Maafkan diri kita yang dulu, ya.
Ada waktu-waktu dalam hidup ketika kita duduk diam, lalu tiba-tiba diserang oleh kenangan sendiri. Bukan kenangan yang manis, tapi yang datang membawa tanya: mengapa aku dulu begitu? mengapa aku tidak bisa sedikit lebih sabar, sedikit lebih bijak, sedikit lebih kuat? mengapa aku mengambil keputusan itu? mengapa aku tidak berusaha lebih keras? mengapa aku membiarkan hal itu terjadi?
Dan entah bagaimana, rasa bersalah itu tumbuh pelan. Tak berisik, tapi melelahkan.
Kita mengulang masa lalu seperti lagu yang retak di kepala. Mencari kesalahan di antara napas dan keputusan. Padahal, diri yang dulu tidak tahu apa yang kini kita tahu. Ia hanya berjalan sejauh pemahamannya, dengan tenaga yang tersisa, dengan hati yang mungkin nyaris menyerah.
Mungkin itu bukan kebodohan. Mungkin itu hanyalah bentuk bertahan.
Kita sering lupa bahwa kadang pilihan paling “salah” pun adalah cara jiwa kita menyelamatkan diri. Kita menyebutnya kegagalan, padahal bisa jadi itu adalah upaya paling tulus yang kita miliki saat itu.
Dan jika hari ini kita bisa menoleh ke belakang dengan sedikit lebih tenang, bukankah itu bukti bahwa kita tumbuh? Bahwa semua yang dulu terasa berat akhirnya membawa kita ke titik ini, di mana kita bisa berkata, “Aku mengerti sekarang. Aku tidak sempurna, tapi aku berusaha.”
Percayalah, tidak ada langkah yang benar-benar sia-sia. Tidak ada versi dari diri kita yang patut dibenci. Yang dulu telah membawamu sejauh ini, walau jalannya berantakan, walau sering menangis diam-diam di tengah malam.
Maka hari ini, jangan biarkan dirimu yang sekarang menjadi hakim bagi dirimu yang pernah. Berikan ia pelukan. Katakan padanya, “Terima kasih sudah bertahan. Aku akan melanjutkan sisanya dengan lebih lembut.”
Mungkin begitulah seharusnya: kita belajar memaafkan diri sendiri sebelum berani melangkah lagi.
Dan dalam keheningan itu, kamu akan menyadari mempercayai diri sendiri ternyata bukan perkara yakin pada masa depan, tapi berdamai dengan masa lalu yang tidak akan kembali.











