Ada kisah sederhana ketika Adik Ame bercerita kepadanya tentang seekor badak yang cukup mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ia bawa. Biasanya, Ame sungguh tidak memedulikan apapun yang diceritakan adiknya karena hanya sebatas imajinasi anak kecil yang cukup ia dengarkan saja tanpa perlu dibawa serius. Namun kali ini berbeda ketika adiknya bercerita serius padanya ketika ia sedang duduk santai di sofa ruang tamu.
“Kak, masa tadi aku nemu badak di depan gangnya Wati?”
Ame masih pada ponselnya.“Ah masa?”
“Kali ini aku bener-bener liat pake kedua mata aku sendiri!” nada adik Ame mulai serius dengan wajah ekspresifnya.
Sepertinya, kali ini apa yang diceritakan benar-benar terjadi dan Ame mulai sedikit terpancing untuk lebih banyak mengetahui cerita adiknya itu dengan mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“seriusan?! badaknya ga nyerang kamu?”
Adik Ame menggeleng kuat.“Nggak, dia diem aja. Aku liatin terus tuh dari jauh. Dia ga gerak-gerak! Kan aku jadi khawatir sama dia.”
“Dia kenapa emang? Sakit?”
“Ga tau. Dia ga gerak sama sekali.”
Ame semakin gencar mencari tau lebih.“Kenapa ga kamu ajak ke rumah aja?”
“Aku sempet coba deketin badaknya, ngajakin pulang ke rumah juga. Tapi badaknya diem aja. Yaudah ga aku paksa. Aku buang deh dia ke tempat sampah daripada ganggu di jalan, kan?.”
Ame mulai bingung maksud perkataan adiknya.”Hah? Dibuang?”
“Iya. Badak yang ada di kaleng minuman itu lho kak! Tau nggak?”
Jadi yang dimaksud adiknya itu kaleng minuman?!
Ingin rasanya Ame mengumpat pada adik kecilnya. Emosinya tersulut dengan mudah hanya karena cerita tidak bermutu adiknya. Wajah Ame sudah merah padam. Betapa bodohnya ia mempercayai perkataan adik kecilnya itu. ‘Buang-buang waktu aja!’ batin Ame seraya bangkit dari duduknya.
“Mau ambil badaknya. Mau kakak bunuh biar mati!”
Adik Ame cuma bergidik ngeri mendengar celetuk kakaknya.
-----------------------------------------------------------