Kadang aku bertanya-tanya, lebih baik mana perihal ngomong sekali langsung nyakitin hati atau ngoceh terus tiap saat ?
Typu

seen from United States

seen from Switzerland

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Albania

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Argentina

seen from Mexico
seen from China
seen from China

seen from Brazil

seen from Argentina
Kadang aku bertanya-tanya, lebih baik mana perihal ngomong sekali langsung nyakitin hati atau ngoceh terus tiap saat ?
Typu

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jangan lupa bersyukur
Sudah menjadi kebiasaan, awal bulan ditransfer, pertengahan bulan minta uang, akhir bulan ditransferin lagi. Mungkin sudah hafal bagaimana gaya-gaya kalau telpon mendadak.
“Kenapa telpon?”
“Gak kenapa-napa”
“Uangnya masih ada?
Adikmu mau masuk pondok, tapi harus punya ATM, jadi nanti kalau nggak betah bisa kabur pakai uang yang di ATM. Trus kalau nggak punya uang bisa ambil di ATM”
Serasa hidup hanya untuk uang. Hubungan keluarga tidak seharmonis lainnya hanya karena sebatas hubungan materi.
Jangan lupa banyak bersyukur dengan apa adanya, bukan yang ada apanya.
Kata ibu;
“Kalau adanya soto jangan minta nasi jagung. Kalau adanya pizza jangan minta bakwan.”
Saya bukan tipe orang yang mengharamkan foto selfie, karena saya pun demen foto selfie bareng teman dan keluarga. . Kalau ada yang tetiba bilang saya tipe orang yang demikian; hanya karena di Instagram saya hampir enggak ada foto selfie (take by orang atau tripod banyak, padahal) mungkin orang tersebut wajib saya block atau seenggaknya kita belum main atau jalan bareng aja, bisa jadi belum benar-benar mengenal, makanya ta'aruf dong sini ~ situ laki-laki, lamar dong sekalian wkwkw . Sekali lagi, dan tolong dipahami; jangan pernah menilai seseorang dari tampilan sosial media yang ia punya. Karena kata Ghani, sosial media adalah tipu daya (bagi mereka yang menyakininya). . Kalau ada yang tanya mengenai hukum selfie dalam pandangan Islam, saya menyakini kalau itu adalah mubah. Menjadi haram, mana kala kamu selfie berbikini kemudian diunggah di sosial media milik kamu. . Sekian, dan terimakasih. . -Peter yang fakir ilmu, 2017- . 📷 by Pinterest . #meracau #ngoceh
Obsesi Kepentok Realita
Kali ini saya memberanikan diri untuk kembali membuka tumblr. Bukan sekedar untuk scrolling timeline atau update melihat tulisan-tulisan terbaru dari beberapa teman atau akun yang saya follow. Tapi karena ingin menulis lagi di sini.
Hari-hari ini dan sudah hampir 4-5 bulan terakhir sebenarnya mayoritas aktivitas saya berkutat dengan hal tulis menulis. Lebih tepatnya menulis konten untuk keperluan pekerjaan. Tapi ini tidak berbanding lurus dengan produktivitas saya menulis di lapak ini. Kenyataannya memang saya tidak punya bakat multi tasking.
Tapi saya menikmatinya. Karena sama sekali tak pernah menduga seberapa impact-nya. Ternyata dari tulisan-tulisan sederhana yang saya buat, beberapanya bisa membantu proses pembangunan masjid dan gereja menjadi lebih cepat, anak sakit jadi punya harapan untuk sembuh, mereka yang lanjut usia bisa punya kesempatan untuk pergi umrah atau tempat tinggal dan ratusan anak yatim tak cemas lagi karena kini mereka memiliki tempat tinggal yang layak. Itulah dahsyatnya ketika sebuah konten tulisan bekerja.
Saya sendiri sejujurnya rindu saat-saat masih rutin menulis di lapak ini #satuseminggu bareng @bang-alfi, @ariemaulana, @alizetia, @bhektiningrum, @istiqomahnk, @ratih-cahaya dan @ayuerahmi (sekarang istri saya :P).
Kecuali saya, mereka-mereka ini masih sangat rajin menulis di tumblrnya masing-masing. Tengok aja tumblrnya satu-satu. Padahal mereka orang yang sibuk-sibuk banget. Beberapa bahkan ada yang sebentar lagi akan menerbitkan bukunya.
Sampai sekarang, dengan keterbatasan yang saya punya, jujur saja saya masih terobsesi untuk bisa menulis dengan konsisten. apa pun isinya. apapun topiknya. bagaimana pun argumentasinya. bagaimana pun premisnya.
Namun ada dua hal yang selalu menghambat saya. Pertama adalah rasa malas dan suka menunda. Kedua adalah perasaan sok harus menulis bagus karena kepedean bakal dibaca banyak orang. hahaha (tertawa songong)
Dan setalah dipikir-pikir, ternyata banyak dari mereka atau penulis atau orang lain entah siapa pun yang rajin menulis itu, memang karena mereka sok asik aja. Sok asik dengan tulisannya. argumentasinya. topiknya dan premisnya mereka masing-masing.
Inilah rahasianya dan menurut saya itu sok asik yang bermanfaat dan ngasih manfaat. (ya kan?)
Terakhir, beberapa hari yang lalu saya ikut acara silaturahim dan di sana ada seorang pembicara yang bilang seperti ini,
“There is no try. Do or do not”
Ya intinya.... “Hey lakuin aja!, gak usah kelamaan coba-coba” (sambil ngomong ke muka saya sendiri).
Sekian.
Kapuk, 20 Maret 2017
Sumber foto : Dokumentasi Ust Ruslan Keterangan Foto : Anak-anak di depan lokasi pembangunan masjid Desa Maiboh, sebuah desa yang banyak dihuni oleh mualaf asli Papua dan terletak di daerah Sorong.
Ada saat dimana aku hanya bisa duduk dipojok kamarku. Kadang aku merasa aku sangat tidak berguna. Aku bertanya, “Apa yang sudah aku lakukan ?”. Tidak ada. Aku tak pernah melakukan hal hebat apapun. Aku bahkan merasa hidupku sia sia. Dan aku mulai berpikir gila, mungkin aku harus mendaftarkan diri, bergabung menjadi seorang militer. Aku tak keberatan jika aku harus mati tertembak. Atau menjadi sukarelawan yang dikirim ke suriah, aku hanya ingin memeluk anak anak kecil itu. Akan kulakukan segala cara untuk membuat mereka tertawa ditengah situasi yang sangat sulit. Kapanpun mereka bisa saja mati. Jika aku harus mati aku ingin mati saat aku berusaha menyelamatkan seseorang. AKU BUKAN INGIN MENJADI PAHLAWAN, Kadang aku hanya ingin sedikit berguna. Sampai aku ingat aku pernah menolong seekor anak kucing yang kedinginan dimalam hari, aku membawanya pulang dan membuatkannya sebuah kamar tidur dari kotak sepatu. Bukankah itu tidak buruk ? Aku yakin kamu juga mengalaminya perasaan dimana kamu merasa tak berguna, dan ini hanya caraku untuk mengingatkan bahwa aku tak seburuk yang aku pikirkan. - i dont know, sometimes i feel so worthless and want to save the world

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Latest posts
Tadi siang, kepikiran buat lanjut nulis challenge Februari yang udah ngutang tulisan sebanyak 2 minggu (ga produktif emang). Trus akhirnya buka profile tumblr sendiri, cek-cek apa aja yang udah di posting selama minggu-minggu ngga nulis.
Trus reblog nya kayaknya temanya semi-semi galau gitu ya, huhuk. Banyak soal jodoh-jodoh sama parenting-parenting macem gitu. Agak-agak malu sih ya, lah takutnya yang baca keganggu : ‘Dih, ini postingannya beginian mulu sih..’ dan ngga nyaman. Tapi di sisi lain, reblognya udah pake filter kok, jadi yang di reblog ya yang kira-kira esensinya baik dan pelu untuk dipelajari (Diri sendiri) aja.
Maaf ya, teman-teman (kayak yang bakal ada yg baca aja sih Mis, wkwk).
Pernah ngga sih ngerasa ragu sebelum share-share hal-hal berbau galau gitu? Kalau aku sih iya, malu. Kata siapa gitu, galau-galau gitu sebenernya aurat, jadi jangan ditampakkan. Kita juga yg posting ngga pernah tau sebenernya orang nyaman atau nggak dengan tumpahan perasaan galau yang kita posting di socmed.
Tapi tetep ada ya, orang-orang yang dengan terbuka menampakkan status galau atau kode-kode terbuka gitu di socmed yang notabene pembacanya ya publik. Agak-agak bingung juga antara orangnya memang ekstrovert dan ngerasa hal kaya gitu ya biasa aja, atau orangnya emang belum punya filter untuk curhatan pribadi di medsos. Semoga yaa orang-orang macam begini udah mulai berkurang, serta mulai belajar menyampaikan kegalauan pake cara yang lebih elegan lah yaa.
Btw buat tema-tema nikah-nikah dan parenting yang di reblog beneran udah tak filter kok, yang kira-kira bisa diserap ilmunya dan bisa dibaca lagi di kemudian hari (makanya tak kasih hashtag #saving). Semoga ngga mengurangi kenyamanan scroll anda dan semoga bermanfaat! :)
Serial TBT alias Tidak Bisa Tidur
Berangkat dari coping mechanism yang muncul setelah memberi selamat kepada seorang teman lama karena baru saja melahirkan anak pertamanya, saya berniat untuk mulai menulis lagi (dan lagi). Kali ini dalam format serial tidak bersambung bertajuk TBT alias Tidak Bisa Tidur. Kenapa namanya norak? Karena saya belum bisa mikir untuk jangka panjang. Bisa buka laptop, ngetik, dan masih ngetik sampai ketikan ini aja udah syukur Alhamdulillah.
Lalu, apa isi serial ini? Ya apalagi kalau bukan ocehan lepas saya yang udah nggak ketampung dan berantakan dimana-mana. Saya yakin ini nggak akan bertahan lama karena saya sendiri masih nggak tau gimana cara memotivasi diri untuk nulis buat diri sendiri. Tapi setidaknya saya ingin mulai lagi (dan lagi) kebiasaan meracau yang dulu pernah saya tinggalkan--entah karena apa.
Untuk tulisan pembuka, saya cuma mau bilang, ini adalah salah satu kebiasaan saya ketika melihat pencapaian orang lain--seperti yang udah saya singgung di awal. Coping mechanism saya ini memang terlalu positif sepertinya, kalau nggak nulis ya bebenah. Analisis sementaranya sih, ya sesederhana karena saya ngerasa nggak punya pencapaian apa-apa, makanya saya berakhir dengan berusaha membenahi diri saya lewat dua kegiatan tadi. Apakah ini baik untuk kesehatan? Seharusnya sih iya, kalau ditekuni dengan baik. Sayangnya, saya ini suka angot-angotan, nggak bisa itu namanya bikin jadwal khususon untuk meracau, nggak bisa saya. Jadi yah, untung-untungan aja sih, kalau inget, kalau pengen, kalau lagi ada kelebihan tenaga kayak sekarang (fuck you, kopi).
Terus apa lagi ya, oh iya sepertinya saya juga pengen bikin draf kasar untuk tulisan-tulisan saya yang lebih serius. Kayak misalnya draf cerpen, novel (amin aja dulu), atau tulisan yang bisa saya jual ke recruiter. Ah, jadi keinget lagi, saya mau resign tapi belum ada lamaran yang betul-betul nyangkut sampai sekarang. Saya sempet kepikiran apa portfolio nulis saya kurang banget ya? Nah, mungkin itu juga yang memotivasi saya untuk nulis lagi di sini. Aduh, banyak cingcong.
Oke, apakah ini akan saya bagikan dengan orang-orang yang saya kenal? Kayaknya nggak. Ya, nggak usahlah, siapa sih yang mau baca ocehan orang tua yang pikirannya nggak berkembang? Ups.
Damn, toxic negativity sungguh sangat efektif untuk membangkitkan semangat. Baiklah. Supaya nggak dibilang pemikiran nggak berkembang lagi sama diri saya yang skeptis, saya akan berusaha untuk mulai nulis hal-hal yang nggak kalah berbobot, seperti politik, teknologi, dan ekonomi.
Oke, mungkin teknologi aja kali ya.
Terus saya harus mulai darimana? Yaudah, nanti deh dipikirin. Sekarang udah jam 1 dan saya nggak mau lingkar hitam di bawah mata saya makin ketara. Dadah.
Seberapa tergantungnya dengan pasar ? Anda, saya, semua😔 Brengsek juga ya. Mau bilangin "pakai logika", eh logika kan harus sesuai keadaan sekarang. Lah keadaannya sudah begini. Mau kolot khawatir justru tenggelam. Semakin dipikir semakin salah. Opo gak usah mikir aja ya! Sumberdaya tanpa budi pekerti jadinya pembuat kebijakan, budi pekerti tanpa sumberdaya jadinya penganut kebijaksanaan. Kebenaran diadu dengan kebajikan, yang menang bandar!.