“Lho, kamu belum baca email?!” tanya Manda setengah terkejut. Aku hanya diam menatapnya heran. Bingung. Manda melanjutkan,
“Pak Paul mengumumkan pensiun. Jum’at kemarin hari terakhirnya bekerja di sini.” Mendengar itu, kepalaku seperti dihantam. Aku terdiam.
“Kamu cuti kelamaan, sih. Sampai info ini aja ketinggalan. Kamu belum menghubungi beliau?” Aku masih terdiam. Pertanyaan terakhirnya membuatku kembali ke hari itu.
Maret, 2024. Aku sibuk membaca resume-ku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Sesekali aku memeriksa penampilanku di kamera laptop. Sesekali juga memastikan apakah interviewer sudah memasuki room meeting. Tidak lama setelah itu, seorang pria paruh baya muncul di layar laptop dengan senyum ramah dan mata binarnya yang keabuan. Dia memperkenalkan diri sebagai Pak Paul. ‘Dia terlihat seusia dengan mendiang Bapak’, aku membatin. Interview berjalan lancar. Dia terkesan bisa menemukan aku dan potensiku di kota kecil ini. Dia penasaran, bagaimana aku bisa tumbuh dengan keinginan untuk terus belajar, menguasai teknologi dan bahasa asing. Saat membahas mengenai hal ini, cerita mengenai mendiang mama dan bapak, tidak bisa tidak aku sebutkan. Mereka adalah kebanggaan dan panutanku. Titel ‘mama serba tahu’ dan ‘bapak serba bisa’ terus bersemayam dalam diriku. Semua pengalaman kuliah, rencana studi hingga karirku pun aku sampaikan meskipun masih dalam bentuk gambaran kasar. Waktu selalu cepat berlalu disaat topik pembicaraannya sedang seru. Kami pun mengakhiri sesi wawancara dan dia memintaku untuk menunggu kabar selanjutnya.
April 2024. Satu bulan pasca-wawancara. Setelah Ramadan dan Idul Fitri. Aku mulai bekerja dan beradaptasi. What a blessed! Semua menyambut baik kehadiranku. Aku sibuk berkeliling ditemani Pak Paul, yang ternyata adalah direktur! Dia mengajakku berkenalan dengan rekan kerja yang lain, hingga ada reaksi dari satu kolega yang meninggalkan pertanyaan besar dibenakku. “Oh, you are Dalil!” Seluruh otot wajahnya seperti tertarik ke atas. Wajahnya tersenyum lebar, tetapi justru membuat intuisiku bekerja. Ada yang mengganjal. Aku mulai merasa sesuatu telah terjadi tepat sebelum aku datang ke sini. But, I have no clue. Intuisi tidak memberi ruang untukku merasa nyaman selama satu minggu ini. Ada hal yang tidak berjalan seperti seharusnya. Jika aku harus mendeskripsikan perasaaanku di minggu pertama bekerja ini, it would be, bittersweet!
“Sudah, dah! Habiskan makan siangmu.” Sentakan Manda membuatku kembali ke piring makanku yang masih setengah penuh. Dia berlalu meninggalkan ku setelah selesai mencuci piring makannya. Selera makanku hilang. Aku mengalihkan pandanganku dari piring. Menyusuri seisi ruang makan staff, hingga berhenti pada sepasang mata yang juga menatap ke arahku. Alam, 29 tahun. Dia suka tampil di depan banyak orang. Meskipun berat, patut diakui bahwa dia orang yang persuasif dan memiliki kemampuan leadership. Aku coba menyapanya dengan senyum sebelum memutus pandangan yang canggung ini. Tapi, dia bergeming. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia memutuskan pandangan lebih dulu dan kembali sibuk dengan makan siangnya. Dia salah satu orang yang membuat intuisiku selalu berada pada level waspada. Sudahlah, kami di departemen yang berbeda. Lupakan dia.
Belum sempat aku menyendok nasi, seseorang menghampiri meja tempatku duduk. Dia bertanya dengan ramah,
“Kursi ini kosong, kan?” Aku mengangguk lalu mempersilahkannya duduk.
Bu Shirley. 50 tahun tapi terlihat seperti 40. Kata Manda, saat ini beliau menjabat sebagai direktur sementara pasca Pak Paul pensiun. Patut diakui, gen asia sangat luar biasa dalam hal melawan penuaan. Dia begitu anggun, ekspresif dan lihai menyajikan topik pembicaraan ke atas meja. Tidak lama setelah itu, Pak Toko menyusul duduk di sampingnya. Dia terlihat seperti pertengahan 40-an. Mereka selalu terlihat bersama. Setelah berbincang tidak begitu lama,
“Please, remind me. What is your name again?”
“Dalil,” jawabku sepenuh hati.
“Oh! So, you are Dalil?” Oke. Apa maksud dari reaksi itu? Aku ingat, seseorang pernah memberikan reaksi yang sama di hari pertamaku bekerja dulu. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. I am trying to read the room, but then I failed. Bu Shirley kembali membuka obrolan,
“And where are you from?” Baru saja aku menyuap. Kututupi mulut ku yang penuh dengan rendang dan selada lalu menjawab,
“I was born and raised in Sumbawa, bu.”
“Oh! So, tell me, how come your English is very good?” Ia semakin antusias bertanya. Dengan cepat aku kunyah lalu kutelan makanan di mulutku. Ini adalah pertanyaan yang pernah Pak Paul tanyakan saat interview. Should I use “my parent“ card again? Mom, Dad, I will always make you live in everyone's memory. I will make them know both of you are the greatest parents ever. I really mean it!
Saat aku hendak menjawab pertanyaan itu, seseorang dengan aroma yang familiar duduk di sampingku dengan piring makannya yang masih setengah penuh dengan rendang.
“I have the answer, bu.” sambarnya lalu bergabung dalam obrolan kami dengan natural. Dia Evan, 29 tahun.
—————————————————————————————————————
Bisa aku katakan, Evan dan energinya seperti 97% perwujudan karakter Golden Retriever yang ada dalam kisah novel bacaan dan series. Dia terlihat begitu nyaman berada di tengah kelompok maupun perjamuan besar. Dia meletakkan piring makannya di atas meja sambil mulai menceritakan, bahwa kedua orang tuaku bekerja sebagai guru. Entah bagaimana dia juga bisa tahu mengenai kegemaranku melukis dan ketertarikanku terhadap dunia pemrograman. Semua detail itu dia ceritakan seperti kisahnya sendiri. Aku mematung dan mulutku sedikit menganga memperhatikannya bercerita. Sesekali aku melirik ke Arah Bu Shirley berusaha membaca raut wajahnya. Jika sudut bibirnya mulai turun atau sudut matanya menyempit, maka aku akan mencari cara untuk memotong penjelasan Evan yang masih terus berlanjut. Tapi, Bu Shirley terlihat menyimak dengan serius dan sesekali mengangguk kecil sambil menatap Evan lekat-lekat. Baiklah, sekarang aku harus bagaimana?
“Wow, you have such potential, Dalil!” seru Bu Shirley seraya kembali menatapku dengan mata binarnya. Aku menoleh ke arah Evan yang terlihat bangga dan tersenyum ke arahku karena merasa kemunculannya seperti pangeran berkuda putih. “Pengetahuan”-nya tentangku memang cukup mengejutkan, tapi aku malah merasa seperti anak kecil yang sedang diperiksa oleh dokter dan tidak bisa menjelaskan gejala sakitnya sendiri.
“Your parent must be proud of you,”
“karena kamu bekerja di sini, you know, it is such a big company.” Bu Shirley terus memberikan afirmasi positifnya.
“Bagaimana reaksi mereka setelah tahu kalau kamu diterima bekerja disini?” tanyanya. Aku bisa melihat, tidak ada maksud lain dari pertanyaannya. Dia murni ingin tahu. Tapi, tetap saja, sepenggal kalimat itu menikam jantungku. Detaknya semakin cepat. Aku berusaha mengendalikan emosiku. Tapi, ini bukan emosi yang membuatku merasa buruk. Uap hangat terasa seperti memanjat naik ke kerongkongan dan hampir mengaburkan pandanganku. Untungnya berhasil aku telan kembali cepat-cepat. Di seberang meja, mereka terlihat menunggu jawabanku.
“They passed away…” aku tidak ingat lagi apa yang aku katakan setelah itu. Aku hanya mengingat raut wajah iba dari Bu Shirley, sedangkan Evan mematung di sebelahku. Sepertinya dia belum tahu sejauh itu. Aku merasa seperti menaiki wahana Rollercoaster. Setelah kereta perlahan menuju ketinggian dan melawan gravitasi, sekarang aku tepat berada di puncak. Aku terkesiap, bersemangat bisa melihat seluruh hamparan daratan yang hanya bisa dinikmati dari ketinggian ini. Beberapa saat setelah itu, rasa cemas mulai menyelimuti karena aku tahu dengan pasti, sebentar lagi, wahana ini akan meluncur turun, berputar, naik dan turun lagi dengan kecepatan penuh.
“They must be proud. Susah, lho, masuk ke sini. Nggak ada ordal, ya?” Ini dia! Kereta mulai meluncur turun dengan kecepatan penuh. Whoosh. Pak Toko yang sedari tadi hanya menyimak, kini bergabung dalam obrolan. Pertanyaan itu diucapkannya dengan nada bercanda. Bu Shirley sepertinya tidak begitu mengerti maksud dari istilah ordal (orang dalam) karena mereka cukup lama berbincang berdua membahas makna dari singkatan itu. Aku hanya memerhatikan mereka berdiskusi. Sementara itu, aku bisa melihat Evan dari ekor mataku, terdiam menatapku lekat-lekat. Ia berhenti menyuap sesendok penuh nasi dan rendang di tangannya.
Setelah Bu Shirley terlihat sudah paham dengan istilah itu, Pak Toko kembali bertanya,
“Ngga ada, ya?” Aku memberikan jeda sebelum menjawab. Ingin sekali aku langsung menjawab ‘tidak ada’ dengan percaya diri karena dari penyusunan resume hingga wawancara aku melakukan semuanya sendiri. Tapi, jika diingat lagi, dalam perjalanan itu, banyak orang yang membantuku; memberikan informasi, saran, nasihat, bantuan hingga mengantarku ke tempat kerja. Ada dari mereka yang memang pernah bekerja di kantor ini. Tapi, mengenai keputusan apakah resume-ku akan lolos seleksi, atau apakah aku akan lolos wawancara lalu diterima bekerja, benar-benar diluar kendaliku maupun mereka. Meskipun begitu, apakah ini tetap termasuk ke dalam jalur ordal? Aku pun mempertanyakannya sekarang. Istilah ordal tidak pernah mengenakkan bagiku. Sekilas ku lihat jam tangan, lima belas menit lagi waktu makan siang habis.
Aku merasa Evan hendak membuka muncung mulutnya sehingga aku dengan cepat menjawab,
“Kasus yang seperti apa sehingga dikategorikan masuk ke dalam jalur ordal, pak?” Aku balas bertanya. Seisi meja terdiam. Entah kapan aku bisa menghabiskan makan siangku. Aku tidak tahan dengan keheningan ini. Aku memutuskan untuk menjawab.
“Saya juga ingin tahu, pak.”
“Karena saya tidak tahu bagaimana dari sudut pandang yang lain. Tapi, yang saya tahu, tidak ada anggota keluarga atau orang terdekat yang terlibat dalam proses perekrutan.” Aku melihat Bu Shirley dan Evan mengangguk kecil dan kembali menyendok makan siang dari piring mereka. Sementara Pak Toko, berusaha mendapatkan “two-step verification” dariku.
“Oh ya?” tanyanya sedikit menekan, sambil tersenyum dengan sorot mata yang menembus hingga tulang belakang kepalaku. Aku hanya mengangguk kecil lalu tersenyum.
“Sudah jam satu, bapak, ibu. Saya dan Dalil izin kembali bekerja,” Evan mengangkat piring miliknya dan milikku lalu beranjak ke wastafel untuk mencucinya.
“Permisi, pak, bu.” Aku pamit yang kemudian dibalas dengan senyum ramah dan anggukan dari keduanya.
Aku menyusul Evan dan mencarinya tetapi sudah tidak terlihat di ruang makan maupun lorong depan.
—————————————————————————————————————-
Akhirnya, aku kembali ke ruang kerja dan duduk di depan laptop mengerjakan dokumen yang harus selesai hari ini. Tapi, pembicaraan saat makan siang tadi terus berputar di kepalaku. “Bagaimana reaksi mereka?”, “They must be proud of you.“ Tanpa peringatan, air mataku mengalir deras. Sial. Aku menunduk sedalam-dalamnya. Bersembunyi dari sorotan sinar matahari sore yang masuk dari jendela kaca di hadapanku. Bisa saja seseorang melihatku dari belakang gedung. Entah berapa tissue sudah habis basah tapi air mata ini sulit berhenti. Bisa ku rasakan bahu ku gemetar. Kutahan agar isak tangis ku tidak keluar. Sementara pertanyaan itu, semakin memenuhi kepala. Kututupi mata dengan tissue dan kutekan sekeras mungkin berharap tidak ada lagi air mata yang bisa lolos. Sekarang mataku terasa kering.
Sesaat setelah kulepaskan tissue dari mata, pandanganku menangkap seseorang yang sedang berdiri di halaman belakang kantor. Dia menengadah. Mataku butuh beberapa saat untuk mengatur fokus dan menyesuaikan cahaya yang masuk. Aku mematung, begitu sadar bahwa orang itu adalah Alam. Terlebih lagi, dia terus berdiri di sana sambil menggenggam handphone dan masih menatapku meskipun sudah tahu bahwa aku menyadari keberadaannya. Setelah kuperhatikan lekat-lekat, wajahnya terlihat… cemas. Dia terus melihat ke arahku. Sudah berapa lama dia berdiri di sana? Sikap dan ekspresi yang tidak biasa itu membuatku merinding. Bergegas aku keluar untuk mencuci muka. Meninggalkannya yang masih berdiri seperti patung tanpa berniat beranjak sedikit pun.
“Dalil!” suara Evan memenuhi lorong. Bisa-bisanya dia muncul tepat setelah aku baru selesai menangis. Semoga mataku tidak terlihat sembab.
“Hai, tadi kamu ke mana? Selesai makan langsung pergi aja.” sahutku sambil menghapus jejak air mata yang mungkin masih ada di pipi.
“Are you okay?” Dia menghampiriku sambil berlari kecil setelah menaiki tangga.
“Maksudnya?” Pertanyaannya begitu tiba-tiba.
“Kamu tahu? Ada 28 panggilan tak terjawab dan 5 pesan dari Alam yang masuk ke handphone-ku!” Aku masih tidak paham, hubungan pertanyaanku dengan pernyataannya apa? Aku mengangkat kedua alisku meminta penjelasan lebih lanjut darinya.
“Aku juga tidak tahu. Setelah selesai dari toilet, aku baru cek handphone. Sudah ada 28 panggilan tak terjawab dari Alam. Dia juga chat minta tolong lihat keadaanmu sekarang. Urgent, katanya. Ada apa?” Evan bertanya dengan napas terengah-engah.
“Hah? Nggak ada apa-apa.” Aku semakin heran.
“Yakin?” Evan memperhatikan kedua mataku bergantian. Apakah kentara?
“Terus, kenapa Alam sampai heboh begini?” Evan juga ikut-ikutan heran.
“Kalau pun ada, kenapa dia peduli?” suara hatiku keluar begitu saja.
“Lho, kamu gak tahu? Dia selalu menghabiskan sisa waktu makan siangnya di halaman belakang kantor sambil mengumpulkan info tentang kamu.” What a plot twist! Untuk apa?
“Entahlah, sejak Pak Paul mengumumkan bahwa ada karyawan baru yang sangat bertalenta akan bergabung dengan perusahaan ini, dia mulai mencari tahu. Kamu tahu sendiri, bagaimana kompetitifnya anak itu.” Evan seperti menjawab pertanyaan di kepalaku.
“Terus, dia menemukan blog pribadimu dan sepertinya keterusan membaca.”
“Kami berdua sering menghabiskan waktu makan siang sambil duduk di halaman belakang itu,” Evan menunjuk ke arah belakang kantor dimana aku melihat Alam tadi.
“Dia sering membagi ‘hasil temuannya’ kepadaku sambil duduk-duduk dan menyeruput kopi di sana. Kamu harus lihat bagaimana bersemangatnya Alam setiap bercerita tentangmu. Maksudku, kalian bahkan belum pernah berbicara berdua. Bagaimana bisa dia sangat antusias setiap membahas tentangmu hanya dari tulisan yang dia baca?!” Evan tidak habis pikir dengan kelakuan temannya.
“Oh… karena itu, waktu makan siang tadi…” Aku masih berusaha mencerna semua infromasi yang aku dapat secara beruntun.
“Iya, aku tahu semua itu dari dia.” Evan melanjutkan kalimatku. Lalu bergumam,
“Sepertinya tadi dia sedang di halaman belakang saat melihat kamu menangi-“ Tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang yang sedang berlari mendekat.
“Nah, itu dia. Aku tinggal dulu, ya” ucap Evan lalu kembali ke arah dia datang tadi. Saat berpapasan dengan Alam, dia menepuk pundaknya. Alam membalasnya dengan anggukan kecil. Kini, Alam berdiri di hadapanku, dengan mata sembabku. Setelah mengatur napas, dia membuka obrolan.
“How are you, Dalil?” Itu adalah pertanyaan pertamanya yang terasa personal, sekaligus memendekkan jarak dia dan aku yang selalu terasa jauh. Oh! Bukan. Ini lebih seperti mendobrak pintu kastil tuaku. Tapi, aku tidak keberatan.
“Do you have time for tea? I will listening… Anytime.” lanjutnya. Selama ini, aku enggan bercerita. Aku memutuskan untuk menangis dan menulis saat ingin mencurahkan semua emosiku. Alasannya adalah aku takut ketahuan kalau kini aku memiliki rasa rendah diri yang besar, setelah kehilangan manusia pelindung di bumi yang begitu kokoh dan tegar. Tapi, kalau kamu orangnya, boleh dicoba.
“Boleh, di halaman belakang?” sahutku mencoba mengusilinya. Dia tertawa lepas lalu menjawab,
“Ya, di halaman belakang.”