6
#becoming #evolve #selfexperience #selfempowerment #selfconfidence #selfhealing #impact #you (at Palm Harbor, Florida) https://www.instagram.com/p/B5fc_elpZne/?igshid=i49tbncon4fw
Apes are shown to rely on self-experience to anticipate others' actions
Apes are shown to rely on self-experience to anticipate othersâ actions
[ad_1]
Credit: CC0 Public Domain
As close evolutionary relatives, you could say that great apes and humans look somewhat similar. And the more we learn about our great ape cousins, the more we find that weâre alike.
A new study published in PNASsuggests that great apesâincluding chimpanzees, bonobos and orangutansâhave a theory of mind, meaning thatâŚ
View On WordPress

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
WRITING âđť THERAPY đ¤ When everything else fails, your pen works the best!" when our pen starts working at its best..all our failures turn in to great experiences and wonderful lessons!!đ #GiveitATry #PourYourEmotions #SelfExperience www.drpnagaraj.com (at Chennai, India) https://www.instagram.com/p/B0N3WfAgDlC/?igshid=17fg08yzab0xg
Subjectivity
Subjectivity is a philosophical topic, specific to each person and involves a persons view of âtruth or realityâ. Each individual varies in what things mean to them on an emotional level. Subjectivity is based on ones own conscious experiences, and comes from the internal.
An individual is influenced by their own perception and this has to do with their individual identity.
Subjectivity is the opposite of objectivity, and to be authentic is to âknow thyselfâ, a quote from Sophocles.Â
To be âtrue to oneselfâ, as stated by Shakespeare, one must focus on what truth is to them. Personal judgement is considered extremely important as opposed to an objectively neutral response. The perspective of possessing an influenced âview from the outsideâ opposed to subjectively âa view from the insideâ can be difficult to maintain, based on what others may say within a prescribed group.
Memories, for example, are subjective as they are based on our feelings and are intentionally perceived as oneâs true opinion. They are however open to interpretation as there exists an opposed view to outside influences being relied upon to determine how we think, value and feel about issues.
https://www.rep.routledge.com/articles/thematic/subjectivity/v-1
https://en.wikipedia.org/wiki/Subjectivity
https://www.vocabulary.com/dictionary/subjectivity
https://www.brown.edu/Departments/Joukowsky_Institute/courses/13things/7260.html
https://www.google.com/search?q=subjectivity+images&tbm=isch&source=univ&sa=X&ved=2ahUKEwjcgMriyJLhAhV873MBHcd-A0QQ7Al6BAgJEBE&biw=1086&bih=426
https://www.google.com/search?q=know+thyself&oq=know+thyself&aqs=chrome..69i57j0l5.6793j0j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8
https://www.google.com/search?q=to+thine+own+self+be+true&oq=to+thine+own+self+be+true&aqs=chrome.0.69i59j69i60j0l4.8633j0j9&sourceid=chrome&ie=UTF-8
https://www.vocabulary.com/articles/chooseyourwords/objective-subjective/
Tertantang!
Kisah ini sejatinya sudah dimulai sejak aku masih di semester 2. Waktu itu, aku sedikit bebal mendengar perdebatan dua kakak tingkat satu atapku. Mereka berdebat cukup panas, hampir-hampir aku tak mengenali mereka. Karena yang kutahu, sosok mereka itu lembut, anggun, teduh. Tapi samasekali berbeda ketika mereka sedang adu pendapat. Tentang apa mereka berdebat? SKRIPSI. Yang jadi sahabatku hari ini.
âKenapa kamu ambil topik itu? Di mana nilai kebermanfaatannya? Topikmu terlalu individualis, kalaupun hasilnya oke, manfaatnya cuma kamu yang ambil. Masyarakat tidak menerima apapun.â
Ini kalimat terpanas dari salah satu diantara mereka. Seketika otakku ikut memanas. Aku lupakan perdebatan mereka, dan berpikir. Benar juga ya. Sesuatu yang kita usahakan memang sangat layak dan sangat harus berdampak positif untuk orang lain. Apalagi, aku menyandang kata âmahaâ sekarang, yang hidup dibiayai negara.
Aku seperti terdoktrin.
Berlalulah kejadian itu, dan sampailah aku di semester 6 di saat satu persatu temanku memulai seminar proposal. Aku menghargai setiap alasan dibalik kecepatan teman-teman mengejar toga. Aku sendiri masih belum menyentuh sedikitpun. Tiap ditanya orang alasannya klise, âAku sedang ada dalam project PKM yang sangat menyita waktuâ. Padahal alasan sebenarnya adalah..
âAku belum menemukan topik yang istimewa untuk benar-benar aku santap dengan lahap.Yang membawa nilai manfaat juga nilai dakwah. Aku tak sekedar ingin lulus dengan penelitian ala kadarnya. Aku malas menjadi sama dengan kebanyakan. I dare to be different. Meskipun kadang gagal. No problem.â
Yang dicetak tebal adalah standarku.
Biar saja orang menilai aku terlalu santai. Ada yang ikut menyemangati, ada yang menanyai terus-menerus.
And loudly I said âEveryone has their own timeline! Just enjoy your amazing wayâ
Yang jelas aku tidak leha-leha. Meski kuakui banyak tidurnya. And finally, awal semester 8, aku baru benar-benar menemukan topik yang sesuai dengan impian. Rasanya seperti menemukan jodoh setelah menanti lama (?) Klise. Hahaha
Topiknya tak jauh-jauh dari project PKM kemarin. Masih seputar santri, pesantren, dan remaja. Di sini aku merasakan kasih sayang Allah yang sungguh merasuk sampai nadi. Di saat aku terlihat âterlambatâ, tapi aku dibimbing oleh dosen yang juga jadi pembimbing PKM ku dan dosen waliku. Itu artinya aku tak perlu beradaptasi dan lebih bisa santai dalam berkomunikasi dengan beliau. Sejujurnya aku pernah putus asa dan mulai mengajukan judul yang amat sangat biasa, karena aku sudah sangat ingin segera lulus (waktu itu). Benar saja, dosenku menolak judul itu. Alasannya apa?
âSaya ingin anak bimbing saya mengerjakan skripsi bukan yang sekedar mengejar ingin lulus. Saya ingin skripsi kamu ini justru bisa jadi modal besar dan nilai tambah nanti ketika masuk dunia kerja. Atau saya berharap skripsi ini bisa dipublikasikan ke seminar internasional. Saya berpikir jauh ke sana. Tapi kalau kamu mau segera lulus ya saya bisa-bisa saja menerima judul ituâÂ
âKalau mereka (dua temanku yang juga sedang bimbingan) berani membuat skripsi yang hebat, kamu juga harus menghasilkan karya yang hebat, Tan.â
Kalimat terakhir dari Pak Dosen menyihirku. Akhirnya aku mengajukan judul lain yang sejujurnya hanya terlintas barangkali sedetik dalam otakku. And he was very interest with it, acceptance detected. Itâs okay! Arah kemudi harus diputar 180 derajat.
Meskipun dengan judul baru itu, aku harus keliling 4 kota untuk mencari pesantren yang benar-benar sesuai kriteriaku dan dosenku.
Lalu?
Ya, tulisan ini aku beri judul TERTANTANG. Tapi di mana letak tantangannya?
Di sini! Biar aku ceritakan.
Aku mengambil variabel tentang dua jenis puasa yang sering diterapkan di pesantren. Subjeknya santriwati remaja. Variabel puasanya, yang satu puasa sunnah yang memang berdalil shohih. Bahkan merupakan puasa yang paling dicintai Allah. Sedangkan satunya, adalah puasa yang sudah sangat mendarah daging di kalangan santri. Tapi sayang, puasa ini bukan termasuk dalam ajaran Islam. (Are you ever heard about bidâah? IYKWIM)
Letak tantangannya adalah, bagaimana aku harus menggali dan menemukan data dan fakta-fakta dengan sebaik-baiknya. Tanpa rekayasa. Sampai aku mendapatkan hasil penelitian yang berharga bak permata. Selain itu belum ada judul penelitian seperti ini sebelumnya, maka aku tertantang untuk benar-benar menyusun skripsi ini sebaik-baiknya.
Aku sangat berharap hasil penelitianku nantinya akan menghasilkan data yang membuat semua orang sadar bahwa puasa yang Rasulullah perintahkan memang berdampak baik pada kesehatan manusia, sedangkan yang tidak Rasulullah perintahkan have no impact/maybe have a bad effect buat kesehatan manusia, terkhusus remaja putri.
Sehingga, sadar atau tidak sadar penelitian ini bisa jadi dakwahku. Â When itâs published, semua orang akan mengerti dan mulai meninggalkan puasa-puasa yang bukan sunnah Rasulullah itu. Dan beralih pada puasa-puasa yang memang shohih ada dalil dan dicontohkan Rasulullah.
Soal jadi nilai tambah di dunia kerja atau dapat dipublikasikan di seminar internasional, itu bonus.
Yang jelas ini bukan untuk memecah belah. Tetapi aku merasa berkewajiban untuk menyampaikan sesuatu yang aku yakini benar.
Maka, hari ini dan seterusnya aku benar-benar tertantang! Aku berharap dan bergantung pada Allah, karena aku yakin seratus persen yakin, Allah yang akan membukakan jalan itu. Memudahkan langkah dan itikad baikku untuk menolong agamaNya. InsyaAllah (aku mohon ikut aminkan ya?)
Akhirnya aku harus sadar, segala peluh dalam usahaku menyelesaikan skripsi ini tidak akan bermakna jika tidak dibersamai dengan kepasrahan sampai titik pasrah terendah yang mampu aku persembahkan sebagai seorang hamba untuk Tuhannya.
Bukankah setiap kegiatan akan lebih berharga jika memiliki nilai ibadah?
Wallahu aâlam
Inilah kisah skripsi dari si miskin ilmu.
Semarang, di penghujung Bulan Maret. Lima belas menit menuju April.