ANAK RANTAU ; IN MY SIMPLE OPINION
Penerbit : Falcon Publishing
Terbit : Agustus 2017 (Cetakan ke 2)
Tentang Hepi dan kasih sayang ayah, nenek dan kakeknya. Tentang persahabatan dengan saudara sebaya di kampung halaman. Tentang belajar mandiri dan jadi lebih berani. Tentang melindungi tanah yang dicintai.
Perlu lumayan lama buat ngeberesin novel ini. Anggaplah memang banyak hal lain yang aku kerjain (uhuk! Syibuk). Tapi yang jelas kalo baca karya Bang Fuadi kayanya perlu mood yang tenang dan tenteram. Gak bisa asal baca blas trus maen tutup dan tinggalin aja. Itu imaji yang udah kebangun bisa bubar dan butuh waktu lagi biar gambarannya bisa sama. Jadi yaah.. maafkanlah saya.
Agak ketipu sama judulnya. Kan “Anak Rantau” ya. Kirain bakalan cerita tentang orang yang asalnya dari daerah trus merantau ke kota dan kisahnya di kota besar. Ternyata kebalik. Emang awalnya dari si Ayah yang pergi dari desa ke ibu kota, tapi trus si anak malah dibawa balik mudik buat sekolah. Kisah ini dari si anak kota tadi. Gimana cara dia buat beradaptasi di kampung halaman ayahnya.
Adalah Hepi yang punya ‘masalah’ di sekolahnya. Bolos, gak belajar baik, sampai nilai rapot yang gak ada (karna gak ngisi jawaban ujian). Hepi bikin ayahnya mutusin mindahin dia ke Tanah Minang untuk diajarin langsung sama Kakek dan Neneknya. Hepi sempat protes besar, marah ke ayahnya karna ‘hukuman’ ini dianggap terlalu berat. Hepi lalu punya janji untuk nabung dan beli tiket ke Jakarta untuk buktiin ke sang ayah kalo dia bisa. Janji ini dijalani Hepi dengan kerja keras. Lambat laun Hepi malah menikmati hari harinya bersama keluarga besarnya.
Sebuah novel dengan bahasa yang dibawa ringan, padahal isinya penuh pelajaran. Aura adat istiadat Minang yang masih terjaga bisa kita rasain sangat kental. Bahasanya, lingkungannya, bangunannya, panggilannya, semuanya. Suka dengan ada tambahan peta di belakang buku jadi bisa membayangkan lebih jelas. Kata-kata tertutur santun. Kita dibawa belajar untuk menghormati yang lebih tua sekaligus menyayangi sebaya dan yang lebih muda. Kita juga diajak untuk bisa memahami apa yang jadi alasan orang tua kita membuat aturan tertentu untuk kita. Yang jelas untuk kebaikan kita sendiri lah, meski kita sering telat sadarnya.
Konfliknya mengalir pelan. Sampai sampai udah mau terakhir barulah keluar masalah puncak. Yang pelan begini kadang kadang jadi kurang ada ‘semangat’ untuk balik balikin halaman. Mau ditinggalin kok sayang. Mau diterusin kok datar aja.. Tapi pinternya Bang Fuadi, diletakkanlah satu adegan dramatis diawal cerita, yang bikin aku penasaran kapan dan dimana adegan itu akan terjadi. Dan terjadilah di ujuuung cerita (haduuh). Mau gak mau emang harus kelar dulu baru ketemu adegan tadi kan?
Tapi gak semuanya indah indah juga. Hepi pontang panting kerja lho walaupun masih anak SMP. Coba tebak kerja apa? Juga ada aja tokoh antagonis yang bikin gatel mau ngiket karna tingkah laku mereka. Trus ada kalanya diajak deg deg an karna beraninya Hepi mendobrak beberapa pandangan masyarakat lokal. Juga gemas dengan kompaknya geng Hepi-Attar-Zen. Daan.. ada juga sedikit porsi untuk masalah suka suka an.
Oke, intinya sih untuk yang suka cerita yang lembut penuh nuansa kekeluargaan, rekomendasi deh ni buku. Bikin kangen balik ke kampung halaman dan deket dengan kakek disana.
“Dia tidak sadar selama ini dia rindu ayahnya. Rindu yang selama ini dia selubungi erat-erat dengan sedih dan marah. Dia marah karena sayang. Dia dendam karena rindu. Alangkah aneh perasaan itu bekerja. Dia membolak-balik logika suka-suka, dan dia ternyata mau saja diperdaya.”
‘Alam terkembang jadi guru’ temans.