Waktu dhuha hari pertama di Madinah. Pintu Raudhah ada di pintu 25 Masjid Nabawi, pintu itu khusus akhwat yang dibuka setiap ba'da shubuh, zhuhur, dan isya'. Kalau untuk ikhwan, Raudhah dibuka setiap saat.
Setidaknya ada 3 layer menuju Raudhah. Pertama antrian di belakang, sesampainya di antrian belakang saya sholat tahiyyatul masjid dan sholat dhuha. Lalu masuk ke antrian ke dua. Foto yang saya post sebelumnya adalah foto di antrian kedua -yang setelah itu bisa masuk ke Raudhahnya-.
Di dalam antrian ke dua, kita melangitkan doa serta salam untuk Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Doanya biasanya udah ada di buku panduan lengkap beserta artinya. Di dalam Raudhah disunnahkan sholat 3 macam: sholat mutlak, sholat taubat, dan sholat hajat.
Sampailah saya di antrian pertama, dan Masya Allah..
Ternyata Raudhah sangat padat. Itu pertama kalinya saya solat dengan keadaan ramai berdesakkan, tertendang-tendang, tapi sekaligus begitu damai dalam sujud. Kali ini, saya sempatkan sholat hajat dan taubat.
Tidak banyak yang bisa saya doakan saat itu, semi shock juga sepertinya, jadi agak sulit berpikir. Setelah kutanya ke mbakku yang tahun lalu diizinkan Allah ibadah di Raudhah, dia kasih tips untuk ambil tempat sholat di dekat tiang agar tidak terdorong/tertendang dan bersyukurlah bisa dapat kesempatan sholat karena dulu dia juga hanya bisa solat satu kali di Raudhah.
Setelah keluar dari Raudhah, saya dan teman serombongan bernama teh L langsung berniat untuk kembali ke Raudhah di waktu lain, berdua saja, agar lebih fokus untuk saling menjaga.
Terucap dari lisan saya, "Harusnya tadi berdoa untuk bisa terus dan terus kembali ke Raudhah ya, teh" -kan tempatnya mustajab untuk berdoa-
Kak jae juga sempat bilang ke saya, saat masih di Indonesia. "Nanti pas Abidah di Nabawi, sempetin sholat di Raudhah bid, pahalanya diganda berkali kali lipat".
Dan benar, setelahnya, layaknya magnet yang tarikannya kuat namun tak terlihat, Allah izinkan saya kembali ke Raudhah 3 kali lagi.