Northern Light over Pukaskwa National Park - Ontario, Canada

seen from Italy
seen from Brazil

seen from Spain
seen from United States

seen from T1
seen from China
seen from China
seen from Hong Kong SAR China

seen from Switzerland
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from T1

seen from Spain
seen from Türkiye

seen from Switzerland
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Spain
Northern Light over Pukaskwa National Park - Ontario, Canada

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Roti Widoro adalah satu olahan kue dengan citarasa tempo dulu atau klasik yang sudah sangat melegenda hingga sekarang. Dinamakan Roti Widoro, karena olahan kue atau roti ini hanya bisa dijumpai di wilayah Sukoharjo tepatnya di desa Widoro.
Resep olahan Roti Widoro kini sudah diturunkan sekitar 4 generasi, sejak tahun 1922 oleh sang penemu resep yaitu mbah Wongsodinomo yang merupakan salah satu juru masak Keraton Kasunanan Surakarta. Salah satu keunikan dari Roti Widoro adalah komposisi bahannya yang masih dipertahankan dan dijaga kualitasnya sejak pertama kali ditemukan hingga sekarang.
Meski Roti Widoro menggunakan tepung terigu sebagai bahan dasar adonannya, namun Roti Widoro tidak menggunakan mentega serta pengembang seperti olahan roti lainnya. Selain itu Roti Widoro menggunakan telur bebek dan gula pasir dengan jumlah yang cukup banyak pada adonannya. adonan roti legendaris ini juga menggunakan parutan kulit jeruk purut sebagai aromanya.
Keunikan lainnya pada olahan roti dari rumah produksi yang berlokasi di perlintasan jalan utama Wonogiri - Sukoharjo ini, yaitu terletak pada signature berupa tulisan tangan “Roti Widoro” yang terbuat dari adonan gula serta putih telur yang menjadi ciri khas atau identitas pada olahan roti bercitarasa manis yang penuh nilai historis ini.
Jauh dari Ekspresi Otentik
Alkisah, ada seorang Syaikh muda bernama Ismail yang sangat ingin menjadi "autentik." Dia membaca semua buku tentang itu, merenungkan maknanya di bawah pohon jambu, dan bahkan mencoba meniru ekspresi wajah para ulama tua yang bijaksana. Suatu pagi, dia mendekati gurunya yang bijak, Maulana namanya.
"Maulana," kata Ismail dengan suara yang dia latih agar terdengar dalam dan penuh penderitaan eksistensial, "aku merasa sangat jauh dari ekspresi otentik diriku. Aku terus-menerus memakai topeng, menyembunyikan siapa aku sebenarnya dari dunia!"
Maulana, yang sedang sibuk mengupil dengan penuh perhatian, mendongak. "Oh, benarkah?" tanyanya, matanya berbinar nakal. "Dan topeng apa yang sedang kau pakai sekarang, Ismail?"
Ismail terdiam. Dia melihat ke bawah pada jubahnya yang baru disetrika, jenggotnya yang dia rapikan dengan hati-hati, dan ekspresi "mencari kebenaran" yang dia pasang di wajahnya. Tiba-tiba, dia menyadari betapa kerasnya dia berusaha untuk terlihat otentik, sehingga dia menjadi tidak otentik.
Maulana tertawa terbahak-bahak, tawanya seperti gemuruh guntur yang diikuti oleh hujan tawa. "Mail , Ismail! Kamu terlalu sibuk mencoba menjadi 'otentik' sehingga kamu melupakan dirimu sendiri. Otentisitas itu seperti napas. Kamu tidak perlu mencoba bernapas; kamu hanya bernapas. Saat kamu mencoba terlalu keras, kamu justru tercekik!"
"Tapi Maulana," kata Ismail, masih sedikit bingung, "bagaimana aku tahu kapan aku benar-benar otentik?"
Maulana mengedikkan bahu. "Kamu tidak akan pernah tahu, Ismail. Dan itu keindahannya! Saat kau tidak lagi memikirkan apakah dirimu otentik atau tidak, saat itulah kamu mungkin sedang menjadi dirimu sendiri. Seperti seekor keledai yang tidak pernah bertanya apakah dia 'otentik' sebagai keledai. Dia hanya makan rumput, meringkik, dan sesekali menendang tanpa peringatan!"
Ismail merenung sejenak, lalu sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya. "Jadi," katanya, "intinya adalah berhenti mencoba dan biarkan saja?"
"Persis!" kata Maulana. "Atau, seperti yang dikatakan penyair: 'Jika kamu terlalu sibuk mencoba menjadi bunga mawar, kamu mungkin akan melewatkan keindahan menjadi kaktus yang berduri tapi berguna untuk menampung air di gurun pasir.'
Dan begitulah, Ismail belajar bahwa terkadang, untuk menjadi diri sendiri, kita hanya perlu berhenti berusaha terlalu keras.
Makin Otentik Pakai Batik: Perayaan Kekayaan Budaya di Novotel Lampung
Lampung, 2 Oktober 2024 – Dalam rangka melestarikan dan merayakan kekayaan budaya Indonesia, Novotel Lampung bekerja sama dengan Batik Bule menggelar acara “Makin Otentik Pakai Batik” yang dikemas dalam KarnavALL Batik Indonesia sebagai program tahunan Accor Group. Acara ini berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Oktober 2024 di lobby Novotel Lampung. Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta…
Menjadi Pribadi yang Otentik
Photo by Brett Jordan on Unsplash
Di era sosial media seperti saat ini, dimana informasi mengalir begitu deras, satu tren berganti dengan yang lain dalam waktu yang singkat, popularitas seseorang bisa naik dan hilang dalam sekejap, yang tadinya terlihat keren, dalam waktu singkat bisa menjadi norak. Hujan informasi tersebut yang sering membuat seseorang terbawa arus dan lupa pada dirinya sendiri, kekhasan atau keunikan dirinya sendiri. Belakangan sering sekali kita mendengar istilah "FOMO" atau "Fear of Missing Out", takut ketinggalan, misalkan ada seorang pesohor memiliki A, kita jadi merasa ketinggalan kalau tidak memiliki A, padahal kalau kita melihat lebih dalam, kondisi diri kita dan sang pesohor tidak sama, mengapa kita harus ikut-ikutan?
Tulisan kali ini ingin saya tujukan sebagai pengingat juga untuk diri saya sendiri, ditengah serbuan informasi yang ada, apakah dimasa ini setiap orang harus bergerak kearah mayoritas berada untuk mendapatkan cap "Normal" ?, karena belakangan banyak terdengar peristiwa yang tidak normal, dimulai dari akan diadakannya sebuah konser besar, ada yang rela berbondong-bondong meminjam uang ke layanan pinjol, bukan layanan tersebut buruk, tapi kesadaran akan resiko dari sebuah pinjaman untuk sesuatu yang konsumtif dan hanya ikut-ikutan agar mendapatkan label "Normal" atau "Gaul" inilah yang mengkhawatirkan, tidak memahami kondisi diri dan seperti tidak memiliki pendirian. Menjadi seseorang yang otentik artinya kita bisa menunjukkan sisi diri kita apa adanya, memiliki sikap hidup kita sendiri dan tidak ikut-ikutan sekedar untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Mengikuti orang lain mungkin menjadi jalan pintas untuk menjadi "seperti" orang lain tersebut dalam waktu singkat, atau mendapatkan pengakuan seperti yang didapatkan oleh orang lain tersebut karena hal yang dia miliki atau lakukan, tapi lagi-lagi kondisi diri kita, kondisi lingkungan, latar belakang dan lain sebagainya tentu tidak sama, belum tentu sosok yang kita tuju tersebut sejalan dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan, mungkin dengan berusaha menjadi sosok yang kita idamkan, kita bisa secara instan mendapatkan pengakuan dari orang sekitar, tapi apakah dalam hidup kita hanya memerlukan pengakuan? dan apakah dalam hidup tidak ada cara lain selain berusaha "ikut-ikutan" untuk mencapai "pengakuan" tadi? Mungkin yang sebenarnya kita butuhkan adalah waktu sendiri dan berhenti sejenak untuk melihat ke dalam diri kita tentang apa yang sebetulnya kita butuhkan.
Setelah mengetahui yang kita butuhkan, keadaan diri dan kondisi yang ada, saatnya kita memiliki sikap dalam menjalani kehidupan ini, dengan memiliki sikap, kita tidak selalu harus mengikuti kemana orang lain melangkah, karena bisa jadi tujuan hidup kita memang berbeda, mungkin disaat orang lain berlari, kita bisa berjalan atau berhenti, karena kita mengetahui apa yang sebetulnya diri kita butuhkan saat itu. Dengan memiliki sikap tersebut, secara otomatis hidup kita pun juga dalam kendali diri kita sendiri, tidak lagi langkah hidup kita dikendalikan oleh perasaan "FOMO", karena memang kita tidak perlu mengikuti orang lain untuk menjadi keren, tetapi saat kita bisa memiliki sikap terhadap kehidupan inilah, kita menjadi manusia yang keren.
Menjadi Otentik atau memiliki sikap hidup sendiri mungkin memiliki berbagai resiko, mungkin kita dicap "aneh" karena berbeda, sejak awal memang tidak ada individu yang sama, kebutuhan, kondisi kita berbeda, maka sangat wajar apabila saat banyak orang mengarah ke suatu titik, kita memiliki titik berbeda untuk dituju, mungkin kita akan merasa "sendirian" karena pilihan hidup kita, akan tetapi disaatnya nanti, mungkin kita akan bertemu dengan "Teman baru", mungkin bisa kita gambarkan dalam skenario sebuah perjalanan, terkadang memang dalam perjalanan kita bertemu jalan bercabang, saat kita memutuskan untuk berjalan kearah yang berbeda dengan orang lain, kita akan terpisah, akan tetapi kita mungkin bisa melihat sesuatu yang baru yang tidak dilihat oleh orang-orang banyak yang berbeda arah dengan kita, namun jikalau dalam perjalanan kita memiliki peta dan kompas sebagai penunjuk arah, dalam hidup kita perlu bercermin ke dalam diri kita dan biarkan diri kita yang menuntun langkah hidup kita kearah yang kita tuju.
Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan merenung dan bermanfaat.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
oTentik
Riding mountain national park
Manitoba, Canada
The Crowd
Kemarin abis baca tentang Eksistensi Manusia menurut Syekh Søren Aabye Kierkegaard. Syekh jare? Hhaha.. btw si Kierkegaard itu filsuf sekaligus teolog dari Denmark 😅
Jadi begini....
Dalam cermatan Kierkegaard problem besar manusia adalah The Crowd ~ Kerumunan. Hidup kita itu hidup yang massing of society, kita hidup dalam dunia hari ini namanya Trend. Kita hidup dengan logika mayoritas orang. Kita tidak memahami diri kita sendiri, kita hanya ikut apa yang terjadi di sekeliling kita. Itulah yang disebut The Crowd ~ Kerumunan, jadi indivitualitas kita ilang.
Saat ini kita hidup jadi manusia modern, lebih tepatnya kalau katanya Kierkegaard yaitu Makhluk Anonim, artinya ndak punya identitas. Kita diombang-ombangkan oleh para ahli dan para tokoh yang gagasan-gagasan mereka membuat semua orang terpesona, lalu kita ikut terlena karenanya. Kita jadi ndak otentik.
Jadi, coba kita kembali cermati lagi ya. Modus hidup kita selama ini itu apa? Mana yang otentik keinginan kita sendiri? Mana yang pengaruh dari kerumunan masyarakat kita? Let we see, as simple around you lah cobak ~ mulai merk baju, merk sepatu, merk laptop, model HP, tempat nongki, warung langganan, dan macem-macem, coba dicermati itu kerumunan atau otentik.
So far, orang modern ndak bisa jadi dirinya sendiri, yang ada selalu identitas-identitas kerumunan. Sekarang aku punya identitas baru, ASN Kemenperin. Ya, itukan identitas-identitas kerumunan, yang membuat diri ku sendiri ndak otentik, membuat diri seolah terlalu banyak lapisan, terlalu banyak topeng, akhirnya aku yang susah memahami diri ku sendiri. Karepe pie, aku yo gak eruh dan gak iso jawab.
Misal....
Kalau ada orang tanya, “kamu ini tipe manusia yang kayak gimana sih?”. Jelas aku bakal kesulitan untuk menjawab. Kenapa? Karena banyak topeng selama ini. Terlalu banyak institusi, terlalu banyak lembaga, itu masalah! Aku jadi manusia yang in-otentik, aku ndak otentik, ada problem otentisitas.
Jadi, apa sih in-otentik itu? Yaitu segala yang muncul ketika karakter dan kebutuh individu diabaikan, diingkari, dikaburkan, diruwet-ruwetkan dibawah institusi-insitusi. Terkadang kita emoh melakukan itu, tapi institusi tempat kita bernaung menyuruh kita begitu, terpaksa deh kalian lakukan. Itu menunjukkan kita ndak otentik. Kalau otentik yaaaa apa mau kita, kata hati nurani kita, itu otentik.
Wahai manusia modern~ problem kerumunan lah yang membuat kalian ndak otentik.
Wis ngunu ae, no comment needed.
O.T.E.N.T.I.K. Dunia FRAME, Suatu hal yang tak sepenuhnya baru, Namun kembali berjaya di dunia dewasa ini. Dunia FRAME, Dapat didesign dan dimanipulasi, Dengan tujuan sesuai keinginan dan kebutuhan. Dunia Frame, Tak jarang menyeret manusia, Seperti aliran air sungai, Di hulu air mengalir sangat deras, cepat, dan tak mudah dibendung, Di hilir air nampaknya tenang dan tak deras, Tapi sebaliknya di dasar sungai, Aliran air sangat kuat menyeret dan menghanyutkan, hampir tanpa harapan. Dunia FRAME, Membawa kita pada tegangan Untuk beradan dan bergulat Antara “Kenyataan Real” vs “Kenyataan Komersil” Akhirnya keputusan dan keberanian diri menjadi kunci dan dasar menjadi manusia yang otentik. #photographyiphone #otentik #quoteoftheday #frontroom #visitbali #tanahlot #wonderfulindonesia #jesuitquote #behumble #amdg https://www.instagram.com/p/B9uhDVqnKyB/?igshid=lgsh94ho758d