RUMAH TEMPAT PULANG
Mei 2022, Pagi yang cerah langit berwarna biru di kelilingi awan putih, Handphone ku berdering cukup keras hingga aku mencari dimana Handphone ku berada, setelah ku temukan Handphone ku, aku angkat telfon dari seseorang perempuan ( tidak kusebut namanya). Rasanya membuat aku penasaran “apa yang akan disampaikan pesan melalui telfon itu?”. Ku dengarkan benar-benar pesan yang disampaiakan perempuan tersebut, aku terkejut dengan pesan yang diutarakan oleh perempuan itu sehingga membuat ku terasa lemas dan tidak tahu harus berbuat apa.
Aku sangat shcok mendengar pesan itu, rasanya semua tubuhku berasa tidak memiliki tulang dan semua keceriaan ku dihari itupun hilang seketika. Aku sendiri takut menghadapi semua ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah semua pesan yang diutarakan oleh perempuan itu selesai, aku seketika menutup mintu kamar dan mematika lampu kamar ku disitu aku menangis tanpa henti. Hari itu rasanya aku hancur sekali merasa sudah tidak ada tenaga dan tidak memiliki semangat untuk menjalani aktivitas ku kembali. Seharian aku hanya berdiam didalam kamar sambil menyesali atas perbuatan ku itu, tapi semua sudah terjadi.
Keesokan harinya aku mejalani aktivitas keseharian ku seperti biasa, tapi ada yang berbeda dari biasanya semangat yang setiap pagi muncul sebelum melakukan aktivita itu hilang, aku menjalankan aktivitas terasa sangat hampa. Rasa ketakutan ku bertemu dengan orang-orang, bahkan berbicara dengan rekan kerja membuat saya tidak nyaman. Beberapa hari aku mengalami hal seperti itu, kondisi ku saat itu sangat tidak baik-baik saja. Rasanya sudah hampir satu minggu tetapi kondisi ku tak kunjung membaik, bahkan menjdi lebih parah aku sering murung, nafsu makan ku sempat berkurang dan ketakutanku bertemu orang-orang.
Aku merasa ada yang tidak baik dari diriku. Aku memutuskan untuk konseling dengan dokter spesialis kejiwaan ternyata aku di diagnosa depresi ringan. Rasanya hancur sekali aku menangis tiada henti didalam ruangan itu, sampai aku tidak bisa mengeluarkan satu katapun dari mulut ku, aku hanya bisa menangis. Dokter yang menangani ku memberikan resep obat untuk mengurangi rasa ketakutan yang aku alami, namun aku menolaknya karena aku takut nanti hanya membuat ku menjadi ketergantungan obat-obatan. Aku hanya butuh tempat untuk meluapkan semua isi kepala ku.
Dalam lamunaku, aku tersadar bahwa aku tidak sendiri, aku bersama Allah Swt. Ia akan senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba-nya. Aku ambil air wudhu, selepas sholat aku bersujud dihadapanny, ku ceritakan semua permasalahanku kepada-nya, rasanya hati ini menjadi lebih tenang. Semua ketakutan ku dan semua kecemasanku perlahan hilang. Dengan kuasa Allah Swt, aku dipermudahkan dalam menyelesaikan permasalahan ini. Ini bukan suatu kebetulan melainkan takdir ketetapan Allah Swt. Ketika kita telah menyerahkan diri kepada sang penciptanya dan mengikuti ketetapannya, kita sudah menyerahkan kendali hidup kita kepada Allah Swt, merasakan kenikmatan dan kepasrahan yang amat sangat nyaman. Ada hikmah yang aku ambil dari permasalahan yang kualami ini. Aku menjadi lebih dekat dengan sang pencipta.














