Carpool Talk
Ini kejadian beberapa hari lalu, waktu aku dan temanku, Ratih, keliling mencari kain kebaya untuk wisuda nanti. Tujuan pertama kami adalah jembatan merah plaza. Karena tempatnya yang cukup jauh dan siang itu cuacanya tidak menentu, aku menyarankan pergi menggunakan gocar (aplikasi kendaraan online milik gojek). Di perjalanan, kami banyak ngobrol dengan drivernya. Mulai dari ketertarikkan dan keinginan beliau untuk mempelajari ilmu psikologi melalui pendidikan formal namun orang tuanya menentang, hingga akhirnya beliau melanjutkan pendidikan ke STESIA Surabaya, tempat dan jurusan yang direstui oleh orang tuanya. Drivernya juga banyak cerita tentang ini itu, sampai cerita tentang bagaimana drivernya akhirnya menikah dengan istrinya setelah bertahun-tahun pacaran. Sejauh ini, beliau adalah drvier yang paling santuy dan terbuka untuk menceritakan perihal hubungan, hahaha.
Tapi, ada satu hal yang cukup mengkhawatirkan kalau membahas tentang ini. Aku akan kelihatan kurang berpengalamnnya karena banyak bertanya dan memberikan reaksi yang agak kikuk. Benar saja, drivernya sadar hingga akhirnya temanku mengkonfirmasinya,
“iya, kita berdua belum pernah pacaran sebelumnya hahaha”
Aku dan temanku hanya bisa tertawa lucu melihat reaksi drivernya terkejut tidak percaya sambil bolak-balik melihat ke jalan raya lalu melihat kami melalui kaca spion tengah mobil.
“Tapi rupa kakak berdua bukan seperti yang susah dapat pacar” lanjut drivernya sambil masih memperhatikan melalui spion tengah mobil.
Hmm maksudnya gimana ni? :) Aku membatin.
Terlihat masih tidak percaya, drivernya tanya lagi,
“Kenapa? Apa yang membuat sampe sekarang belum pacaran?”
Mendengar pertanyaan itu, aku dan temanku menjelaskan pertimbangan kami seadanya karena cukup canggung menceritakan hal ini ke orang asing. Selain karena bukan prioritas untuk saat ini, salah satu pertimbangannya adalah, sebelum menemukan orang lain sebagai pasangan, aku ingin “menemukan” diri sendiri dulu.
Dari semua penjelasan kami, ada satu hal yang tidak kami sebutkan walau sebenarnya itu adalah alasan yang paling mendasar. Kemudian, drivernya tidak langsung merespon. Beliau diam beberapa detik, lalu mengatakan sambil tersenyum,
“Berarti kasih sayang dari orang tuanya sudah terpenuhi, ya? Jadi, tidak perlu validasi dari orang luar. Pasti bangga sekali jadi orang tuanya kalau dengar ini. Saya juga nanti mau jadi orang tua yang seperti itu deh untuk anak saya”
Not gonna lie, itu dia alasan mendasarnya. Ini kali pertama aku dan temanku bertemu orang yang memberikan reaksi dan memiliki arah pemikiran yang seperti itu. Feeling blessed. Tapi memang benar, karena aku dan temanku pun sering menghabiskan waktu membahas hal ini dan ternyata alasan kami sama. Support kasih sayang dan validasi dari orang tua, alhamdulillah tidak pernah kami rasa kurang. Bahkan hal paling sepele sekalipun, diapresiasi oleh orang tua seperti memenangkan medali di olimpiade dan perasaan itu membuat diri sendiri merasa penuh dan cukup. Hal ini membuat aku—dari sudut pandang aku pribadi, melihat pacaran bukan prioritas atau hal yang harus segera terealisasikan. Apalagi diumurku yang masih harus banyak mengeksplor berbagai hal baik dan memperluas relasi. Cerita tentang bagaimana beliau menghabiskan 2 tahun di SMA nya dengan membaca buku-buku psikologi bisa terlihat dari caranya berpikir, khususnya topik yang sedang kami bicarakan.
Tentu, pemikiran ini tidak membuat aku melihat bahwa yang memutuskan berpacaran adalah pilihan yang tidak tepat. Bukan. Tapi, lebih kepada kepentingan personal. Bukan berarti juga aku menutup diri untuk berkenalan dengan orang baru. Aku sudah melewati masa itu—mengisolasi diri dari berbagai macam perasaan karena fokus menata emosi dan menyusun skripsi🙂 InsyaAllah sekarang aku lebih welcome.
Pengalaman ini sangat berkesan, karena hanya segelintir orang yang pernah aku temui yang bisa melihat status “belum pernah berpacaran” dari sudut pandang seperti driver tadi dan bisa berpikir seperti itu. Umumnya, mereka hanya akan bertanya-tanya "kok bisa?!", bahkan beberapa berpikir itu hal yang aneh, tanpa mencoba untuk melihat berbagai kemungkinan positif yang bisa menjadi alasannya.














