Siang Yang Sumuk Bersama Radiohead
"Kenapa aspal ini tiba-tiba dingin sekali ya?" Ucap Pak tua sekelebat dan pelan, seolah berbisik pada dirinya sendiri. Dia memang senang melontarkan sarkas tak pada tempatnya, misalnya seperti tadi, dia hendak mengeluh pada matahari karena menjejalkan terik yang terasa seperti seperempat dari api neraka itu ke dalam angkotnya yang tak kalah tua dan tanpa penyejuk udara. Angkot itu seolah tak ingin berbagi matahari dengan siapapun, sehingga hanya menyisakan sedikit kalor saja untuk jalanan di luarnya. Pak tua sudah tak kuasa menanggung kuyup akibat keringat jagungnya yang mengalir deras membawa urea dan sisa-sisa deodorant. Seragam kerjanya pun sudah tanggal sejak aku menyempil duduk di angkotnya, lalu ia alih fungsikan menjadi kain lap yang diselempangkan sembarangan mengitari lehernya yang pendek. Aku duduk tepat di belakang Pak tua, dan aku berikrar agar tak terlalu boros ketika menarik nafas selama perjalanan. Aku khawatir jika terlalu dalam saat menghirup, bisa-bisa aku tak sadarkan diri dan terbangun setelah jauh melewatkan simpang rumahku.
Sekitar dua ratus meter dari kemacetan tadi, akhirnya ada seorang penumpang yang turun, lelaki yang sangat kurus. Bahkan kepergiannya pun tidak banyak merubah tatanan yang ada di dalam angkot tua ini. Tapi sekurang-kurangnya, berkat dia, aku bisa sedikit berjarak dari punggung Pak tua yang mulai beruam merah karena peluh tak berkesudahan. Aku jadi sedikit leluasa untuk merogoh kantong samping rokku dan mengambil earphone yang menganggur di dalam sana. Namun sialnya, baterai ponselku tersisa 15% hanya cukup untuk mendengar 3-4 lagu sebelum aku harus merelakan ponselku padam. Meski kecil kemungkinan untuk merasa benar-benar terhibur, tapi paling tidak di waktu yang singkat itu aku bisa sejenak terdistraksi dari sumuknya hari ini.
"When you were here before, couldn't look you in the eye..."
"WOI, BUJANG!!" Klakson angkot Pak tua menyalak di sela-sela makiannya kepada seorang pengendara motor yang tiba-tiba tancap gas dari simpang sebelah kanan. Pak tua terpaksa reflek menginjak rem demi menghalau pertemuan moncong angkotnya dengan si pengendara motor tadi, padahal saat itu giliran simpang kami yang mendapatkan lampu hijau. Semacam kejutan di hari ulang tahun, Pak tua menemukan anomali jalanan silih berganti. Sebuah becak yang hendak mengikuti peruntungan si pengendara motor sebelumnya, berusaha menyelonong masuk begitu saja. Namun sayang, nasib 'wak' becak kurang mujur hari ini, Pak tua sudah membiarkan iblis jalanan menguasai dirinya. Alih-alih menginjak rem demi menyelamatkan diri, dengan kesadaran penuh Pak tua justru menginjak gas tanpa bermanuver dengan setirnya sama sekali. Dan Bam! Becak ringkih nan liar itu terhantam dan terseret sekejap sebelum ban depannya mencoba kembali menjejak aspal.
"...you float like a feather, in a beautiful world. I wish I was special, you're so fucking special!"
Aku dan penumpang lain di angkot Pak tua tidak bereaksi berlebihan meski tubuh kami sedikit terhempas ke kanan dan ke kiri. Pasalnya di kota ini, khususnya di persimpangan-persimpangan jalan, hal semacam tadi sudah menjadi "makanan sehari-hari" kami, para pengguna jasa angkutan umum apapun jenisnya. Jika tak ada kejutan seperti itu, justru kami akan mempertanyakan ulang realitas yang sedang kami jalani, dan mengira bahwa kami tengah berada di kota lain.
"She's running out the door. She's running out, she run.. run.. run... run.."
Pak tua tak ingin melewatkan kesempatan untuk adu mekanik dengan si pengendara becak yang sial itu. Bisa kupastikan kalau 'wak' becak versus Pak tua akan dimenangkan telak oleh Pak tua. Jika tidak, aku akan tetap menganggapnya berakhir seperti itu, karena akhir se-absurd apapun akan tetap terasa sempurna untuk sebuah perjalanan seperti ini. Dan itu bukan masalah, karena aku hanya ingin cepat sampai di rumah, begitupun dengan semua orang yang ada di angkot ini. "What the hell am I doing here? I don't belong here."














