Laki-laki dan Kesiapan ( ? )
Sebab, bagi seorang laki-laki, bukanlah perkara yang mudah untuk memberanikan diri melangkah maju, mengetuk pintu, meminta pada ayah perempuan yang dipilih nya untuk meyakinkan pada sang ayah perempuan bahwa segala tanggung jawab yang dipikul nya terhadap anak perempuan yang dicintainya, siap untuk ia ambil alih seluruhnya diatas pundaknya.
Sebab, bagi seorang laki-laki, akan banyak hal yang difikirkan dalam fikirannya, sebelum ia memberanikan diri meminang seorang wanita. Bagaimana ia membimbing, mendidik, serta membersamai perempuan yang akan menjalani hidup bersama nya.
Bagaimana ia menjaga senyum perempuan yang ada di sampingnya. Bagaimana menjaga perasaan perempuan yang akan selalu setia menunggu nya sepulang bekerja. Lebih dari itu, akan bertambah-tambah tanggung jawabnya, bukan hanya sebagai pendamping hidup (suami) namun juga sebagai ayah, kelak saat hadir putra putrinya ke dunia.Bagaimana ia harus melawan segala ketakutan dalam fikirannya, ya ketakutan yang sering menjangkiti para laki-laki, yang membuat dirinya takut untuk melangkah. Takut, tak dapat memenuhi segala kebutuhan rumah tangga (materi), takut tak dapat sebebas sebelum saat menikah, perihal bermain bersama teman misalnya. Ketakutan yang sebetulnya seharusnya sirna, ketika memang memutuskan untuk mencinta. Karena mencintai berarti siap untuk membuktikan, siap mempertanggung jawabkan, apalagi jika bukan dengan jalan yang diridhoi oleh Tuhan. Karena, seharusnya segala ketakutan itu sirna, ketika yakin akan janji Nya, bahwa rezeki itu ada.
Jadi, jika ada seorang laki-laki yang memutuskan untuk menuju kehidupan pernikahan, berarti ia telah berhasil melawan segala ketakutan dan kekhawatirannya, mengurai segala kerumitan fikirannya perihal pernikahan. Berarti ia telah siap untuk belajar membimbing, mengepalai, mendidik, dan melepaskan segala ego nya.
Teruntuk teman-teman yang hari ini mengikat janji suci pernikahan, ku ucapkan barokallohu laka wabaroka alaika wajama'a bainakuma fii khaiir. Selamat mengarungi bahtera kehidupan pernikahan, selamat membangun peradaban.
*Tulisan ini, hanya sebuah pendapat pribadi saya sebagai seorang perempuan. Mohon maaf jika tidak berkenan, silahkan koreksi saja 😊