Terhitung berapa waktu yang sudah berlalu ya hingga akhirnya aku benar-benar bisa mengambil banyak hikmah sambil tersenyum dan tertawa setiap kali mengingatnya.
Saat itu kamu tahu gak sih gimana tercekatnya aku waktu baca sebuah berita kamu mau nikah? Haha. Aku inget banget bahkan sampai saat ini masih jelas rasanya gimana tubuh dan pikiranku beku sesaat saat itu. Padahal aku udah berspekulasi loh kalo kemungkinan besar kita gak akan bersama sih. Tapi meskipun sudah memikirkan kemungkinan itu, tetep aja sakit ya pas tau kenyataannya memang terjadi.
Bahkan pertemuan beberapa minggu setelah kamu nikah aja aku bisa bersikap biasa aja seakan-akan ya emang kita gak pernah ada apa-apa. Eh malah kamu yang mancing, ngomongin soal nyesel lah gak nembak istri kamu dari tahun lalu. Dan bisa-bisanya saat itu aku jalan bertiga sama kamu dan istri kamu. Sumpah sih disitu berasa kambing congek diantara penganten baru wkwkwk. Tapi begitu sampe rumah aku berpikir ulang, kok aku bisa sih kayak gitu, menyakitkan banget tau. Udah sholat isya cuma bisa nangis sambil menertawakan kebodohan diri ini. Tapi kamu harus tau aku bangga sama diri aku karena aku berhasil gak keliatan galau depan kamu yang kayaknya sengaja mau manas manasin aku ya hahaha.
Yah setelah beberapa bulan berlalu, jatuh, patah, sakit dan menyesal sudah aku lalui, akhirnya aku menyadari beberapa hal, kenapa ya skenario Allah gini banget? kita yang satu almet tapi gak pernah ketemu karena beda angkatannya lumayan bisa dipertemukan di tempat yang sangat gak terduga, latar belakang kita yang mirip-mirip, treat dari kamu yang beda dan bikin kita sering banget diceng-cengin satu grup, aku yang dibuat kerja deket tempat kamu tinggal dan banyak hal lain yang kayaknya kalo main cocoklogi tuh kita cocok deh.
Tapi ternyata aku ada untuk jadi pelajaran buatmu dan kamu ada untuk jadi pelajaran buatku. Pertemuan kita hanya untuk saling mengajarkan. Bahwa jangan buat pilihan dengan awalan yang gak jelas. Karena ketidakjelasanmu itu cuma mengundang tanya. Pada akhirnya kamu akan membuang banyak waktu untuk mempertimbangkan pilihanmu sendiri. Padahal akhirnya kamu tetap pada pilihan yang pertama kan?
Dan buatku, kamu itu pelajaran berharga yang berhasil menyadarkan aku kalau nanti di depan aku berjumpa lagi dengan sosok macam kamu lagi yang gak bisa to the point, yang ngedeketin aja tanpa ngasih kejelasan di saat aku masih punya keinginan berpetualang, aku harus berani nanya, maksud kamu apa? Kamu punya tujuan apa memperlakukan aku kayak gini? Aku punya banyak hal yang masih ingin dilalui, kamu mau nemenin aku gak?
Kalau seandainya kamu gak bisa ya kita cut aja dari sekarang, supaya aku gak ngerasa digantung dengan harapan yang sebenarnya cuma bayangan aja, dan kamu gak dibuat menunggu sama pilihan kamu yang gak pernah dikasih kejelasan.
Jadi kalau kata Bernadya "Sinyal-sinyal darimu tak jelas, atau mungkin aku kurang cerdas"
Terus kalau kata Tulus "Ku kira kita akan bersama, begitu banyak yang sama latarmu dan latarku. Ku kira tak akan ada kendala, kukira ini kan mudah, kau aku jadi kita. Kau melanjutkan perjalananmu, ku melanjutkan perjalananku"
Kata Juicy Luicy " Kata kau utara kan berbeda dengan laju kapalku yang mengarah tenggara"
Satu lagi yang relate dari Daun Jatuh "Tapi setidaknya kau telah mengubahku dari resah menjadi luka"
Lalu pada akhirnya kalau kata Hal "Terima kasih atas segala rasa, pada hari itupun aku turut bahagia"
Tapi kalau kata aku " Terima kasih atas segala tanya, pada hari itu teka-tekiku terjawab"
Ketika kisahnya udah bisa ditertawakan dan diceritakan seperti lelucon itu tanda aku sudah baik-baik saja. dah~
Waterenough, 23 Agustus 2023
1 minggu menjelang resign kerja