“Mau kubuatkan teh?” tanyamu seraya berdiri. Langkahmu terhenti ketika tanganku meraih ujung belakang kausmu, membuatmu memalingkan wajah, menatapku.
“Nggak perlu, aku masih kuat puasa. Sayang kalau dibatalin,” kataku.
Kamu memutuskan kembali duduk di sisiku. Dari wajahmu kutangkap seraut kecemasan. Kamu seperti buku yang terbuka, sangat mudah kubaca. Kamu yang tidak tahan dengan jeda yang panjang, percakapan yang lebih banyak diisi diam dan aku yang tidak punya energi untuk memulai percakapan, membuatmu mengambil salah satu buku di rak bukuku: Il Postino karya Antonio Skarmeta
“Tolong keraskan suaramu, aku ingin mendengarnya. Kamu nggak keberatan kan membacakannya untukku?”
“Rebahkan kepalamu di sini,” pintamu, menepuk-nepuk pahamu.
Kurebahkan kepalaku seperti yang kamu minta. Sambil membaca, tangan kananmu mengusap-usap lembut kepalaku. Suara lembutmu membuatku mengantuk. Sebelum kantuk menguasaiku, aku mengatakan kepadamu, “dari sekian banyak hal tentangmu, aku akan selalu merindukan hari ini. Hari di mana kamu membacakan sebuah novel untukku. Terima kasih, sudah membuat hari ulang tahunku menyenangkan.”
*pict source: @hujanmimpi