60 Hari dari Desa Kramat: #1
Kusebut ini adalah perjalanan menjemput cinta selama 60 hari di sebuah desa bernama Kramat.
Kusebut ini adalah cara yang memang sudah ditakdirkan Allah selain merupakan bagian dari salah satu tridarma perguruan tinggi, yaitu belajar untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.
Dan kusebut ini adalah salah satu cara untuk bertemu dengan orang-orang hebat dan luar biasa, yang walaupun dari kesederhanaan dan keterbatasan mereka, mereka justru memotivasi diri ini.
Maka, foto dan tulisan perdana ini adalah pengawal perjalanan cinta ini dan dari desa bernama Kramat aku akan bercerita selama 60 hari ke depan.
PPL-T adalah salah satu rute wajib yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk sampai pada tujuan, menjemput toga wisudah dan gelar sarjana. Maka, bila sudah dikatakan wajib, tak akan ada jalan pintas lain yang bisa dilalui selain jalan bernama PPL-T ini. Untuk kami anak fakultas tarbiyah di IAIN Sultan Amai Gorontalo, kami hanya melalui satu agenda pengabdian yang pada fakultas dan universitas lain dibagi menjadi dua, yaitu KKN dan PPL. KKN untuk pengabdian kepada masyarakat desa dan PPL terkhusus untuk sekolah. Tetapi, kami digabung menjadi satu dalam kurun waktu dua bulan PPL-T (Praktik Pengalaman Lapangan Terpadu) yangmana sekolah dan desa disatupadukan, 50% 50%. Maka, kami mempunyai tugas untuk desa dan kepada sekolah.
Dan PPL-T tahun 2017 ini kami, hampir tujuh ratus mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di IAIN Sultan Amai Gorontalo di sebar di kurang lebih 60 desa di kabupaten Kota Gorontalo dan kabupaten Bone Bolango. Ada yang di kecamatan Botupingge, Bolango Timur dan sebagainya. Sedangkan saya dan sembilan orang teman sekolompok saya diutus atas nama kampus tercinta ke desa Kramat salah satu dari enam desa di kecamatan Tapa, kabupaten Bone Bolango.
Tepat jum`at, 13 oktober 2017 kami dengan diantar oleh pembimbing desa masing-masing ke sebuah kantor di pingiran kanan lapangan hijau kecamatan. Kantor itu bernama kantor kecamatan Tapa. Kami disambut oleh bapak camat dan aparat desa lainnya. Sudah diatur dengan rapi tempat duduk untuk kami dan pembimbing kami. Kami disambut sehangat dan seramah-ramahnya oleh mereka.
Desa kami bukan merupakan desa yang begitu tertinggal, baik dari pendidikan, ekonomi maupun teknologi. Akses desa juga sangat bagus, jalanan hampir seluruhnya sudah teraspal dan perkara jaringan terutama internet juga sudah tidak ada masalah lagi. Jadi untuk bersua dengan para penduduk desa Kramat, kami tak perlu menyebrang sungai-sungai bebatuan atau melewati jalanan pegunungan berlika-liku dan berbelok-belok demi ke sebuah desa di balik gunung. Kami tak perlu berperang dengan jaringan di desa.
Semoga itu adalah cara Allah untuk semakin memudahkan kami dalam bertugas. Membuat kami kelak tak banyak beralasan untuk berleha-leha karena ini dan itu, padahal Allah sudah mengutus kami ke daerah yang segalanya sudah cukup memadai dan sangat baik.
Dan semoga, kehangatan dari masyarakat akan selalu kami rasakan hingga pulang kelak, kami bawa cinta yang terbalut kehangat ukhuwah dari desa bernama Kramat. Melengkapi perjalanan kami menjemput toga.
Dari desa Kramat, Oktober 2017
Tulisan ini merupakan salah satu dari rangakain menulis #60HariDariDesaKramat yang saya tuliskan selama 60 hari waktu PPL-T2017 dengan tema bebas. setiap tiga hari sekali, in syaa Allah tulisan-tulisan ini akan diposting di tulisansyindi.tumblr.com pada pukul 22.00 WITA.

















