Amarah Mengganggu pikiran dalam sukma.
Sebenarnya apa yang ia cari? Dahulu kilap itu bersama keluh tapi, kini pada apa daya kita ingat suatu waktu tidak pernah lalu. Terus berputar, putar, dan terputar sampai …, daya dalam baterai karangan menjadi abu bersedu. Katanya, akan selalu cerah dalam apinya, katanya akan selalu melihat dalam sudutnya, katanya akan datang untuk jalan dalam waktu yang sama, katanya akan suka dalam bahagia pada simpul kala waktu, katanya akan berlari dalam jalan untuk sama ombak, katanya kamu-kamu pergi ke samudra untuk menemui hiu tanpa hiasan yang membersamainya, katanya, katanya, katanya, dan katanya. Semua buat melati tak kuncup, mekar dalam gersang hingga fajar tak lagi menemuinya. Maka ‘KATA’ mana yang perlu kamu-kamu rangkai untuk jadikan untaian tanpa kubang hampa dari nyata.
Mungkin, waktu akan menjawab. Jawaban yang semestinya kita tahu berdasar apa. Apakah begitu kamu-kamu? Pasrah, pasrah dalam ringan. Lalu apa yang kamu-kamu bawa? Yang pasti bukan segenggam mawar layu, sungguh tidak. Sesungguhnya layu itu masih harap dalam warna yang pudar, maka kamu-kamu sebaliknya. Harap apa yang berhasil dilabuhi? Harap dilabui? Atau harap maklum. Tidak, kata lantang yang hati jerit suatu ketik. Banyak nada menari dalam garis luar yang acak. Kadang ia berharap dipandang dalam seksama, tapi kadang tidak perlu ada angin yang tahu apa isi dari segumpal tinta kuning. Cukup, apakah bisa kamu-kamu lemparkan saja kain tak berwarna, tidak putih, tidak abu, dan tidak hitam, jauh sejauh apa yang pernah kamu-kamu tumpuk di kepalaku. Rela, mana ada yang perlu dilakukan dalam makna itu, semua bahkan lebih lalu dari angin dingin yang lalu. Selesai, akankah?.
Dalam dasar lautan yang menenggelamkan jariku, ada otak-otak tersendiri yang menyendiri. Kadang ia bicara tentangmu, kadang ia khawatir keadaanmu, kadang ia tak peduli. Apakah sepenuhnya tidak peduli?, tidak pasti. Kemudian gelas kaca keras dalam beningnya, ‘’Tidak bisa kah kau buat aku jelas?,’’ tentu akan kujawab, ‘’Mau sejelas apa emang?, kurang jelas gimana?. Bahkan aku hampir tidak terlihat.’’ Aku akan bahagia bila kamu diam, sunyi, dan tidak menjauh. Mu, senyumku menjadi indikator kegilaanmu. Semakin kau gila, semakin luas senyumku di langit. Bukannya hendak membuatmu menangis, tapi normalku bersama dengan sakitku. Bukan bagaimana pandangmu dari langit tapi, bagaimana aku selalu bahagia melihatmu dalam ketenangan. Mu, akan ada waktu saya dan sekitaran taman itu menjadi lukisan indah yang juga buat langit penuh akan hias. Waktu di mana semua akan jelas dalam garisnya, indah dalam bentuknya, sejuk dalam lagunya.















