“Ephesians 4:31 - Let all bitterness, and wrath, and anger, and clamour, and evil speaking, be put away from you, with all malice:” Mengampuni. Sesuatu yang lebih mudah diucapkan namun sangat susah dpraktekkan. Lebih susah lagi kalau disuruh mengampuni orang yang sudah bikin kita merasa tertolak, bikin kita sakit hati. Hal ini yang menjadi momok saya akhir-akhir ini. Saya kembali dibukakan oleh Tuhan bahwa ternyata, hati ini masih menyimpan rasa sakit hati dan tertolak. Rasa ingin diterima yang tidak kesampaian, jadinya malah menggumpal menjadi kotoran di hati. Namun kalau mau dicari positifnya, kalau bukan karena kotoran ini, saya mungkin akan terus-terusan menunda mencari Tuhan. Bersyukur ternyata Tuhan pakai sakit hati saya untuk berpaling dan mencari Dia lagi. Sudah lama saya tidak berbincang-bincang secara pribadi dengan Papa di Surga. Sudah kangen ternyata. Saya bingung ketika berpikir mesti mulai membaca Alkitab dari mana. Akhirnya saya mencari di Google ayat-ayat mengenai pengampunan dan mengampuni. Dari belasan ayat yang terpapar, saya tersentuh dengan Efesus 4:31 yang fokusnya lebih kepada sikap kita terhadap orang lain, terlepas sikap mereka terhadap kita. Memaafkan orang yang sudah minta maaf saja susah, namun sekarang diminta memaafkan mereka yang boro-boro merasa bersalah, yang ada memandang kita penuh ketidaksukaan. Susah Tuhan..saya ini hanya manusia biasa, bukan orang suci. Cuma orang Kristen doang... Tapi Tuhan menampar saya: Justru karena saya telah lahir baru, dan seorang kristiani, maka wajib hukumnya untuk memaafkan mereka-mereka yang menyakiti hati saya. Sepanjang sesi penyembahan barusan saya lalu tersedu-sedu dengan derasnya, karena saya baru sadar betapa pergumulan yang saya kira telah usai ini, ternyata masih menyisakan duka dan kesedihan di dalam diri. Saya merasa tertolak dan tersisihkan. Itu karena saya mengharapkan kasih, dari mereka yang tidak bersedia memberikannya. Menyedihkan? Mungkin. Tapi saya ini manusia, yang masih belajar untuk tidak sombong, alias tidak mencoba menyenangkan setiap hati manusia di muka bumi ini. Setelah berdoa dan berikrar bahwa saya mengampuni mereka yang menyakiti saya pun (sebut nama satu per satu), ternyata luka hati saya masih menganga. Disitu saya berdoa untuk minta pemulihan. Karena pemulihan hanyalah jatah Tuhan semata. Memafkan bukan sesuatu hal mudah yang sekali ucap langsung beres. Seringnya butuh beberapa waktu, kadang harian, namun ada juga yang sampai tahunan. Entah berapa lama saya butuh waktu untuk benar-benar memaafkan yang satu ini. Tapi saya mau. Saya ingin juga dipulihkan, yang hanya bisa dicapai jika saya mengampuni. Sungguh, menjadi manusia baru bukannya perkara gampang. Berusaha saja sudah terengah-engah, belum lagi’jatuh-bangunnya’, belum lagi dibilang munafik-nya karena toh kalau lagi ‘jatuh’ yang terlihat pasti saya ini kontradiktif sama ajaran Kristen. Tapi Tuhan Yesus lihat hati dan usaha. Dan saya mau berjuang sampai akhir. Bukan karena saya orang yang lebih benar, tapi karena saya sudah diselamatkan.