âDari Romansa Kamar menuju Penjara Bahagia
âTak disangka. Ternyata, rangkaian ayat terakhir Ramadhan di surah Al-Baqoroh adalah mengenai suami istri.
âBermula dari puasa, Quran, dan doa. Ditutup dengan romansa.
âAl-Quran pun menyampaikan dengan bahasa yang..., sebenarnya agak sensitif.
âAllah gunakan kata rofatsa pada ayat 187.
âKata ini sebenarnya menggambarkan suasana suami dan istri di dalam kamar.
âTetapi Imam Ibnu Faris mendefinisikan dengan amat...sopan. "Semua perkataan yang membuat malu jika orang lain tahu." Jelas Imam Ibnu Faris.
âIya, percakapan kamar suami istri.
âImam Ibnu Manzhur menambahkan, "Juga tentang rayuan atau gombalan."
âTernyata, masih ada kata lain yang menarik di ayat ini.
âYakni, kata baaysiru. Saat Allah memerintahkan para suami untuk "mendatangi" istrinya.
âImam Ibnu Faris mendefinisikan, "Munculnya sesuatu yang memukau lagi indah."
âBeliau menambahkan makna lain, "Kulit bagian luar seseorang."
âTernyata di antara kata rofatsa dan baasyiru ada kata libaas. Yakinlah, ini kata ajaib.
âAllah memberikan perumpamaan teramat indah untuk menggambarkan pasangan.
âYa, dengan kata pakaian.
âImam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan amat sederhana kata libaas ini, "sesuatu untuk menutupi."
âBeliau melengkapi, "Pakaian digunakan untuk menutupi hal-hal yang tidak enak dipandang pada seseorang."
âBegitulah peran pasangan. Sebagai pakaian. Karena peran besar pasangan satu sama lain adalah menutupi kekurangan pasangannya.
âMenutupi saat bersama, menutupi saat berjarak.
âKarena rofatsa berkaitan dengan percakapan, bahkan rayuan.
âSedangkan baasyiru berkaitan dengan kulit. Bahkan kulit yang indah nan memukau.
âMenguatnya peran suami dan istri sebagai pakaian yang saling menutupi berkaitan dengan intensitas percakapan dan sentuhan.
âPercakapan yang ada bumbu rayunya.
âSentuhan yang bertabur ekspresi takjub.
âIya... Percakapan dan sentuhan.
âSemesra itu suasana suami dan istri ketika Ramadhan.
âTiba-tiba Allah mengingatkan mesra dengan kalimatNya, "Jangan kalian 'datangi' mereka (istri), saat kalian menjadi orang yang beri'tikaf di masjid."
âIya benar, salah satu amalan perjuangan yang sangat tidak biasa. I'tikaf...
âImam Ibnu Faris mengungkapkan dengan indah, "Menghadap dan memenjarakan diri."
âBeliau menambahkan, "Menghadapnya dirimu pada sesuatu dan engkau tidak meninggalkannya."
âAllah melarang kita untuk bermesraan yang amat mesra dengan istri ketika kita sedang i'tikaf di rumahNya.
âSeolah Allah mengisyaratkan, "Di akhir Ramadhan saja wahai hambaku. Aku minta dirimu. Untuk menghadapKu dan jangan tinggalkan Aku."
âPadahal Allah tidak butuh kita. Tetapi Dia minta kita untuk menghadapNya. Sebentar... Sebentar saja. Di akhir Ramadhan.
âTernyata... Kenikmatan paling indah di dunia. Yakni, bermesraan dengan istri. Itu memang terjeda dan tergantikan dengan kenikmatan menghadapNya.
âSelayaknya seorang peminta-minta yang terus berdiri di depan pintu seseorang yang dipinta. Terus ia ulang untuk meminta.
âDi akhir rangkaian ayat Ramadhan surah Al-Baqoroh. Ternyata Allah ingin kita jadi manusia terbaik untuk pasangan.
âSekaligus mengingatkan hambaNya.
â"Engkau ingat kan? Momen mesra kita di akhir Ramadhan? Apapun bahagiamu dengan segala nikmat dunia. Bahagia sejatimu adalah menghadap dan memenjarakan diri untuk berbincang denganKu."
âWallahu A'lam bish Showaab...