setia yang paling penting ternyata bukan kepada pasangan, lembaga, atau sesuatu yang melibatkan orang lain. setia yang paling penting ternyata adalah kepada prinsip diri, kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, kepada aturan agama, kepada keyakinan.
segala sesuatu yang berkaitan dengan orang lain nggak pernah abadi. hati manusia terbolak-balik, kehidupan terus berubah. setia sama orang lain--dan mengharapkan seseorang itu setia juga kepada kita, kerap membuat kita sakit hati dan kecewa.
bayangkan jika kita setia hanya kepada seseorang tanpa kita punya prinsip diri yang kuat. kita setia kepada seseorang hanya karena kenyamanan yang kita peroleh darinya. kita setia hanya karena kita mendapatkan sesuatu, karena kita bisa mengambil sesuatu, karena kita menguasai mengendalikan mengontrol sesuatu.
ketika seseorang itu berubah, ketika ada masalah, apalagi ketika ada badai, akan mudah sekali kita berpaling. ketika keadaan sedikit saja tidak nyaman, ketika lingkungan berganti, ketika kondisi berbeda, akan mudah sekali kita mematahkan sendiri kesetiaan itu.
namun, kalau kita setia terhadap prinsip, akan berbeda jadinya. di permukaan, kita TETAP setia kepada pasangan, lembaga, atau apapun itu. tetapi, di dalamnya ada hal-hal prinsipil yang menguatkan. prinsip kita adalah menjaga komitmen dan selalu memenuhi janji. prinsip kita adalah tidak menyakiti orang lain. prinsip kita adalah tidak berbuat curang. prinsip kita adalah selalu bersyukur. prinsip kita juga, kita menyayangi diri kita sendiri.
kalau kita setia kepada prinsip, kita tidak mudah terombang-ambing meskipun di luar sedang badai. kalaupun akhirnya kita berpaling, itu sama sekali bukan karena kita mematahkan kesetiaan. justru, itu karena yang berjalan tidak lagi sesuai dengan prinsip-prinsip diri kita. pada akhirnya, kita tetap menjadi yang setia.
jangan pernah mengizinkan siapapun mengacak-acak prinsip dirimu apalagi nilai dirimu. be a (wo)man of values.