Kuncup daun baru mahoni sudah mulai bertumbuh menghiasi dahan dengan rona hijau muda menyala yang khas, dalam hitungan hari, ia akan tumbuh semakin rimbun lalu akan bersalin rupa, bergeser perlahan menuju semburat teal yang teduh.
Para daun tua yang pernah merasakan hidup dibawah nafas langit, gagah memayungi bumi dan dimanja sepoi angin kini meringkuk dibawah kaki pohon, menguning dan lembap, kering terbawa angin, beberapa ada yang membusuk karena masanya telah usai.
Hidup mereka di atas dahan telah purna,
kini mereka kembali ke pelukan asal, menyatu dengan rahim tanah.
Jika dari kaca mata manusia yang sok tau ini, aku melihat, ada keberanian yang luar biasa dari daun-daun tua yang melepaskan rantingnya itu; mereka tidak melawan musim, mereka mengalir bersamanya.
Mereka tidak pula membenci angin yang menerbangkan daun-daun kesana kemari, membiarkan diri mereka menari nari jatuh dengan pasrah.
Siapakah sang Pelukis yang Tak Berkuas itu?
melukiskan wajah daun-daun bertunas muda menuju daun yang habis masanya, siapa yang mengendalikan musim agar kita belajar untuk tetap tegar dalam layu dan gempita saat mekar? Ya! Tak ada nakhoda bagi musim yang kalut ini, kecuali tanpa kendali Tuhan-Mu yang menggenggam detak jantung semesta.
Oh Allah, musim apa pun yang akan menyapa hariku, biarkan aku luruh dalam kepasrahan kepada-Mu. Karena aku hanyalah seorang pemungut dari remah-remah kebijaksanaan-Mu yang Engkau tebarkan di sepanjang jalan. Perjalankan aku melewati segala musim dalam hidupku, dan mohon, jangan pernah lepaskan genggaman-Mu atas diriku.