Singkatnya, Semua Orang Ingin Diperlakukan Sebagaimana Mereka Memperlakukan Orang Lain
[posted on Medium September 6, 2022]
Aku menyadari sesuatu setelah mengalami sebuah silent encounter (?) dengan seorang teman.
Sebagai orang yang picky soal teman dan berakhir jadi canggung sosial, aku selalu berusaha menghargai dan menghormati orang yang bisa klik dengan kepribadianku ā orang yang mengerti kecemasanku di tengah keramaian, perasaan kalut yang tiba-tiba muncul, dan beberapa hal lainnya yang setelah lama aku perhatikan bisa dimengerti oleh orang ini.
Sayangnya, semua yang aku lihat jadi semacam false picture yang aku buat sendiri di kepala. Dan seperti yang biasa terjadi, false picture mempengaruhi ekspektasiku yang seringnya terlalu tinggi terhadap orang lain. Kalau udah begini, aku berakhir jadi orang yang salah ā salah sendiri berharap sama orang; salah sendiri terlalu lekat sama orang, salah sendiri yada yada bullshit.
Jauh sebelum kejadian ini terjadi, aku punya sedikit kepercayaan bahwa setiap orang selalu ingin diperlakukan sebagaimana dia memperlakukan orang lain. Atau, sikap seseorang ke orang lain adalah gambaran bagaimana mereka ingin diperlakukan, sadar atau tidak sadar. Say, orang yang suka senyum punya keinginan bawah sadar untuk disenyumin orang lain. Orang yang suka bantuin sesuatu punya keinginan bawah sadar untuk dibantuin orang lain. Orang yang suka dengertin cerita orang punya keinginan bawah sadar untuk didengarkan oleh orang lain. The list goes on but the point is there.
Hal ini natural, menurutku, karena ya thatās how human brain works. Dalam adegan film, penjahat yang biasa berbuat jahat bakal canggung luar biasa ketika diperlakukan baik oleh seorang ustadz. Simpelnya, karena dia lebih terbiasa dengan perlakuan yang minimal setara jahatnya dengan kelakuan dia.
Kenapa aku sebut bawah sadar, karena nggak semua orang menyadari keinginan ini. Sebagian bahkan mengklaim bahwa mereka tulus melakukan kebaikan/perbuatan tertentu ke orang lain. Do good get good, cenah. Atau, treat people with kindness jadi semacam kebiasaan aja tanpa ada harapan yang jelas kalau mereka pengen diperlakukan sama baiknya. Meskipun bawah sadar, keinginan itu tetap ada dan pada saat tertentu keinginan itu perlu dikasih makan.
Pada sisi ekstremnya, keinginan yang secara konstan nggak dikasih makan akan mengendap di dalam, sampai akhirnya dibawa nangis atau mati. Keinginan yang nggak terpenuhi lama-lama berubah jadi pikiran-pikiran semacam: apa aku terlalu baik? apa aku kurang baik? apa mereka nggak merasa aku tulus? apa mereka tetep nggak sadar kalau aku pengen diperlakukan dengan baik juga? dan lain sebagainya. Orang yang suka senyum bisa menumbuhkan pikiran negatif terhadap orang yang nggak senyumin dia balik ā prasangka kalau orang ybs marah atau kesal bisa jadi salah satunya. Orang yang suka mengulurkan tangan untuk bantu orang lain bisa punya perasaan nggak enak ketika harus minta tolong ke orang lain, merasa bahwa dirinya selama ini jadi satu-satunya yang bertugas membantu orang-orang sekitar ā prasangka buruk terhadap diri sendiri bikin makin susah ketika ada kesulitan. Orang yang suka dengerin cerita orang bisa punya ketersinggungan berlebih ketika orang lain nggak dengerin ketika mereka ngomong ā prasangka bahwa cerita yang dia sampaikan nggak semenarik cerita orang-orang sekitar bikin dia memutuskan untuk repress semua dan lanjut dengerin cerita orang aja.
Well, the latter was my personal case, soā¦
Pada sisi yang semakin ekstrem, prasangka bisa berubah jadi alasan untuk menyerah, saying, āKirain mereka bakal ngerti, ternyata nggak. Terus buat apa aku tetep perlakukan mereka kayak gini?ā Manusia itu punya akal yang seringnya cuma bisa dipakai untuk bertahan hidup, bukan untuk memahami dirinya dan orang-orang di sekitarnya. I know itās quite harsh but thatās the truth Iāve discovered after living for 26 years. Dan campur tangan permainan keinginan/harapan towards other people cuma bikin nambah masalah aja alias memperburuk hubungan antarmanusia. Setelah menyadari hal itu, kita jadi merasa sia-sia; sia-sia baik sama orang, sia-sia memahami kondisi orang, sia-sia melakukan sesuatu yang kita kira bakal langsung kembali ke kita. Sia-sia adalah best word choice orang-orang yang suka berharap tinggi sama orang lain ā like me. Jadi, sebetulnya apa yang harus diperhatikan dari isu ini?
Aku pengen jawab nggak ada tapi buat apa aku nulis? Sia-sia dong.
Menurutku, yang pertama harus kita sadari adalah tidak lain dan tidak bukan adalah diri kita sendiri. No, ini bukan momen untukĀ love yourselfĀ melainkan momen untukĀ understand your shitty self.Ā Pahami your worst trait yang sering muncul ketika kamu berhadapan dengan orang. Apakah kamu orang yang sensitif, orang yang terlalu santai (yes, this is a worst trait), hal-hal apa yang bikin kamu irritate, di kondisi apa yang bikin mood kamu jadi buruk. Understanding these issues can take a loooooooooooooooooooooooong time. Aku sendiri bahkan belum sampai setengah jalan acan. But you know, baby steps are still good steps.
Kenapa harus understand your shitty self? Kenapa nggak understand your kindy self? Ayolah, ini bukan saatnya untuk jadi narsis. Sebaik apapun kamu, ya udah, good for you, thank you, next aja udah. Kindness adalah basic trait yang nggak perlu kamu pahami, pelajari, atau latih. Jadi baik ya ngalir aja, nggak perlu didikte segala.
Kebanyakan orang menolak untuk memahami their worst trait, bahkan menolak untuk menerimanya. Jarang ada orang yang mau disebut sombong, pemalas, narsis, bossy, you name it. Apakah dengan menerimanya sama dengan mempertahankan that worst trait? Iya, far as I learn, proses penerimaan jadi semacam take-it-or-leave-it moment (untuk diri kita sendiri) di berbagai macam situasi. Say, aku bisa milih untuk jadi pendiam yang nggak mau banyak ngomong, cuma pengen duduk, kerja, lalu pulang, dan nggak menghiraukan omongan orang di belakang. I could choose that option, the only option I crave for. Tapi di situasi seperti kantor baru, I need to compromise with myself apakah aku mau mempertahankan itu dan mengorbankan social life yang ada, atau berusaha untuk adjust myself little by little sekaligus belajar bersosialisasi denga orang-orang. Take it or leave it berlaku untuk diri kita sendiri, kita bisa take the situation dan berkompromi, atau leave it dengan konsekuensi yang juga lain meskipun jaminannya adalah kenyamanan untuk tetap jadi your truly self.
I didnāt expect to be this long.
Proses penerimaan biasanya dibarengi dengan keterbukaan terhadap opsi lain. Menerima sisi terburuk kita berarti kita pelan-pelan membuka diri untuk hal lain, yang kemungkinan besar jauh lebih baik. Seperti kata pepatah bilang, ada pelangi setelah hujan, meskipun sekarang seringnya ada matahari setelah hujan, but you get the point.
Setelah understand your shitty self, barulah kita mulai observasi orang-orang di sekitar kita. Observasi also takes a looooong time, apalagi kalau orang-orangnya adalah mereka yang kita temui setiap hari. Everyday we found something different from them, karena mereka pun menjalani hari yang berbeda. Kamu mungkin bisa ketemu dengan orang yang super ramah super baik super perhatian, tapi ketika di belakang suka ngomongin orang (aku sering bertemu orang-orang seperti ini and I admire their fakeness). Kamu bisa ketemu orang yang pendiam banget tapi ternyata dilempar jokes dikit ketawanya bisa berhari-hari (yup, thatās me). Kamu bisa ketemu berbagai macam orang, dan yang perlu kamu lakukan cuma dua: pretend to act stupidly lalu observe.
Percaya deh, we all can do the first kecuali kamu basic-nya adalah orang yang banyak omong dan suka umbar-umbar. Selagi berhadapan dengan orang-orang baru dalam situasi tertentu, coba iyain aja semua yang mereka lakukan, let yourself flow like water but donāt be such a mulut ember di depan orang yang lainnya juga. Follow the stream, lalu observasi apakah memang orang tsb berperilaku seperti itu setiap hari, gimana besoknya, minggu depan, dan seterusnya; observasi dan pelajari. Kalau udah ngerasa nemu pattern-nya, ini saatnya untuk momen take it or leave it. Hidup adalah pilihan (anjay) dan kamu punya kuasa untuk milih apakah kamu mau dive into their behavior atau ya cukup tau aja.
For the latter, cukup tau aja nggak cuma ācukup tau ajaā. Kalau sempet, pahami kenapa dia bersikap kayak begitu. Setiap manusia di dunia pasti punya background story. Kalau ada waktu, fill yourself with such understanding sebelum menghakimi sikap orang tsb. Lalu, kalau kamu merasa sikap buruk mereka muncul karena rasa nggak nyaman dalam situasi tertentu, then itās time for you to truly understand their behavior.
Jujur aku pun masih jauuuuuuuuuuuuuuuuuh dari kata udah bisa memahami orang lain. Jauh banget. Kadang, yang nyebelin adalah, kita nggak sadar sikap kita ternyata bisa nyakitin orang lain. And thatās pretty shitty though. Untuk masalah ini, aku pun nggak tau gimana cara mengakalinya kecuali mungkin adalah dengan menjadi semakin tua, bijak, dan bertemu dengan banyak jenis orang. Kupikir the more you meet people, the more you practice yourself to undertand them. Kayaknya sih iya, cuma itu solusinya.
Balik ke topik observasi tadi, iya, kalau sempet dan ada waktu dan lagi sadar, coba pahami dulu respons orang-orang di sekitar kamu terhadap suatu kondisi, terutama kondisi yang bikin respons dia nggak nyaman. Setelah itu, yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah berusaha sebisa mungkin baca situasi dan stop when you they start to feel unconfortamble. I know, Iām speaking subjectively from the perspective of āvictimā, as I happened to encounter that kind of situation as the one who immediately felt uncomfortable after something irritating me happened. Loh kok jadi enggres. So, yeah, selanjutnya yang terjadi adalah aku berusaha mempelajari (si over-analyzing) apa yang salah, siapa yang truly salah, dan kenapa respons aku sampai kayak gitu.
Ternyata, dalam banyak kasus serupa, yang bikin aku merasa nggak nyaman ketika mengalami situasi seperti itu bukan situasinya, tapi pikiran bahwa selama ini aku salah mengira orang-orang itu bisa mengerti aku by at least letting me off for few minutes before I start to reach them by myself. Ternyata, nggak semua orang, bahkan orang yang kupikir bisa, mengerti apa yang bikin kamu merasa nggak nyaman. That was shitty, even after that, I still could feel the awkward ambience between us, making me felt even guiltier for messed things up. Thatās how fucked up my brain.
Dari kejadian itu, aku belajar, berusaha introspeksi (cih, tua, tapi bener) apakah selama ini aku pernah melakukan hal yang sama ke orang lain. Jawabannya, iya, pernah. Dan kemungkinan sering banget, sadar maupun nggak sadar. Meskipun terlambat, akhirnya aku berusaha untuk kembali ke awal, kembali ke memahami my own worst trait dan gimana caranya untuk nggak munculin itu terlalu sering. Iām not becoming calmer or wiser or lessen my hope, from that incident, aku sadar kalau harapan/keinginan untuk orang bisa memahami kita memang nggak bisa dihindari. Manusia adalah makhluk pamrih, bahkan sama Tuhannya sendiri. When we do good, we hope for another goodness. But when we do bad, we hope for forgiveness because we can never fully prepare for bad things happen to us. Waw, menyebalkan ya.
Kupikir, di akhir hari, nggak ada salahnya untuk, yah, berusaha sebaik mungkin nggak ngusik kenyamanan orang lain sih. Now I sound so much like GenZ but my point is, kenyamanan dalam artian kondisi yang bikin orang itu nggak merasa terancam, bersalah, terpojok, tersingkirkan, dan ajektiva serupa lainnya yang aku udah nggak tau harus ngetik apa lagi. So, alih-alih treat people with kindness, kupikir akan lebih menyenangkan untuk memperlakukan orang dengan taraf kenyamanan yang sesuai dengan mereka. Dan itu butuh trial and error yang banyak tapi, nggak ada salahnya mencoba.Ā