MENGAPA ISTIQOMAH ITU SOAL JIWA, BUKAN SOAL DOKTRIN DAN AGAMA!
Pagi-pagi di weekend ini, harusnya aku rebahan ngelanjutin nonton HIGH POTENTIAL, eh dilalah malah diajakin ngobrol seru. Baiklah  obrolan kami semakin serius pagi ini di Ruang Discord SNU, dan jadi mengerucut pada istilah ISTIQOMAH. Dimana kedua kakak ku ini (Sebut saja Mas R dan Kak J) menceritakan tentang perjalanan mereka menjadi Istiqomah.
Lalu aku bertanya pada Kak Joo:
LVL: "Kak J... istiqomah itu apa sih sebenernya?" Mas R: "Mgkin setara ; iklas, mengakui dan berserah y teh, Termssuk Dibalik rasa pahit, ttp disuruh bersyukur karena ada pelajaran yy terkandung,," LVL: "Intinya konsisten atau teguh pendirian right? Tapi dalam hal apa? Buat aku Istiqomah bukan dalam dogma atau doktrin agama lho, soalnya ini bukan cuma tentang ritual atau ibadah, tapi lebih ke cara hidup yang selaras sama diri kita sendiri lho..." Kak J: "y teh konsistensi was the word I was looking for! iya itu pengertianku dulu"
Aku kemudian berfikir, percakapan pagi ini sangat disayangkan kalo cuma kami bertiga yang terlibat didalamnya atau, seenggaknya teman-teman Meditasi Advance saja yg baca. Maka walaupun sebagian besar dari Kawans gak bisa ikut diskusi dlaam komentar, minimal bisa ikut baca di tulisan ini.
BING ID: lovelie_light
Kita sering mendengar kata istiqomah sebagai konsistensi dalam beribadah atau menjalankan perintah agama. Tapi, pernahkah kita merenung lebih dalam? Istiqomah sebenarnya adalah prinsip universal yang melampaui sekat-sekat agama. Ini adalah komitmen pada perjalanan spiritual kita sendiri, yang sifatnya sangat personal dan manusiawi.
Buat Kawans sekalian yang merasa jalan spiritualmu berbeda, atau yang seringkali bingung menjelaskan keyakinan pada intuisi dan hubungan dengan alam ke orang lain, tulisan ini buat kamu. Karena pada dasarnya, istiqomah itu bukan tentang 'patuh', melainkan tentang 'percaya'.
ISTIQOMAH SEBAGAI "INNER COMPASS"
Setiap orang punya kompas batin (inner compass) yang nuntun mereka. Kompas ini yang bikin kita merasa 'nyaman' atau 'gak nyaman' dengan sesuatu. Kalau kita istiqomah dalam penalaran spiritual, itu artinya kita selalu mencoba mendengarkan dan mengikuti kompas batin ini. Kita nggak asal ikut-ikutan, tapi selalu bertanya, "Apa ini resonansi dengan jiwaku?" Ini kan universal banget, semua orang pasti pernah merasakan intuisi atau 'feeling' ini, iya kan?
Kompas batin kita akan selalu mengarah ke 'kebaikan' atau 'kebenaran' versi kita. Kompas ini sering kita sebut intuisi atau "feeling". Istiqomah adalah saat kita memilih untuk terus mendengarkan dan mengikuti kompas ini, walau mungkin jalannya berbeda dari orang lain.
Ini bukan soal membangkang, tapi soal kejujuran pada diri sendiri. Seringkali, apa yang kita rasa benar dan damai datang dari resonansi batin, bukan dari ajaran yang dihafal. Saat kita istiqomah mendengarkan kompas ini, kita akan menemukan kedamaian yang otentik.
ISTIQOMAH SEBAGAI "SELF-TRUST"
Ini tentang percaya sama diri sendiri. Kalau kita bilang ke orang awam, "Saya percaya dengan energi alam dan intuisi saya," itu terdengar lebih masuk akal daripada, "Saya bersekutu dengan kekuatan gaib." Karena semua orang, terlepas dari agamanya, pasti punya momen di mana mereka harus percaya sama insting mereka sendiri. Istiqomah di sini adalah konsisten untuk percaya pada diri sendiri dan pengalaman yang kita alami, bukan pengalaman yang didoktrin orang lain.
Kalau kita percaya pada insting kita untuk memanfaatkan air laut sebagai grounding, atau merasa tenang saat berada di tengah hutan, itu adalah bentuk self-trust. Ini adalah bentuk keyakinan bahwa jalan yang kita tempuh valid dan berharga, tanpa harus mencari validasi dari orang lain atau dari buku-buku sakral. Karena yang tahu kebutuhan jiwamu hanya kamu sendiri.
ISTIQOMAH SEBAGAI "PERJALANAN PRIBADI" INDIVIDU
Setiap orang punya jalannya masing-masing. Ada yang merasa damai dengan beribadah di tempat ibadah, ada yang merasa damai saat meditasi di hutan atau melakukan grounding. Ini bukan soal mana yang benar atau salah, tapi mana yang membuat kita merasa paling terhubung dengan diri sejati kita. Istiqomah di sini berarti kita menghargai dan menjalani perjalanan kita sendiri, tanpa perlu membandingkan atau merasa lebih baik dari orang lain.
Istiqomah mengajarkan kita untuk menghargai perjalanan kita sendiri dan juga perjalanan orang lain. Bukan lagi tentang siapa yang paling benar, tapi tentang siapa yang paling damai.
Lalu Mas R menunjukkan gambar ini:
Seraya berkata: "Hidup dg menjaga skor 200 ke atas terus ?"
Lalu aku jawab:Â "Gak harus Mas... manusia punya Kehendak Bebas soalnya bukan robot, bagan itu cuma pikiran idelias aja. Dan manusia gak selalu ada dalam posisi ideal. yg penting apapun kondisinya dia ingat jalan kembali ke Tuhan, tau cara bekomunikasi dengan dirinya sendiri dan Tuhan...."
"Tuhan kan nyuruh kita jadi Manusia Mas, bukan jadi Robot."
Jadi, istiqomah itu bukan sekadar konsisten beribadah. Lebih dari itu, istiqomah adalah konsistensi untuk tetap jujur pada diri sendiri, percaya pada intuisi, dan menghargai jalan spiritual yang kita pilih.
FOKUSLAH PADA PERASAANMU, BUKAN PADA DOKTRIN ATAU DOGMA!
â§ âââ °Ëâ§â(â°âżâ°)ââ§Ë° âââ â§
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Makasih, Lovelie Light~đ















