Jika Nanti Aku Tak Disini Lagi.
Kau boleh tahu apa yang sempat ku simpan dibalik tubuh ini. Kau boleh tahu apa yang menjadi rahasia semesta dibalik raga ini. Aku tidak sungkan untukmu.
Bukalah jeruji dada ini. Apa yang kau lihat dibalik itu? Mungkin kau hanya melihat detak jantungku. Namun biar kujelaskan, pada tiap detakannya ialah jerit derita yang selama ini ditertawakan. Dibalik warna merah gelap itu ada biru yang entah sudah menjadi lebam seperti apa. Tiap detaknya, harus menahan beribu atau milyaran kali lipat rasa sakit yang harus ditawar. Darah yang mengalir keseluruh tubuh, tidak menjadi arti apa-apa dari sebuah getir yang ia lalui. Setiap tetes yang keluar bukan lagi sakit yang ia rasa. Melainkan kebas tak bersisa.
Robeklah punggung ini. Lihat apa yang ada dibalik belikat dan sanggurdi. Mungkin yg terlihat hanya tulang belulang manusia kebanyakan. Namun daripada itu, tersembunyi utas tangis yang tak ingin diberi tahu. Beban-beban yang di pikul sendiri. Entah itu apa, entah duka yang mana. Sakit setiap tertidur dan selalu membusungkan dada. Namun harus tetap kuat sebab ingat akan tanggungjawabnya.
















