Katanya kalau kita tiba-tiba sedih dan nangis tandanya Allaah lagi kangen ya sama kita?
Mungkin iyaa.
Hari ini adalah hari yang cukup aku nantikan karena hari ini bisa menuntaskan sakaw aku akibat alam. Kurang lebih jam setengah 6 pagi ini aku berangkat bersama sahabatku menuju Kaki Gunung Burangrang untuk bertemu dengan 5 rombongan motor lain untuk sama-sama menjelajahi separuh gunung ini. Kami mulai mendaki jam 6 lebih 10. Aku cukup excited karena aku ini akan jadi petualangan pertama kali akan mendaki hingga puncak Burangrang. Seperti biasa mendaki memang melelahkan, ditambah lagi lama tidak hiking dan jarambah ke alam. Tapi kenapa ya mereka sangat membuat candu?
Sepanjang jalan aku cukup kelelahan, nyaris menyerah hahaha. Tapi perlahan saat rombongan memutuskan jeda sejenak di setiap posnya. Aku duduk memandangi, mendengar dan mencoba menyimak dengan baik apa yang tersaji dihadapanku saat ini. Pepohonan yang rimbun, akar pohon yang membentuk tangga, jalanan yang basah meski sedang tidak hujan, suara serangga dan burung yang saling bersaut. Indah. Aku tidak tau kata apa yang tepat untuk menggambarkan semuanya selain ‘MasyaaAllaah’.
Pendakian cukup memakan waktu 3 jam untuk mencapai tugu puncak Gunung Burangrang. Kami beristirahat sejenak, makan dan menjelajah tidak lupa berfoto-foto.
Entah kenapa rasanya pendakian kali ini cukup diburu-buru. Karena biasanya kalau hiking aku pribadi orang yang cukup santai dan saat sampai puncak akan duduk, menyeduh kopi, kadang akan masak-masak lalu diam menyimak alam, saling diam untuk sama-sama merenung memandang alam yang luar biasa cantiknya. Tapi kali ini si kami haya satu setengah jam di puncak lalu memutuskan turun lagi dan sampai ke parkiran di jam setengah satu siang. Sebuah rekor! Karena biasanya kalau hiking pasti turunnya menjelang waktu ashar atau bahkan bisa lebih sore lagi.
Sesampainya dirumah, semua perjalanan selama menjelajahi hutan belantara itu berputar lagi didalam kepala. Entah kenapa ada perasaan yang sedih mengiringi bayangan itu. Air mata jatuh begitu saja. Indah. Terlalu indah. setelah turun, lagi-lagi aku ingin sekali menjelajahi Bumi Allaah di bagian yang lain. Dan disatu sisi lain rasanya sedang merasa kehilangan arah. Bingung sebetulnya jalan yang aku ingin ambil itu kemana.
Iya menjelajahi alam itu melelahkan. Mendaki gunung itu membuat lelah. Tapi mengapa rasanya selalu ingin kembali ke sana. Setiap sampai puncak dan melihat pemandangan seperti apa disana selalu membuat terkesima dan berdamai dengan lelah.
Sering sekali aku merasa bersyukur karena masih punya lingkungan yang ngajak mainnya pasti ke alam. Rungsing dikit larinya ke alam. Curhat disana, nangis disana, diem dan cukup mendengar suara alam. (Maklum karena dulu anak STM jadinya temennya pada doyan blusukan ke alam).
Setelah nangis dirumah tadi, akhirnya aku tau sebetulnya aku sedang rindu dengan lingkungan yang selalu mengajak dalam kegiatan kebaikan, rindu dipaksa berbuat baik. Rindu banget.
Sekian cerita per blusukan duniawi ke Gunung Burangrang hari ini.
Waterenough, 18 Mei 2023
22.57 WIB
















