Alhamdulillah hari Sabtu kemarin 31 Januari 2015 diberikan kesempatan oleh Allah untuk silaturrahim ke kediaman Ka Ifah (Scientia Afifah; FH UI 2008; Hafidzhah) bersama mutarobbi dan dua kelompok lainnya.
Sungguh banyak ilmu yang dapat diambil dari kunjungan ini. Terlebih dengan kehadiran Azima (anak perempuan Ka Ifah yang baru berusia 5 bulan) yang kian menambah keceriaan dan keseruan. Banyak poin yang saya catat pada kunjungan kami kali ini. Berikut adalah hal-hal yang bisa saya rangkum berdasarkan poin-poin yang telah saya catat dengan redaksional ulang. Semoga bermanfaat.
1. Tawadzun
Tawadzun adalah tentang bagaimana menjaga fitrah kita sebagai seorang muslimah, anak dan teman.
Fitrah sebagai muslimah maksudnya mampu melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang hamba maupun makhluk sosial di masyarakat. Menyeimbangkan diri baik pada sisi spiritual, akademis dan sosial. Jangan sampai kita menjadi begitu terkenal dan bersinar saat di sekolah/ kampus tapi begitu asing dan redup saat berada di sekitar rumah/ tetangga/ masyarakat.
Fitrah sebagai seorang anak adalah tentang berbakti kepada kedua orang tua. Jangan sampai kesibukan yang sedang kita jalani justru membuat kita lupa akan kewajiban kita sebagai seorang anak. Minimal bantulah pekerjaan orang tua meski hanya sekedar membuka jendela atau menyapu lantai. Karena kita tidak dapat memungkiri bahwa kelak perempuan akan menjadi seorang istri sekaligus ibu yang sangat diandalkan dalam hal-hal domestik/ rumah tangga. Kira-kira, apa yang akan terjadi jika kita sebagai perempuan tidak terlatih mengerjakan pekerjaan rumah sejak dini? Tidak perlu harus memiliki kemampuan sekelas profesional, minimal kita paham akan hal-hal yang mendasar.
Fitrah sebagai seorang teman berarti peran untuk menjadi penyeru dalam hal kebaikan (da’iyah). [QS. Al-‘Ashr: 1-3]
Jika kita sadar bahwa waktu kita di dunia ini sedikit dan terbatas, kita pasti akan mampu memprioritaskan kegiatan kita sesuai dengan kuadran skala prioritas. Saat usia kita terus bertambah, saat itu pula kita akan meningkatkan kualitas ibadah kita. Tidak ada lagi waktu untuk marah atau sedih pada hal-hal yang tidak sesuai dengan visi hidup kita dan sadar bahwa hanya Allah yang berhak memakai jubah kesempurnaan dan kesombongan.
Kita; jangan sampai kalah dengan orang-orang yang punya visi dan misi hidup berbeda dan berlawanan dengan hidup kita sebagai seorang muslim. Itulah alasan mengapa kita harus lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan, menciptakan kebaikan dan membenih kebaikan.
2. Tentang Menghafal
Menghafal adalah bentuk ta’abud (penghambaan) kita kepada Allah sehingga kelak kita bisa memberikan mahkota kepada kedua orang tua kita.
Menghafal sama dengan penyempurnaan akhlak. Jangan sampai kita menjadi seorang penghafal Qur’an tapi akhlak kita tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Menjadi penghafal Qur’an berarti memiliki tanggungjawab yang besar untuk mengamalkan dan menjadi citra bagi Al-Qur’an itu sendiri.
Kenapa kita menghafal?
Sebab kita menyadari bahwa hidup tidak berhenti pada kehidupan duniawi; sekolah, kuliah dan kerja. Tapi kita sadar bahwa ada Life After yakni hari pembalasan. Sebelum menghafal perhatikan kembali niat kita menghafal. Jika niat kita hanya sebatas duniawi maka hafalan itu pun hanya sependek umur dunia; singkat dan tidak akan bertahan lama.
Ketika kita paham urgensi menghafal, kita pasti akan terus menerus mengulang Al-Qur’an. Seperti QS. Al-Fatihah yang kita hafalkan sebab kita tahu urgensi wajibnya sebagai rukun mendirikan shalat.
Tidak ada kata selesai dalam menghafal Qur’an. Peran keluarga, teman-teman juga sangat memengaruhi aktifitas kita dalam menghafal dan menjaga hafalan. Maka pilihlah lingkungan yang baik juga teman-teman yang baik. Sejauh apapun kita pergi, kita harus memiliki tempat pulang untuk menjaga keistiqomahan dalam kebaikan. Termasuk urusan menghafal Al-Qur’an.
Bagaimana tips me-manage waktu untuk menghafal?
Jangan beri waktu sisa untuk menghafal. Rencanakan waktu primer untuk menghafal. #noted
3. Epilog
Tetaplah mengondisikan jiwa kita. Sebab ada lubang dalam diri kita yang tidak bisa kita tutupi kecuali dengan Taqorrub Ilallah (mendekatkan diri kepada Allah).
Tentukan dengan benar visi hidup kita, maka kita akan menemukan orang-orang yang sesuai dengan visi hidup kita. Jika kita ingin menjadi orang baik, maka kita akan ditemukan dengan orang-orang baik dan lingkungan-lingkungan yang baik.
Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Allah itu ibarat mercusuar dan kita berada dalam kegelapan ditengah lautan. Jika kita tidak mengikuti kemana arah mercusuar, maka kita akan tersesat. Bukan salah Allah atau siapapun, tapi salah kita sendiri.
Wallahu'alam bishawwab. Semoga menjadi pemicu kita untuk menjadi pribadi muslim(ah) yang lebih bersemangat dalam kebaikan.