Setengah Buku Tentangmu
Aku pernah ingin membuat buku untukmu. Satu cerita penuh tentang kau dan aku. Tentu dimulai saat kita baru kenalan, saat ketika menatapmu pun aku gemetaran.
Aku pernah ingin mengabadikan kisah kita. Mengukirkannya dalam lembaran cerita. Pasti seru nanti saat tua, untuk anak cucu kita baca, atau setidaknya untuk pengingat kita berdua.
Aku ingat, aku sudah mulai menulisnya. Bahkan sudah sampai bagian empat, kurasa. Di satu cerita ketika pertama kali kuajak kau ke rumah. Saat itu pula pertama kali kuajak seorang perempuan datang kerumah. Tak terlupakan memang, melihat wajahmu yang begitu bahagia dan wajah orangtuaku yang heran, kaget tak terkira. Sesekali aku tertawa sambil menulisnya.
Dan aku ingat, tulisanku tentangmu hanya sampai di situ saja.
Pernah ada hari saat sedih menindasku sebegitu hebatnya. Hari saat kau mengatakan ingin pisah. Bagaimana, aku tak bisa terima! Padahal baru semalam kau kecup aku dan kau bisikkan semoga mimpi indah!? Tanyaku dengan mata menganga. Kau diam saja. Menunduk, dan menangis menutup mata. Kuhujani wajahmu dengan bentakan, rayuan, makian, juga rengekan. Sampai lelah aku bicara, aku berlutut dan terus bertanya kenapa. Kuingat, sebelum pergi di bibirmu hanya satu kalimat tersisa, “sudahlah kak. Tangismu hanya membuatku semakin merasa bersalah”.
Sejak hari itu, kubiarkan buku catatan tentangmu tergeletak begitu saja. Di sudut rak buku termakan sarang laba-laba. Konsep kisah indah kita di masa muda, lenyap tiba-tiba di satu hari yang tak kusangka-sangka. Cerita yang kupikir akan indah ternyata berujung petaka.
Aku bisa saja menyelesaikannya, tapi apa guna jika di akhir buku aku tak bahagia. Aku bisa saja membuangnya, tapi apa guna jika cerita asli ada di kepala.














