Aku mengibaratkannya seperti cahaya bintang.
Dekat dalam pandang, namun tak benar-benar dapat diraih. Indah dilihat, hangat dirasakan, tetapi tidak selalu diciptakan untuk digenggam.
Ia datang ketika diriku tenggelam dalam hitam. Saat langkahku kehilangan arah, saat hatiku mulai lelah, dan saat aku hampir percaya bahwa aku telah terlalu jauh tersesat.
Melalui dirinya, Allah seperti sedang mengingatkanku bahwa aku belum sepenuhnya hilang.
Darinya, aku belajar kembali menatap langit. Darinya, aku mulai mengingat Allah lagi. Darinya, aku merasa ada yang pelan-pelan menuntunku pulang.
Begitulah ia datang dalam hidupku. Tidak dengan suara yang riuh, tidak pula dengan janji yang besar. Ia hanya hadir, lalu tanpa sadar menjadi terang kecil di sudut gelap yang selama ini kusembunyikan sendiri.
Aku tahu, setiap pertemuan pada akhirnya akan berjumpa dengan perpisahan. Tetapi kali ini, bahkan sebelum ia benar-benar pergi, hatiku sudah lebih dulu merasa kehilangan.
Aku tidak tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. Apakah Allah masih akan mempertemukan kami lagi setelah ini, atau justru menjadikan pertemuan kali ini sebagai cara paling lembut untuk mengajarkanku tentang kehilangan.
Tapi satu hal yang ingin kusimpan baik-baik: ia pernah menjadi sebab aku ingin pulang kepada Allah.
Dan mungkin, itulah makna terdalam dari kehadirannya.
Tentang bagaimana Allah bisa mengirimkan satu manusia untuk menyalakan kembali iman yang hampir padam. Tentang bagaimana sebuah pertemuan bisa menjadi jalan pulang. Tentang bagaimana cahaya yang tidak bisa kugenggam, tetap mampu menerangi langkahku.
Jika nanti ia benar-benar pergi, semoga aku mampu memandangnya seperti cahaya bintang. Jauh, mungkin tak tergapai, tetapi pernah indah. Pernah nyata. Pernah sampai kepadaku tepat ketika aku membutuhkannya.
Aku tidak ingin menjadi seseorang yang menggenggam cahaya sampai lupa kepada Pemilik cahaya.
Sebab ia adalah cahaya yang Allah hadirkan. Dan kepada Allah-lah, seluruh cahaya akan kembali.
Maka semoga hatiku belajar tenang. Semoga aku memahami bahwa jika dia memang cahaya yang Allah kirimkan, maka Allah yang sama juga tahu bagaimana cara menerangi jalanku setelahnya.