Apa kamu pernah mengalami suatu masa dimana tidak ada masa depan terlihat jelas didepanmu, tidak ada jalan yang bisa menuntunmu pada ujung cahaya penuh warna, atau hingga kamu merasa pilihan terakhirnya adalah menyerah?
Di dunia ini mungkin saja, tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami cobaan. Bahkan cobaan yang berat, yang mungkin bisa dikatakan sebagai titik terendah dalam kehidupan manusia. Saya, kamu, pun mereka mungkin pernah, atau bahkan pernah terbersit untuk menyerah dalam hidup, saking sulitnya terasa, saking tidak adanya pilihan paling baik untuk tetap menjamin jiwa tetap hidup.
Jika kamu sedang mengalaminya sekarang, mari kita istirahat sejenak. Menangis? Tentu saja boleh, kau boleh menangis sekencang mungkin, selama mungkin selama rasa menyesakkan itu masih ada, kau boleh menyalahkan semesta, boleh menyalahkan manusia, egoislah sejenak, hanya agar kau sadar bahwa apa yang kau lakukan salah, bahwa yang memberikanmu masa paling berat selama hidup sedang menantimu untuk memelukmu dalam kepercayaanmu untuk menyerahkan pengaturan kehidupanmu pada-Nya.
Kau tak sendiri, kita semua pernah dan telah melewati titik terendah di dalam hidup kita. Bahkan ada yang hampir memilih untuk meninggalkan semesta hanya karena tidak terlihatnya pilihan untuk membuatnya bisa melihat arah yang baik untuk melewati titik ini. Tidak masalah semangatmu hilang, asal tak selamanya, tidak masalah memaki manusia karena meninggalkanmu di titik terendahmu, selama kau tak meninggalkan dirimu sendiri terpuruk dalam penjara yang kau sebut “Penyesalan” dikemudian hari.
Orang-orang mungkin akan mengumpatmu karena pilihan yang kau pilih, abaikan saja, bahagiamu bukan terletak pada orang lain namun pada dirimu sendiri, kau yang membuatnya untuk membahagiakan dirimu, bukan membahagiakan dirimu untuk memuaskan ego orang lain. Apapun keputusan yang kau pilih untuk melewati titik terendah dalam hidup jangan lupa sertakan DIA. Ikhlas, tentu saja sulit, mana mungkin melepaskan sesuatu yang membuatmu nyaman bertahun-tahun dalam waktu singkat. Tapi, akan berbeda jika kau sertakan DIA.
Karena itu, jika kau sedang diuji pada titik terendah dalam hidupmu, jangan menyesalinya nanti, Tuhan tak memberikan ujian untuk kita lalui dengan penyesalan. Jika kau ada pada titik terendah dalam hidupmu, jangan biarkan dirimu terlalu larut dalam kesedihan, ingat di dunia ini ada yang kondisinya jauh lebih buruk darimu. Air matamu tak mungkin mengalahkan kisah pilu orang lain yang kondisinya lebih buruk dari kondisimu saat ini.
Jika titik terendahmu membuatmu merasa ditinggalkan seorang diri, yakinlah DIA sedang berusaha memisahkanmu dari manusia-manusia yang tidak berguna dalam hidupmu. Dan DIA akan mendatangkan orang-orang baik kemudian, percayakan DIA tak akan mengambil lantas tidak menggantinya dengan yang baik.
Kritik pedas akan selalu kamu dengarkan, ejekan mungkin mengikut kemudian, jangan didengarkan, abaikan saja. Tidak semua kritik menyakitkan harus didengarkan, ada kala jika kritik itu membuatmu menangis, tinggalkan ia dalam kotak sampah lalu bakar hingga hangus atau kau bisa menertawakannya. Menertawakan betapa bodohnya manusia menganggap kau tak bisa melalui masa paling sulit yang sudah DIA siapkan agar kau lulus dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Jika hidup terlalu berantakan bagimu, cobalah kali ini untuk menyerahkan hidupmu pada-Nya, biarkan DIA yang atur, biarkan DIA yang memilihkan jalan mana yang harus kamu pilih, sekalipun hidup dengan segala kecukupan yang semesta berikan, tidak apa, asal memiliki-Nya sudah lebih dari cukup untuk kita. Besok, ketika kamu berhasil melewati titik terendah dalam hidupmu dan lebih dekat dengan-Nya, kau akan menertawakan betapa lucunya dulu menangisi keputusan yang salah, yang kamu pilih selama ini.