
seen from Australia
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Spain
seen from China
seen from Netherlands

seen from United States
seen from China
seen from Netherlands
seen from China
seen from Russia
seen from China
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Nepal
seen from China
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United Kingdom

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
SETIAP ORANG PUNYA JALAN HIDUP SENDIRI
Abu Sa'id al-Khudri berkata, "Rasulullah salat Asar bersama kami. Setelah itu, beliau berdiri dan berkhotbah. Beliau tidak pernah menyerukan sesuatu hingga hari kiamat, kecuali menyampaikannya kepada kami. Sebagian ada yang menghafal, sebagian lagi ada yang lupa. Di antara yang kami hafalkan pada saat itu:
'Ketahuilah, sesungguhnya keturunan Adam itu diciptakan bermacam-macam. Sebagian dari mereka ada yang sebelum dilahirkan dalam keadaan mukmin, hidup sebagai mukmin, dan mati sebagai mukmin. Di antara mereka ada pula yang dilahirkan dalam keadaan mukmin, hidup sebagai mukmin, tetapi mati sebagai kafir. Dan, di antara mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup sebagai kafir, tetapi mati sebagai mukmin. Dan, di antara mereka ada yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup sebagai kafir, dan mati pun sebagai kafir.'
PENDETA YANG DALAM KEADAAN MUSLIM
Ahmad bin al-Jiwar berkata, "Aku berada di dekat seorang pendeta, sesaat sebelum ia meninggal dunia. Aku katakan kepadanya, 'Bagaimana kami memandangmu?' Ia berkata, 'Wahai Ahmad, bagaimana engkau mamandang keadaan seseorang Yang menjelang kematian, dicekam ketakutan seorang diri di Liang lahat dan hanya menggadaikan amalnya. Tidak ada yang membuatnya tenang selain itu, tidak pula membuatnya terhibur selain itu. Namun, ia khawatir amalnya seperti buih yang berserakan. Maka, seburuk-buruk rumah adalah rumahnya. Seburuk-buruk tempat tinggal adalah tempat tinggalnya.'"
Setelah berkata demikian, ia menangis hingga membasahi jenggotnya. Aku katakan, "Berislamlah, niscaya engkau akan selamat. Dan, engkau akan mendapatkan akhir Yang terpuji. Engkau tidak akan menyesal." Ia berkata, "Aku memegang agama al-Masih. Bukankah al-Masih itu seorang muslim, yang mendapatkan berita gembira kerasulan Muhammad, maka, aku bersaksi seperti Yang dipersaksikan al-Masih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang patut disembah melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu hamba dan rasul-Nya. Dan, aku bersaksi bahwa agamanya itulah yang benar." Aku katakan, "Dia termasuk golongan orang Yang dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup sebagai kafir, tetapi mati sebagai mukmin Segala puji bagi Allah atas Islam."
KEUTAMAAN MENCINTAI ORANG MİSKİN
Anas berkata, Rasulullah bersabda, "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikan akü dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku bersama golongan orang-orang miskin.” Anas berkata, "Aisyah berkata, 'Mengapa demikian, wahai Rasulullah?' Rasulullah bersabda, 'Mereka maşuk surga sebelum orang-orang kaya sejauh 40 musim gugur. Wahai Aisyah, janganlah engkau pernah menolak permintaan orang-orang miskin, meskipun hanya dengan sebiji kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang miskin, dan dekatilah mereka, niscaya Allah akan mendekatimu pada hari kiamat.
KISAH SUFI TERMISKIN DI DUNIA
Diceritakan, sekelompok orang sufi sedang berkumpul di suatu tempat Ali al-Mutawakkil. Sampai beberapa hari berjalan, ia belum membukakan apa pun untuk mereka. Mereka kelelahan. Salah seorang dari mereka hendak ber wudhu. Terlintas di pikiran salah seorang dari mereka, bahwa di ruang salat si fakir ini pasti ada sesuatu yang bersifat duniawi. Ia pun memeriksanya. Di situ ia menemukan setengah dirhan hitam. Ia berkata kepada teman-temannya, "Bagaimana mungkin ia akan membukakan sesuatu untuk kita, sedangkan sahabat kita ini diketahui menyembunyikan ini.
Orang-orang yang lain memberinya isyarat untuk menyembunyikan. Tidak lama kemudian, si fakir masuk dari pintu. Ia mengemasi barang-barangnya dan berniat pergi. Ada yang bertanya, "Mengapa engkau hendak pergi?" Ia menjawab, "Karena kalian telah merusak hujjahku." Mereka bertanya, "Maksudnya?" Ia berkata, "Aku sengaja menyimpan setengah dirhan itu sampai Allah memanggilku untuk dihisab. Saat itu aku ingin membawanya, dan ingin kuletakkan di hadapanNya sembari berkata, 'Ambillah dunia yang Engkau berikan kepadaku ini. Dan, cukupkan hisabku sampai di sini, karena aku tidak memiliki dunia yang lain selama hidupku."'
Jamaah yang ada di situ terperangah. Mereka kagum pada kebaikan si fakir, kesabarannya yang luar biasa, dan rasa syukurnya yang istimewa. Hati mereka sejuk mendengarnya. Mereka lantas berkata, "Kita seharusnya menjadi seperti fakir ini, supaya kita bisa masuk surga jauh sebelum orang-orang kaya, lebih dulu 40 musim gugur."
MENERIMA PEMBERIAN TANPA RAKUS
Ibnu Umar berkata, "Aku pernah diberi sesuatu. Aku katakan, 'Berikan itu kepada orang lain yang lebih membutuhkan dariku.' Rasulullah bersabda, 'Ambillah. Apabila kamu mendapatkan sesuatu dari harta seperti ini, sedangkan engkau tidak tamak dan tidak pula memintanya, maka ambillah dan simpanlah. Jika engkau mau, makanlah itu. Namun, jika engkau mau, sedekahkanlah.'
GIZI SPIRITUAL ORANG SALEH
Abu Ali asy-Syairazi berkata, "Aku merindukan Ghailan, karena ia sering menyampaikan kepadaku tentang maqam-maqam manusia, berpaling dari kemewahan duniawi, dan keterampilan memperbaiki diri. Maka, aku pun berangkat ke Basrah. Orang-orang di sana bilang, 'Dia di kuburan.' Aku pun ke sana. Ketika melihatku, dia lari dan masuk ke dalam masjid, kemudian menutup pintu. Aku dengar ia berujar, 'Tuhan, telah datang kemari orang-orang yang mencari-Mu. Mereka menginginkan-Mu. Telah terputus orang-orang yang merindukan dan mendambakan-Mu. Telah merindu-Mu orang-orang yang arif dan mengingat-Mu.'
Aku mendekatinya dan berkata, 'Wahai kekasihku, apa yang engkau inginkan?' Dia berkata, 'Aku tidak menginkan apa-apa sejak 40 tahun yang lalu, selain Tuhanku.' Aku berkata, 'Maukah engkau aku ambilkan bubur?' Ia berkata, 'Terserah kamu.' Kuambilkan untuknya bubur dan gula, kemudian aku letakkan di depannya. Ia berkata, 'Aku tidak menginginkan ini darimu. Yang kuinginkan darimu, seperti yang ingin aku şampaikan kepadamu.' Aku katakan, 'Sampaikan saja.' Ia berkata, Ambillah kurma ketaatan, keluarkan darinya biji ujub, kemudian tumbuk menjadi tepung ubudiah. Tambahkan za'faran keridoan dan minyak samin mujahadah, letakkan semua itü di dalam panci tawadu, kemudian tuangkan air Shafa, dan nyalakan di bawahnya air kerinduan, gerak-gerakkan dengan muraqabah (merasa şelalu diawasi oleh Allah), kemudian sajikan di ataş nampan syukur. Barang siapa menyantapnya tiga potong, dadanya akan sembuh, pikirannya akan terang benderang, hatinya akan bercahaya, dan jiwanya akan abadi.' Setelah berkata demikian, ia berdiri dan pergi meninggalkanku sembari berkata, 'Alangkah İndahnya perpisahan. Sesaat kemudian ia menghilang dari pandanganku.
IMAN KEPADA AZAB KUBUR
Diriwayatkan, seorang perempuan Yahudi datang menemui Aisyah dan berbicara tentang azab kubur. Aisyah berkata kepadanya, "Semoga Allah melindungimu dari azab kubur itu.” Lebih lanjut Aisyah berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Raşulullah tentang azab kubur, Beliau menjawab, 'Azab kubur itü nyata.'" Dan, Aisyah berkata, "Belum pernah aku melihat yang dilakukan Rasulullah sehabis salat, kecuali memohon perlindungan dari azab kubur. "
RAHASIA ALAM BARZAKH
Muhammad bin Yusuf al-Faraghi berkata, "Aku mendengar Abu Sinan orang yang suka bepergian mengelilingi gunung-gunung di sekitar Bait al-Maqdis—berkata, 'Aku pernah datang pada seseorang. Ia berkata: Ikutlah bersama kami untuk bertakziah ke tetangga yang saudaranya meninggal.' Ternyata, orang itü keberatan dan tidak mau takziah. Kukatakan padanya, 'Takutlah kepada Allah. Ketahuilah bahwa kematian itü jalan yang pasti akan kita lalui. Kematian itü pasti datang pada semua makhluk.' Orang itü berkata, 'Aku tahu memang seperti yang dia katakan, tetapi aku takut pada yang diucapkan saudaraku di pagi hari.'
Kukatakan, 'Subhanallah, apakah Allah memperlihatkan perkara gaib kepadamu?' Ia menjawab, 'Tidak, tetapi ketika aku menguburkannya, kemudian aku meratakan tanah di atasnya, tiba-tiba aku mendengar suara dari dalam kubur, ooohhh... Sontak aku berteriak, Saudaraku... Kemudian aku menggali tanah itu. Tetapi seseorang berkata: Wahai Abu Abdullah, jangan kau gali tanah itu. Maka, aku kembalikan lagi tanah itu. Ketika orang itu pergi, terdengar suara lagi, Ooohh... Sontak aku berkata, Saudaraku... Kemudian aku hendak menggali tanah, namun ada Yang bilang: Jangan. Kemudian aku urungkan.
Setelah orang-orang pergi, terdengar suara itu lagi, Ooohh... Aku berkata: Engkau akan terus begini sampai aku menggali tanah ini. Ternyata ia terbungkus nyala api. Aku berusaha memadamkannya dengan memukul-mukulkan tanganku padanya. Alih-alih menolong, jari-jariku malah ikut terbakar. Kemudian pelan-pelan aku keluarkan tangannya, ternyata keempat jari-jarinya sudah hilang. Peristiwa itu aku ceritakan kepada al-Auza'i. Aku katakan: Wahai Abu Amr, orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum kafir lainnya pasti meninggal dunia, Tetapi di antara mereka tidak ada Yang seperti ini. Sementara itu, saudaraku ini penganut tauhid dan pemeluk Islam, mengapa ia mendapatkan seperti ini? Al-Auza'i berkata: Mereka itu sudah tidak diragukan lagi bagian dari penghuni neraka. Namun, Allah berkehendak memperlihatkan peristiwa ini kepadamu sebagai penganut tauhid supaya dapat mengambil pelajaran.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
KEUTAMAAN MEMBACA AL-QURAN
Ibnu Mas'ud berkata, "Aku mendengar Rasullah bersabda, 'Barang Siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Dan, satu kebaikan dibalas dengan 10 kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, melainkan alif satu huruf, låm satu huruf, dan mim satu huruf.
KEKUATAN TAWAKAL SEORANG BADUI
Al-Ashmu'i berkata, "Aku melihat seorang badui di suatu lembah. Tangannya memegang pedang yang terhunus. Kukira ia mabuk. Ia berkata kepadaku, 'Wahai orang yang datang kepadaku, bukalah bajumu. Jangan jadikan rumahmu puing-puing dengan kematianmu.' Aku berkata, 'Tidak tahukah engkau, siapa aku?' Ia berkata, 'Perampok tak punya pengetahuan. Kalaupun aku mengetahuimu, aku akan mengingkari pengetahuan itu.' Aku katakan padanya, 'Tidak tahukah engkau bahwa Allah akan menuntutmu atas apa yang engkau perbuat?' Ia berkata, 'Harus ada rezeki. Jika Dia menuntutku, aku akan menuntut-Nya atas rezekiku.' Aku berkata, 'Engkau sepertinya sedang mencari rezekimu dibumi ini.' Ia berkata, 'Di mana seharusnya aku mencarinya?' Aku berkata, 'Di langit rezeki kalian dan apa yang telah dijanjikan.
Al-Ashmu'i berkata, "Orang badui itu kemudian melemparkan pedang di tangannya sembari berujar, 'Astaghfirullah, rezekiku ternyata di langit, mengapa aku mencarinya di bumi?!' Tiba-tiba di hadapannya tersaji dua roti hangat dan semangkuk kuah. Ia menoleh ke arahku sembari berkata, 'Semoga Allah memberimu petunjuk, sebagaimana engkau telah menunjukkan rezekiku.'"
Al-Ashmu'i berkata, ”Aku mengkhawatirkan keadaannya. Karena itu, aku meninggalkannya sambil berderai air mata. Setelah itu, aku berjumpa dengannya sewaktu thawaf. Ia mengenaliku. Ia berkata, 'Bukankah engkau temanku di lembah?' Aku jawab, 'Ya.' Ia berkata, 'Sejak waktu itu sampai hari ini selalu tersedia dua roti dan semangkuk kuah. Mangkuk yang terbuat dari perak. Jadinya, aku punya banyak.' Aku berkata kepadanya, 'Mengapa engkau tidak menginfakkannya kepada keluargamu?' Ia menjawab, 'Tidak, aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak melakukan apa pun kecuali atas perintah-Nya. Dan, Dia tidak mernerintahkanku apa-apa.' Setelah itu, ia berkata, 'Tambahkanlah untukku syair itu.' Aku katakan kepadanya, 'Itu bukan syair, melainkan Kalamullah.' Kemudian aku membacakan, 'Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesunguhnya apa yang dijanjikan itu benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.
Mendengar itu, air mukanya berubah. Tubuhnya bergetar. Ia berkata, 'Siapa yang membuatnya bersumpah hingga ia melanggar.' Setelah itu, ia terjatuh. Aku menggerak
gerakkannya, tetapi ia telah menutup mata. Dalam pada itu terdengar suara, 'Barang siapa ingin menyalati salah satu wali Allah, maka hendaklah ia menyalati orang badui ini.'" Al-Ashmu'i berkata, "Kami pun memandikan dan menyalatinya, kemudian menguburkannya. Di dalam mimpiku, aku melihatnya dalam rupa yang bagus. Aku bertanya, 'Bagaimana engkau mendapatkan semua ini?' Ia menjawab, 'Berkah dari membaca dan menyimak al-Quran.'
KEUTAMAAN HAJI MABRUR
Abu Hurairah berkata, "Aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Barang siapa melaksanakan haji dan tidak melakukan rafats (berkata kotor) dan kefasikan, maka ia akan pulang dalam keadaan seperti di hari ketika ia dilahirkan Oleh ibunya.
HAKIKAT HAJI MABRUR
Diceritakan, salah seorang sufi melaksanakan ibadah haji. Setelah pulang, ia mendatangi asy-Syibli. Asy-Syibli berkata kepadanya, "Apakah engkau berniat haji karena Allah dan memenuhi seluruh persyaratannya ketika ihram?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya, "Apakah dengan niatmu itu kemudian engkau membatalkan setiap niat yang menyalahi niat itu?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belumlah berniat." Asy-Syibli bertanya,
"Apakah engkau melepaskan pakaianmu?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya lagi, "Apakah engkau mendengar jawaban talbiyahmu?" Ia menjawab, "Tidak"
Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum bertalbiyah." Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau memasuki Masjidil Haram?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya lagi, "Apakah setelah itu engkau mengharamkan atas dirimu melakukan hal-hal yang diharamkan?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Engkau belum memasuki al-Haram." Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau thawaf di Baitullah?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syib1i bertanya lagi, "Apakah engkau bisa melihat dengan hatimu keagungan Zat yang engkau kelilingi rumah-Nya?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum thawaf."
Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau berdiri di Makam Ibrahim dan salat dua raka'at?" Ia menjawab, "Ya." AsySyibli bertanya lagi, "Apakah engkau melihat di tempatmu itu rahmat Yang luas?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum berdiri dan salat." Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau memasuki Kakbah?" Ia menjawab, Ya." Asy-Syibli bertanya lagi, Apakah ketika memasukinya engkau keluar dari setiap kemaksiatan?" Ia menjawab, 'Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum memasukinya."
Asy-Syibli bertanya lagi, "Apakah engkau minum air zamzam?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya lagi, "Apakah ketika minum engkau niatkan untuk mencuci kecintaan terhadap dunia dan gangguan setan di hatimu?" Ia menjawabi "Tidak." Asy-Syibli berkata "Kalau begitu, engkau belum minum." Asy-Syibli bertanya, 'Apakah engkau sai dari Shafa ke Marwa?" Ia menjawab, 'Ya." Asy-Syibli bertanya lagi, 'Apakah engkau dengan demikian berlari di antara rasa takut dengan pengharapan?" Ia menjawab, 'Tidak," AsySyibli berkata, 'Kalau begitu, engkau belum sai." Asy-Syibli bertanya, 'Apakah engkau keluar untuk wukuf di 'Arafah?" Ia menjawab, 'Ya."
Asy-Syibli bertanya lagi, "Apakah engkau tahu bahwa
Allah mengetahui yang terbetik di hatimu?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum wukuf." Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau mabit di Muzdalifah?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya Iagi, "Apakah engkau menetap di sana untuk mendapatkan rahmat Allah?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum mabit." Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau tinggal di Masfar al-Haram?" Ia menjawab, "Ya." AsySyibli bertanya lagi, "Apakah engkau merasakan syiar-syiar kepemimpinan?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau tidaklah wukuf di Masy'ar al-Haram." Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau melontarkan jumrah?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya lagi, "Apakah dengan begitu engkau melempari seluruh penyakit matamu?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum melontarkannya." Asy-Syibli bertanya, Apakah engkau mencukur rambutmu?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya Iagi, "Apakah itu engkau niatkan untuk menggugurkan seluruh dosa, kesalahan, dan kotoranmu?" Ia menjawab, "Tidak."
Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum bercukur." Asy-SyibIi bertanya, " Apakah engkau menyembelih al-hadyu?" Ia menjawab, "Ya." Asy-Syibli bertanya Iagi, "Apakah itu engkau niatkan menyembelih musuhmu, iblis?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum menyembelih," Asy-Syibli bertanya, "Apakah engkau kembali ke Mekkah dan thawaf di Baitullah?" Ia menjawab, "Ya,"
Asy-Syibli bertanya Iagi, "Apakah itu engkau niatkan untuk kembali dari hal-hal yang dibenci darimu?" Ia menjawab, "Tidak." Asy-Syibli berkata, "Kalau begitu, engkau belum kembali. Engkau juga belum berhaji, belum thawaf, dan belum sai karena Allah dengan seluruh persyaratannya. Kembalilah, laksanakan haji Kembali.