Dari penampilan agamis, dari sikap apatis. Dari bicara romantis, dari muka sinis.
Pasti selalu ada minusnya. Itulah mengapa kau dipertemukan dengannya.
Yang penting karakternya tidak bengis dan agamanya bukan ateis.
seen from Canada

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from South Africa
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Canada
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Saudi Arabia
seen from India

seen from Canada
seen from Türkiye
Dari penampilan agamis, dari sikap apatis. Dari bicara romantis, dari muka sinis.
Pasti selalu ada minusnya. Itulah mengapa kau dipertemukan dengannya.
Yang penting karakternya tidak bengis dan agamanya bukan ateis.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Fikrah Mahasiswa Dipertanyakan
🗃
Fikrah Mahasiswa Dipertanyakan
Kampus bukan hanya menjanjikan pendidikan, organisasi, karier dan hal intelektual lainnya. Mahasiswa ketika awal beraktivitas di kampus, memiliki fikrah (ideologi) yang masih ia yakini sejak kecil. Namun, lambat laun fikrahnya akan berbeda. Jika tak sejak kecil memiliki fikrah yang kuat, akan ada serangan dari arah mana saja. Hitam dapat tampak putih dan putih akan tampak hitam. Abu-abu. Fikrah yang dipahami sejak kecil belum tentu dapat bertahan ketika menjadi mahasiswa. Suatu ketika temanku bercerita bahwa, mahasiswa di kampusnya ada yang beragama Islam, namun ia tak menjalankan syariat. Menjalankan ajaran Islam hanya di rumah, untuk menghormati orang tuanya. Ia menyebut dirinya sebagai agnostik.
Agnostik dapat didefiniskan orang yang skeptis terhadap tuhan (dan agama), tetapi tidak menepis adanya tuhan. Jika ia diberi bukti yang kuat dapat saja percaya mengenai tuhan. Bagi orang agnostik, tak mau percaya agama dan tuhan jika tanpa bukti. Ada pula mahasiswa yang awalnya beragama menjadi ateis. Ateis dianggap orang-orang yang tak percaya tuhan apalagi agama. Ada juga mahasiswa yang awalnya ia berjilbab, ketika kuliah ia melepas jilbab. Sebab keyakinannya berubah bahwa, jilbab bukan kewajiban bagi perempuan. Hal-hal tersebut terpengaruh dari lingkungan mahasiswa. Lingkungan yang tak mendukung fikrahnya sejak kecil. Lingkungan yang tak mampu diubah, dan mahaiswa harus mengikuti lingkaran pertemanan. Jika mengalami perbedaan, tetap jalin pertemanan. Berbaur tetapi tak melebur. Seperti yang dicontohkan Mohammad Natsir, ia seorang pemimpin partai Masyumi, tetapi bisa berbincang-bincang dan minum kopi bersama D.N Aidit. Padahal D.N Aidit pentolan PKI (Partai Komunis Indonesia). Meski tetap adu argumen ketika berada di dalam gedung parlemen. Betapa perbedaan fikrah tak membuat keduanya saling membenci.
Keyakinan kita ketika kecil dapat berubah sering waktu, apalagi ketika menjadi mahasiswa banyak hal yang belum dipahami. Bahkan aku yang beragama Islam mengalami gejolak perbedaan. Di awal menjadi mahasiswa akan ada organisasi atau orang-orang yang mencoba mengubah fikrahmu. Hal yang sudah dipahami atau diyakini akan kamu pertanyaan.
Jika pertanyaan dalam benakmu, mampu dicari tahu dan menemukan jawabnnya. Selamat kamu tetap bertahan pada fikrahmu, terutama tuhanmu. Imanmu kokoh! Jika tak mampu kamu akan menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Karena pertanyaan itu tak berkesudahan. Menjawab gejolak pertanyaan tak melulu dengan buku. Membaca buku kadang belum menjadi jawaban tentang pertanyaan yang timbul. Diskusikan hal yang tak mampu dinalar atau sesuatu yang tampak asing. Karena kebuntuan ada, sebab kamu diam.
ateyisler dini bayram tatillerini kullanıyor mu yav
Lenin Percaya Jimat? Ironi Tokoh Ateis dan Kemusyrikan Umat Islam
Bismillah… Aqidah : [Bagian Ke-2] Kitab At-Tauhid Berikut kami sampaikan Seri Kajian Aqidah Islami yang dibawakan oleh Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib رحمه الله , di Masjid Utsman bin Affan, Ma’had Ihya ‘Us Sunnah, Degolan, Yogyakarta, yang membahas Kitab At-Tauhid, karya Asy-Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan حفظه الله . Silahkan di simak dan di download di sini : Bagian Ke-2 Kitab…
View On WordPress
Aku Pernah Agnostik!
Sebagai manusia yang tumbuh besar di Indonesia dan beragama Islam, aku merasa sangat beruntung. Menjadi muslim di Indonesia adalah sebuah privillage. Sebagai contoh kecil privillege yang aku rasakan: aku sering kali diminta menjadi MC di beberapa komunitas/acara. MC tentu saja tugasnya adalah membuka/menutup sebuah acara. Teringat dahulu ada temanku non islam, yang diberi tugas memandu acara, dia tidak percaya diri karena memandu acara di komunitas yang plural. Saya pun bingung mengapa dia tidak PD, karena yang saya tahu dia adalah orang yang cukup percaya diri untuk tampil di depan umum.
Dia berbisik-bisik ke saya, "Ser, kamu aja ya yang jadi MC" saya balas.. "eh.. lha lapo kok aku... emoh..." usut punya usut, ternyata ini dikarenakan dia bingung dan kagok jika harus membuka dengan kalimat "Assalamualaikum Wr.Wb".
Dia pun melanjutkan perkataannya, "Nanti kalian nggak boleh menjawab salamku to..... karena aku non muslim".
Aku MAK DEG!. iya.. benar juga! kebenaran komunal umat muslim adalah jika ada non muslim yang memberikan salam Assalamualaikum Wr. Wb. maka tidak wajib dijawab atau dijawab dengan kalimat "waalaikum/waalaikumsalam" tidak dengan kalimat lengkap warrahmatullahi wabarakatuh.
Hal ini sontak membuatku berfikir, iya juga.. terlahir menjadi non muslim, hal simpel untuk membuka acara saja mereka harus berfikir 2x.
Pengalaman lain, sekitar tahun 2010/2011 ketika saya kuliah di luar negeri juga menggiringku ke situasi yang merangsang otak nalar logisku tentang ilmu islam itu sendiri. Berada pada lingkungan negara yang mayoritas non muslim bahkan atheis, memicu pengalaman-pengalaman unik.
Suatu ketika ada kawanku local student bertanya kepadaku, "Do all muslim women wear hijab?", aku membalas "No".
Wajahnya nampak bingung. Lalu dia menunjuk temanku yang muslim sebelahku yang kebetulan tidak berhijab. Dia kembali bertanya.. "how about you, are you muslim?", temanku menjawab "Yes". So why you are not like Asri wear the veil? is in not mandatory to wear hijab?". Temanku bingung menjawab. Aku mencoba mencairkan suasana dan menjawab dengan simple. "actually it's fashion style, however we must dress modestly and not too reveiling". (sebenarnya ini hijab adalah gaya fashion, akan tetapi dalam islam kita harus berpakaian sopan dan tidak terlalu terbuka). Kawanku local student terlihat bingung mencoba mencerna perkataanku.
Berada di negara orang dengan lingkungan yang bukan mayoritas muslim tentu saja ada orang-orang yang menyerukan bahwa kita tidak boleh berteman terlalu dekat dengan orang-orang "kafir", karena dilarang oleh agama. Mereka menambahkan ujarannya dengan dalil-dalil Al-Quran agar tidak berteman dengan orang yang bukan seagama/islam.
Kejadian ini sangat membuat nalar logikaku berkecamuk, mempertanyaan tentang "Siapa Tuhan". Apakah Islam agama yang benar?
Jika hanya orang yang ber-KTP islam yang masuk surga, maka hanya sejak zaman 500 M ketika Nabi Muhammad memulai syiar tentang islam saja yang masuk surga?
Tidak masuk akal, berarti dari manusia pertama - Nabi Muhammad tidak ada yang masuk surga? Tidak mungkin Allah adalah Tuhan yang tendensius seperti itu, lalu buat apa Sang Khalik menciptakan manusia dari awal jika hanya yang ber-identitas Agama Islam saja yang boleh bahagia di alam selanjutnya.
Sejak momen tersebut, aku berubah menjadi seorang Agnostik....Percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa tetapi Meragukan tentang eksistensi dan siapa sebenarnya Tuhan!
Situasi ini menghadapkanku pada keraguan tentang islam. Dan akhirnya memaksaku untuk mempelajari hakikat Islam dan Al-Quran lebih dalam. Aku membaca dengan teliti kitab dan terjemahan. Kata yang aku cari pertama kali adalah "KAFIR".
ASw 10 Oktober 2024

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Demam Ateis Melanda Arab Saudi dan Iran, Kenapa?
RIYADH (Arrahmah.id) — Arab Saudi dan Iran merupakan dua negara yang memiliki corak Islam yang kental dalam masyarakatnya. Bahkan, Saudi dikenal sebagai negara tempat munculnya Agama Islam, sementara Iran merupakan pusat masyarakat Syiah. Meski begitu, mulai muncul kelompok masyarakat negara itu yang justru memilih untuk tidak beragama. Mereka bahkan disebut-sebut telah memiliki paham Ateis, yang…
Kenapa Kamu Memilih Ateis? Beberapa alasan dari mereka adalah.
Sebenarnya apa itu Ateis, Arti Ateis adalah sebuah pandangan filosofi yang percaya tidak adanya keberadaan Tuhan atau entitas ilahi dan dewa-dewi, atau pun penolakan terhadap Teisme (percaya Tuhan) yang di sertai dengan klaim.
Ateis atau disebut Ateisme pastilah tidak sudi untuk memeluk agama atau bergabung dengan aliran kepercayaan apapun.
Jadi, Apa Alasan Mereka Menjadi Ateis
Seseorang telah memiliki alasan yang cukup kuat untuk memilih keputusannya menjadi seorang Ateis, bahkan mereka yang sudah memiliki keyakinan sebelumnya dan memutuskan untuk meninggalkan keyakinan dan memilih jalan hidup tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan.
alah satu seseorang menjadi Ateis adalah karena mereka merasa kecewa dengan agama. Bagi beberapa orang, pengalaman tertentu dapat sangat merusak atau menghancurkan keyakinan mereka terhadap agama.
Kekecewaan terhadap agama ini berasal dari pengalaman negatif atau menyaksikan tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang mereka anut.
Tidak Percaya Pada Keberadaan Tuhan
Secara umum yang di maksud dengan Ateis adalah ketidakpercayaan pada keberadaan Tuhan, ini menjadi alasan utama mereka memilih menjadi seorang Ateis.
Mereka menganggap argumen dan bukti yang diajukan oleh penganut dan tokoh agama tidak cukup kuat untuk meyakinkan bahwa keberadaan tuhan itu nyata adanya
Sebagai manusia, kita semua berusaha untuk menemukan kebenaran dan makna dalam kehidupan kita, bagaimana kehidupan mereka dengan kepercayaan yang mereka yakini tyanpa adanya entitas Tuhan, Selengkapnya yuk di rumah Berkat
Tidak Mengakui Konsep Kenabian, Apakah Ibnu Ar-Rawandi Ateis?
Tidak Mengakui Konsep Kenabian, Apakah Ibnu Ar-Rawandi Ateis?
tebuireng.co- Ibnu Ar-Rawandi atau Abu Husain Ahmad bin Yahya bin Ishak Ar-Rawandi adalah salah seorang pemikir bebas yang jarang diperdebatkan oleh orang banyak bahkan ia dituduh sebagai ateis, sebuah pandangan filosofi yang tidak mempercayai adanya keberadaan Tuhan atau menolak keadaan Tuhan. Ibnu Ar-Rawandi lahir di Khurasan sekitar abad ke-3 Hijriyah, ia adalah seorang penganut Mu’tazilah di…
View On WordPress