Setiap rasa yang hadir adalah anugerah dari-Nya, maka jangan takut untuk menerimanya.
#trianamarta
seen from China

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Azerbaijan

seen from United States
seen from Ukraine

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Slovakia
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Moldova
seen from Saudi Arabia
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
Setiap rasa yang hadir adalah anugerah dari-Nya, maka jangan takut untuk menerimanya.
#trianamarta

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
(Senja pertama 2023 yang berhasil terabadikan kamera)
Pada malam yang jatuh ini, barangkali butuh dengar yang hepi-hepi. Setelah terputar gulana-nya Bilal, terlihat thumbnail dalam diam-nya Sal. Masa iya mencintai seseorang dalam diam tapi lagunya bisa buat orang berjoget ria. Mungkin mencintai dalam diam juga perlu dirayakan saking senangnya kali ya.
Lagu ini paling unik diantara deretan lagu dalam album āberhatiā. Sudut kerling matamu yang memancarkanĀ terang cahaya danĀ dalam diam aku merayakannya.Ā Mungkin aku masih gerimis yang kecil, dan bila waktunya tiba mungkin aku lebih berani.Ā
Memilih menjadi yang mencintai kadang juga kebahagiaan tersendiri. Dan, mendoakan orang yang dicintai adalah salah satu hal yang tak boleh luput dari mencintai. Keselamatan yang berulangkali kamu dapati bisa jadi adalah buah dari doa orang-orang yang mencintaimu. Barangkali dari ibu, bapak, adik, guru-guru atau seseorang yang diam-diam terus mendoakan keselamatanmu. Misalnya, aku.
Dalam Diam
Untuk kita, diam dan nyaman tak pernah menyatu Tidak seperti orang lain, memasa-bodohkan sekitar Kita tak bisa
Tak akan pernah
Karna kita bukan mereka Maka diam ini meninggalkan resah Diam ini meninggalkan sesak yang tak tersampaikan
Satu hal kuyakin Ketika ke-diam-an ini usai Aku Kau Pada waktunya
terbesit doāa dalam diam
cinta datang karena biasa
aku tak paham betul ini cinta atau bukan
tapi yang aku rasa
aku nyaman dengan percakapan kita
aku selalu menunggu kau datang
aku selalu mengkhawatirkanmu
aku selalu rindu padamu
jangankan untuk bertemu
mendengar kau baik baik saja
alahkan bahagianya hatiku
tapi, sayang ku tauĀ
kalau aku bukan tujuan mu
namun ku ingin kau tetaplah disini
temani aku melawan sepi
aku tak peduli aku bukan tujuanmu
dalam diamku iniĀ
dalam doāakuĀ
tak lupa ku sematkan doāa untukmu jua
doāaku mengiringi harimu
semoga Tuhan selalu menjaga hatimu
semoga Tuhan memberi kebahagiaan untukmu
Aku masih disini
Jika hari dapat beganti, dan waktu pun terus berlalu. Itu semua tak berpengaruh terhadap perasaan ku yang tetap membisu disini. Jika malam berganti siang, dan dingin menjadi panas. Itu semua bukan penghalang bagiku untuk tetap mencintaimu. Jika gelap menjadi terang, dan tangis menjadi tawa. Itu pun bukan alasannku untuk menyerah menyayangimu. Kau tau? Disini aku tetap mencintaimu, menyayangimu, memperhatikanmu dalam diam. Dalam diam, kau dengar? Dalam diam. Aku tak mau engkau terganggu oleh ku, oleh rasa ku perasaanku. Aku tak mau engkau malah menjauh dariku. Cukup aku yang tetap membisu, kau tak harus tau apapun.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Rasanya aku ingin menghentikan waktu, tapi aku tahu aku takkan pernah mampu.. Sejenak semua terasa begitu melelahkan, jengah menghadapi lika liku kehidupan.. Bosan menghadapi hal yang itu-itu saja terjadi.. Diam, hanya ingin terdiam, merangkul sepi.. Memeluk mimpi yang perlahan pergi tak kembali.. Aku hanya ingin diam, aku hanya ingin waktu berhenti dalam diam.
Dian Maria Andriani
Temui Aku, Rindu
Tidak ada kebetulan di dunia ini. Tidak satupun. Setiap kejadian punya alasan; kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan, bahkan pernikahan dan perceraian berpasang anak manusia. Yang sering menjadi masalah adalah banyak yang tidak tertarik untuk menelisik alasan di balik terjadinya suatu perkara dalam hidup mereka. Seolah hidup ini adalah panggung sihirāyang hanya diisi oleh mantra abrakadabraādan semua terjadi serta merta atas nama keajaiban saja. Salah satu jenis manusia itu adalah aku.
Entah sejak kapan, melangkahkan kaki ke Taman Angsa selepas jam kerja seolah menjadi kebiasaan rutinku. Tidak lama waktu yang kuhabiskan disana, biasanya hanya menunggu cakrawala redup menjingga, aku akan melanjutkan langkah menuju rumah. Seperti namanya, Taman Angsa dinamai demikian lantaran didominasi oleh danau buatan yang menjadi pusat pesonanya dengan puluhan pasang angsa putih yang berenang santai menghiasi permukaan air yang kehijauan. Selain angsa-angsa itu, ada beberapa rumpun lili air dengan bunga berwarna putih dan merah muda. Elok.
Sudut favoritku di taman itu adalah bangku kayu dengan kanopi berupa tanaman bersulur yang entah dari spesies apa. Letaknya agak jauh dari tepian danau. Tepat sepelemparan batu dari bangku favoritku itu, tumbuh dengan rindangnya pokok trembesi yang bentangan tajuknya bisa meneduhi hampir seperempat dari luas permukaan danau. Entah sudah berapa puluh tahun trembesi itu tumbuh di sana, aku menduga bahkan sebelum Taman Angsa ini ada. Itu adalah spot yang paling digemari oleh pengunjung taman, dan juga oleh perempuan pelukis itu.
Kota ini hanya jadi semacam perantauanāatau boleh dikatakan kota persinggahanākarena alasan yang membuatku tinggal adalah tuntutan pekerjaan. Aku belum mengenali tiap sudutnya, mungkin karena terlalu malas menghabiskan sisa waktuku sepulang kerja untuk berkeliaran menjelajah isi kota. Yang melegakan, kota ini tidak pernah diributkan dengan masalah kemacetan dan huru-hara seperti kota padat penduduk pada umumnya. Dan satu hal yang membuatku merasa perlu bersyukur adalah Taman Angsa itu, yang letaknya tidak lebih dari lima ratusan meter saja dari tempat kerjaku.
Setelah jam kerja yang menguras tenaga dan membuat panas kepala, biasanya aku akan melenggang keluar kantor dengan menjinjing tas kerjaku dan membeli kopi panas dalam bungkus gelas gabus yang dijual di pintu masuk taman. Tentu setelah itu aku akan duduk di bangku favoritku, melepas pandang ke arah lili air yang mengambang di permukaan danau, melihat bocah-bocah seusia anak TK melemparkan remah roti untuk makan angsa, atau mengamati seorang perempuan muda yang duduk tenang menghadap kanvas.
Gadis itu, aku menaksir usianya tidak lebih dari duapuluh duaāsebaya dengan adik perempuanku. Dia selalu duduk di bawah pokok trembesi lengkap dengan alat lukisnya. Sudah ada disana sebelum jadwalku untuk datang ke taman. Tidak pernah lewat seharipun, bahkan jika aku iseng datang ke Taman Angsa di akhir pekan untuk sekedar bersantai, dia selalu ada disana, mengenggam kuas. Aku tidak pernah tahu apa yang dilukisnya, tapi menurutku dia melukis sebagai sumber mata pencaharian, dan tempat itu adalah sumber inspirasinya untuk melukis. Mungkin saja, lagipula siapa yang tahu.
Bulan April sore itu, tunas bunga lili baru menyembul di permukaan kolam. Aku kembali melihatnya di sana, mengenakan rok payung putih gading dengan motif kembang-kembang warna merah dan jingga. āGadis manis dengan penampilan sederhana,ā pikirku. Terkadang dia melempar pandang kepadaku, atau kepada entah siapa, mengingat jarak tempat duduk kami yang hanya sepelemparan batu. Tersenyum. Aku bingung, lebih sering memilih untuk tidak membalas senyumannya. Taman itu ramai sekali, aku tidak bisa menghitung berapa besar kemungkinan dia benar-benar tersenyum kepadaku karena bisa saja ketika dia melakukannya ternyata ada tetangganya atau seseorang yang dia kenal lewat di belakangku, dan nyatanya aku memang lebih suka tidak berbesar rasa atau repot-repot memastikan senyumannya untuk siapa. Selagi aku tidak mengganggu, toh kami bisa sama-sama menikmati suasana taman yang rindang setiap sore.
Aku masih selalu rutin berkunjung kesanaāke Taman Angsaāsampai bunga lili air yang terakhir terlihat mekar bersemi di bulan September. Gadis pelukis itu juga masih sama, selalu datang lebih dulu dariku, duduk tenang di bawah naungan trembesi, tangan menggengam kuas dan menghadap kanvas. Bedanya dia tidak lagi datang sendiri. Ada seorang pemuda yang mungkin usianya sebaya denganku, duduk dengan setia menunggu di sampingnya selagi dia melukis dan mendorong kursi rodanya jika sudah tiba waktu pulang. āPasangan muda yang saling setia mendampingi dan bahagia,ā benakku. Kursi roda adalah hal baru yang belakangan ini kuperhatikan dari perempuan itu, mungkin sudah hampir sebulan dia tidak lagi berjalan dengan kakinya. Kupikir dia sedang sakit, wajahnya sering terlihat pucat, tapi aneh, matanya tetap terlihat cemerlang seolah tidak ada hal buruk atau sakit yang sedang dia rasakan. Kenapa aku bisa tahu? Tentu karena jarak kami yang hanya sepelemparan batu, ingat? Selain itu dia masih kerap melepas pandang ke arahku, sesekali, tapi lebih intens beberapa hari ini. Dan tersenyum. Tentu saja aku jadi kikuk, walaupun semula aku bisa saja bersikap biasa, tapi dengan seorang pria yang selalu mendampinginya itu aku merasa khawatir kalau-kalau di kemudian hari ada salah paham di antara kami.
Beberapa minggu kemudian tuntutan pekerjaanku makin menggila. Tidak jarang aku baru beranjak dari kubikel setelah malam mendarat di pelataran kantor, aku merasakan penat bukan kepalang sampai rasanya ingin melarikan diri dari tanggung jawab kerjaku. Aku rindu waktu berkualitas menghabiskan sore di Taman Angsa. Senja di sana jauh lebih indah daripada senja di balik jendela lebar yang terpasang di satu sisi dinding ruang kerjaku. Aku ingin melemparkan remah-remah roti untuk makan angsa, ingin melihat lili air yang mengambang dengan warna putih dan merah muda, ingin merasakan angin sejuk yang berkesiur di telinga, dan⦠aku ingin melihat perempuan pelukis itu.
Tunggu dulu!
Ada yang tidak benar. Sebenarnya tidak ada alasan untuk memasukkan perempuan pelukis itu sebagai hal yang ingin kulihat. Pasti karena kelewat penat aku jadi sentimental.Tapi, rasanya perempuan itu memang sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari Taman Angsa, atau sebaliknya, Taman Angsa telah mengukuhkan keberadaannya sebagai obyek pandang yang ingin selalu kutemukan. Tapiā¦, perempuan itu sudah punya pasangan, biar bagaimanapun tidak dibenarkan bahkan untuk sekedar memiliki keinginan untuk memandanginya.
Aku butuh liburan! Kungkungan kubikel ternyata sudah memenjarakan logika, dan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Sore berikutnya, akhir pekan, aku bebas tugas. Melegakan. Aku sudah menyiapkan diri dengan kaos dan jins belelāsetelan santaiku. Tidak perlu tanya aku akan kemana, karena otot-otot tubuhku sudah mengingat dengan sangat jelas bagaimana caranya menuju Taman Angsa. Setibanya, aku membeli segelas kopi panas dengan bungkus gelas gabus dan bergegas menuju bangku favoritku. Tidak ada yang berubah meskipun beberapa minggu aku alpa datang kesana; angin sejuk berkesiur, bocah-bocah seumuran anak TK melempar remah roti untuk makan angsa, permukaan danau yang tenang dan berwarna kehijauan meskipun tanpa kelopak lili air yang merekah dengan warna putih atau merah muda. Namun sayang, perempuan itu tidak ada di tempatnya. Tidak ada dimanapun. Mataku sudah berkeliaran memeriksa setiap sudut taman yang tidak seberapa luas itu, tetap saja tidak ada dia. Nihil. Hatiku mencelus kecewa. Aneh. Tapi Taman Angsa tanpa kehadiran perempuan pelukis itu memang terasa janggal. Seperti bukan lagi tempat yang ingin aku singgahi. Aku menunduk menatap gelas kopiku yang terasa dingin, seolah ada yang harus kuratapi sore ini. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan lembut dari balik pundakku.
āHei, lama tidak berkunjung kesini. Sibuk sekali ya kelihatannya?ā
āEhā¦oh ituā¦ā
Aku tergeragap mendapati bahwa yang menepuk pundakku dan baru saja bertanya itu adalah pria yang selalu mendampingi si gadis pelukisāpasangan yang saling setia mendampingi dan bahagia itu. Dia mengenyakkan diri tepat di sampingku. Tersenyum ramah sekali, lantas pandangannya tertumbuk pada naungan trembesi yang rindangātempat dia biasa menemani pasangannya. Aku tidak tahu sejak kapan dia mengamati keberadaanku dan paham tentang kebiasaanku datang ke taman itu. Awalnya aku berpikiran buruk dan mengira dia curiga karena pasangannya yang kerap melempar pandang dan tersenyum padaku. Apalagi sore ini dia datang sendiri, pastilah dia sudah melarang perempuan itu untuk datang lagi ke Taman Angsa. Dalam sekejap, aku disergap rasa bersalah.
Ternyata aku salah besar!
Pria itu mengenalkan diri dan mengajakku berbincang, tanpa sedikitpun ada tendensi untuk menjatuhkan tuduhan atau menanyaiku yang macam-macam. Dia bahkan tidak menyinggung masalah perempuan pelukis itu dalam pembicaraan kami. Setelah senja datang dan aku pamit undur diri, dia malah mengajukan undangan untuk ikut makan malam di rumahnya. Dia berkata bahwa malam ini istrinya sedang menyiapkan hidangan istimewa. āPantas saja dia tidak ikut datang ke taman. Perempuan yang pandai melukis dan jago masak. Betapa bahagianya pria iniā tercetus dalam batinku. Demi alasan kesopanan, aku memenuhi undangannya. Rumah mereka tidak terlalu besar, tapi pelatarannya luas dan nyaman. Sekilas aku mengira bahwa pemiliknya tentu menyukai ketenangan karena jarak rumah itu dengan rumah tetangga tidak saling berdekatan apalagi berdempetan. Di pintu masuk sudah ada seorang perempuan menyambut, pria itu lantas mengenalkan kami berdua. Perempuan itu adalah istrinya, tentu saja. Aku terkejut. Perempuan itu bukan perempuan pelukis yang biasa kulihat di Taman Angsa.
Tanda tanya besar bercokol di dalam kepala, tapi aku masih bungkam. Mereka mempersilakan aku masuk ke ruang tamu, berbincang sekedaran, lalu tidak lama istri pria itu pamit ke belakang untuk menyiapkan meja makan. Tepat pukul tujuh malam, aku dipersilakan untuk menuju ruang makan. Ruang makan itu melewati ruang keluarga dan kamar pribadi pemilik rumah. Ada lorong yang cukup panjang untuk menghubungkan antar ruang, dan di lorong itulah aku dibuat terpana. Tidak kurang dari sepuluh lukisan digantung, semuanya lukisan dengan latar belakang Taman Angsa. Lukisan itu tentu sangat familiar buatku, terlebih obyek utama yang dilukiskan di dalamnya. Aku seolah sedang berada di dalamnya, di Taman Angsa dengan semua pemandangannya yang khas dan melihat perempuan pelukis itu menggerakkan kuas di atas kanvas. Yang dilukis perempuan itu adalah seorang pria dengan gelas gabus di genggamannya, duduk di bangku taman dengan kanopi ditumbuhi tanaman bersulur. Salah satu lukisan bahkan tampak menggambarkan pria itu dengan detail mencengangkan; mulai dari ekspresi wajahnya yang tampak lelah sampai setelan kemeja kantor yang lengannya digulung sebatas siku.
Pria di lukisan itu adalah aku!
Aku tidak tahu berapa lama berdiri membeku di depan lukisan. Sampai akhirnya si tuan rumah meletakkan tangannya di pundakku dan mengembalikan kesadaran dimana aku berada. Baru saja aku seperti tersedot ke dalam suasana sore di Taman Angsa yang digambarkan dengan sempurna pada lukisan itu.
āAyo lekas ke ruang makan. Nanti kita bisa membicarakan banyak hal tentang lukisan yang barusan kau amati itu.ā
Aku masih saja bungkam. Hanya tersenyum sekilas, karena malu tertangkap basah sedang memelototi lukisan-lukisan di sepanjang lorong. Sampai akhirnya kami bertiga menghadap meja makan, tuan rumah mempersilakan aku mengambil hidangan apa saja yang aku suka. Makanan yang disajikan tentu saja menerbitkan air liurāandai saja aku sedang dalam keadaan normalādan aku menyempatkan diri untuk memuji betapa lezatnya hidangan itu, untuk keperluan formalitas.
āNamanya Sabian, dia adik perempuanku,ā telingaku langsung berdiri, ternyata kami sudah masuk ke topik pembicaraan yang aku nanti-nantikan. Si perempuan pelukis!
Dia melanjutkan, āsemua lukisan yang ada di rumah ini adalah hasil karyanya. Dan dia selalu melukis di Taman Angsa.ā
Aku tersenyum. Aku tahu fakta itu.
āKalau kau terkejut dengan obyek lukisannya, maka kau sama terkejutnya denganku. Bian tidak pernah menjadikan manusia sebagai obyek lukisannya. Setidaknya, sebelum kau sering muncul dan berkunjung ke taman itu.ā
Kepalaku menggeleyar. Senyumannya selama ini pastilah benar-benar tertuju buatku.
āBelakangan penyakitnya membuatku harus selalu menemani dia pergi kesana untuk melukis. Melukismu tentu,ā dia tersenyum penuh arti kemudian menghirup teh hangat yang baru saja dibuatkan istrinya. Aku dibuatkan juga.
Sambil pandangannya menerawang, dia melanjutkan ceritanya. āDia tidak pernah menyerah pada rasa sakit. Sirosis! Bayangkan, bahkan meskipun dia harus duduk dan didorong di atas kursi roda, Bian tetap saja berkeras ingin pergi ke Taman Angsa dan melukis. Katanya itu dia lakukan biar tidak perlu merasa rindu.ā
Ulu hatiku ngilu seperti diremas-remas, seolah aku yang menderita sirosis. Sejenak suasana hening mengambang di antara kami. Aku tidak tahan untuk tetap berdiam. Akhirnya aku berinisiatif untuk menanyakan tentang keberadaan perempuan pelukis ituāSabian. Aku ingin bertemu dengannya. Sangat ingin sekali sampai rasanya aku sanggup berlari demi melihat dia yang sedang menggenggam kuas dan duduk di depan kanvas.
āWah, sayang sekali, dulu dia tinggal bersama kami. Tapi sekarang tidak lagi,ā ada ekspresi janggal dari wajah pria itu yang tertangkap oleh mataku. Dia menundukkan kepala menatap cangkir tehnya. āTapi, ngomong-ngomong besok adalah hari istimewa buatnya, kami berencana untuk mengunjungi Bian. Kau mau ikut?ā
Pria itu tidak perlu menungguku menjawab, karena tiada lain, jawabannya pastilah āiyaā. Saat ini tidak ada hal lain yang lebih kuinginkan selain menemui perempuan pelukis itu. Dia adalah alasan untuk ratusan kunjunganku ke Taman Angsa. Selama ini aku terlalu keras kepala untuk mengakui itu, bahkan sampai harus menyembunyikan nyeri ketika tahu ada pria yang telah mendampinginyaāyang ternyata adalah kakaknyaādan merasa hampa ketika menyadari ketidakhadirannya disana.
Esoknya, kami bertiga sudah mengemudi menuju pinggiran kota. Sepanjang perjalanan kakak Sabian banyak mengajakku berbicara tentang Taman Angsa. Dia memberitahuku bahwa taman itu sudah ada sejak Sabian masih kanak-kanak sekali. Dan sejak itulah Sabian suka berkunjung kesana, belajar melukis, karena dia suka sekali dengan cat minyak yang berwarna-warni. Dia tak pernah pergi dari kota ini karena riwayat penyakitnya, bahkan tidak bisa melanjutkan sekolah tinggi di jurusan seni seperti impiannya karena dia harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit jika penyakitnya anfal. Oleh sebab itu Taman Angsa dan melukis adalah satu-satunya penghiburan untuk Sabian. Sampai akhirnya kakak Sabian mulai menyadari bahwa adik kesayangannya itu melukis obyek selain angsa-angsa yang berenang atau langit dan awan jelang senja.
āBian itu perempuan pendiam. Dia tidak banyak bicara apalagi soal perasaannya sendiri. Makanya ketika tahu dia melukismu, aku berpikir bahwa pastilah kau istimewa sekali buatnya.ā
Aku tersenyum kecut, tidak tahu harus berkata bagaimana. Apalagi jika mengingat berapa puluh kali aku mengabaikan senyuman perempuan pelukis itu.
Akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Tempat yang begitu familiar, karena pemandangan danau dan rimbunan pohon yang ada sangat mirip dengan Taman Angsaātapi tidak ada seekorpun angsa disanaādan bedanya suasana disini hening sekali. Disanalah Sabian berada. Dia menunggu kami. Atau mungkin sedang menungguku menghampirinya disitu.
Kakaknya membuka suara, memecah keheningan yang membuat tidak nyaman. āSelamat ulang tahun, Bian. Kamu pasti bahagia sekali hari ini. Pria dalam lukisanmu itu juga ingin ikut datang merayakan. Kali ini kamu bisa menyapanya, tidak perlu sembunyi-sembunyi memandangnya lagi.ā
Kakiku seperti beku, aku tidak percaya akan menemui Sabianāperempuan pelukis di Taman Angsaāyang keberadaannya kerap menjadi candu. Aku tak percaya akan menemuinya dalam keadaan seperti itu. Tungkaiku lemas sekali, aku jatuh berlutut dan seperti tidak punya tenaga untuk berdiri lagi.
āHalo Bian, akhirnya kita bertemu lagi disini. Setelah ini aku pasti akan sangat ingin melihatmu duduk dan melukis di Taman Angsa. Dan kamu harus tahu, ternyata aku ingin sekali menemuimu karena aku rindu.ā
Aku mengusap nisan dengan ukiran namanya. Airmataku ruah.
Fiktif. Kota Satria, 13 Maret 2016.
Haruskah aku bersabar tanpa batas? karena mencintaimu dalam diam?