Ada saat di hidup kita, ketika satu kejadian pahit terasa cukup buat bikin kita yakin bahwa Allah sedang melawan kita dan memihak orang lain. Misalnya, doa yang tak kunjung dikabulkan, orang terdekat yang tiba-tiba pergi, takdir menyenangkan orang lain yang keliatan lebih effortless, atau kegagalan yang meruntuhkan semua harapan dan rencana. Tampaknya, semua hal dibuat sulit hanya untuk kita dan orang lain tidak. Jelas geer murahan yang tidak reliabel, yang kita klaim sebagai fakta, padahal itu bias dari sampel tunggal bernama hidup kita.
Agak ngeri juga ya, nantangin by one sama Tuhan Semesta Alam :v
Kita pernah jadi peneliti tolol yang semena-mena bikin kesimpulan besar dari sampel tunggal (yakni pengalaman pribadi). Dalam penelitian, kalau cuma punya sample size = 1, hasilnya nyaris tidak bisa dipakai buat generalisasi, sebab pengalaman pribadi hanyalah satu data point dari "big data" ciptaan Allah. Sedangkan Allah punya akses ke seluruh populasi baik itu masa lalu, masa kini, masa depan, yang kelihatan, maupun yang tersembunyi. Jadi keputusan Allah selalu berdasarkan n = ∞.
Kalau n (jumlah sampel) kecil, maka akurasi rendah, hasilnya bias, dan margin of error besar. Sebaliknya, kalau n besar maka akan mendekati populasi, hasil makin akurat dan representatif, kesimpulan makin bisa dipercaya.
Sekarang, kita punya dua kasus.
Pertama: "kalau kita terluka, maka Allah jahat". Ada banyak bias di pernyataan ini. Negativity bias (satu sakit bisa "menghapus" seribu nikmat sehat sebelumnya), availability bias (pikiran cepat banget mengakses pengalaman yang paling segar/menyakitkan karena data itu yang paling gampang muncul di memori), egocentric bias (semua hal ditafsirkan dengan diri sendiri sebagai pusat), ditambah jumping to a conclusion. Kurang bodoh apa?
Kedua: "kalau kita bahagia, maka Allah sedang berpihak pada kita." Lebih enak sih kedengarannya, tapi tetap pakai cara pikir yang sama dangkalnya. Ada banyak bias juga di pernyataan itu. Confirmation bias (kita suka "menemukan bukti" sesuai keinginan hati), self-serving bias (klaim seolah-olah semesta revolve around me), egocentric bias, lagi, (tolok ukur "Allah baik" diambil dari kenyamanan pribadi, pusatnya ego lagi), dan overgeneralization.
Sama-sama geer, cuma kali ini geernya dibungkus syukur palsu, soalnya lagi-lagi penilaiannya subjektif, bergantung pada mood dan pengalaman sesaat. Plus, dua-duanya pakai ukuran diri sendiri sebagai standar mutlak. Dua-duanya pakai sampel tunggal untuk menilai "populasi" sebesar Allah. Cara pikir kaya gitu memang aneh/keliru, karena pakai logika manusia bias untuk menilai Zat yang tidak terbatas.
Jadi, apa bukti Allah itu baik?
Kalau pakai logika sampel tunggal (n = 1), kita bakal jatuh ke jawaban sepotong, "karena aku pernah senang, karena doa aku pernah dikabulkan, karena aku sehat hari ini." Jawaban itu rapuh karena besok kalau sakit lagi, logika yang sama bisa dipakai untuk bilang "Allah jahat".
Kalau pakai logika populasi (n = ∞), maka Allah punya seluruh data, dan kebaikan-Nya mencakup seluruh aspek. Jadi bukti "Allah baik" tidak berdiri pada 1 pengalaman, tapi pada keseluruhan realitas.
Allah dan Kerangka Empirisme
Jadi, bukti Allah baik bukan cuma soal empiris. Dan sebenarnya Allah tidak bisa didekati secara empiris. Kenapa? Karena Allah bukan objek sains.
Terdefinisi (ada kesepakatan jelas tentang apa itu)
Bisa diukur (kalau bisa diukur, berarti ada batasnya)
Ada di ruang dan waktu (bisa kita jangkau untuk diuji)
Sejak awal, Allah sudah mendefinisikan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Maha. "Maha" artinya tak terbatas, dan yang tak terbatas itu tidak bisa diukur.
Sekarang bayangkan, logika macam apa yang ingin coba mengukur sesuatu yang Maha? Penggaris macam apa yang ingin kita pakai? Manusia jelas tidak punya instrumen yang valid untuk menakar sifat atau keputusan Allah. Pada kerangka apa kita ingin menguji Tuhan? Perkara bodoh dan dangkal, kan?
"The absence of proof is not proof of absence."
Ketika kamu merasa tidak punya pengalaman pribadi yang bisa dipakai sebagai evidence kebaikan Allah, jangan berhenti di situ. Ketiadaan bukti bahwa "Allah baik" di hidupmu, bukanlah bukti Allah tidak baik.
Bisa jadi datanya ada, tapi kita belum sadar atau belum punya syukur di hati. Atau bukti itu baru akan muncul nanti, atau Allah sengaja sembunyikan demi hikmah yang lebih besar.
Terus gimana kalau belum nemu bukti itu?
Sadar posisi bahwa kita terbatas. Kita hidup dengan "sample size = 1" yang artinya data yang kita pegang itu sangat sedikit dibanding "populasi" realitas yang Allah pegang. Selanjutnya, latih cara dan gaya pandang. Carilah tanda yang mendekatkan diri untuk mengenal-Nya.
Itu sebabnya, saat Allah memerintahkan Iqra' (bacalah), Dia tidak bilang "iqra' rabbaka" (bacalah Tuhanmu) Tapi "iqra' bismi rabbik" (bacalah atas nama Tuhanmu)
Artinya, Allah nyuruh kita membaca ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, ayat-ayat di alam (kauniyah) dan dalam wahyu (qauliyah), untuk mengenal Allah, bukan untuk "mengukur" Allah dengan keterbatasan alat sensori dan persepsi kita.
Maka itulah pentingnya kenalan sama Allah sebelum menerobos realitas. Supaya dalam kedukaan dan keterlukaan pun, kita tetap memiliki rasa hormat kepada Allah, bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap pengambilan keputusan-Nya. Supaya sabar lebih dapat didahulukan daripada marah, menuntut, dan protes. Supaya tidak jadi orang sotoy dan menggurui Allah.
Dan dalam kebahagiaan pun sama. Supaya kita tidak buru-buru merasa semua nikmat adalah hasil usaha sendiri, atau geer bahwa Allah lebih sayang pada kita dibanding orang lain. Supaya syukur lebih didahulukan daripada sombong, bangga diri, atau meremehkan cara hidup yang lain.
Allah al-Wakil bertindak atas dasar populasi total, yang mempertimbangkan semua variabel, semua waktu, semua konsekuensi. Keputusan-Nya mencakup keseluruhan realitas, bukan cuma fragmen hidup seseorang saja. Jadi jangan buru-buru menyimpulkan Allah tidak baik hanya karena hidupmu belum terasa "dibuktikan" oleh-Nya.
Kalau pengen dipihak oleh Allah, gimana? Banyak caranya di Qur'an, salah satunya bersabar. Kalimatnya jelas, "inna Allaha ma'a shabirin".
Sabar adalah jenis sikap yang sangat bergantung pada kerangka waktu. Artinya, kita tidak menyerah terhadap Allah. Kita tidak buru-buru mundur saat mengenal Allah meski belum paham. Kita tidak mengedepankan logika, nafsu, ego, dan apapun yang sifatnya menambah kesombongan, meski belum dapat hasil. Lagian, makin sombong kita, makin tidak dikenali kita sebagai hamba. Makin susah mengenal diri as human being. Dan makin susah pula berteman dengan sesama human.
Banyak orang cepat kecewa lalu mundur dari iman hanya karena satu episode pahit. Sabar juga berarti tidak kabur hanya karena logika sesaat belum nyambung, dan menahan diri dari dorongan instan yang biasanya bikin kita nge-judge Allah. Banyak tafsiran lainnya lagi soal sabar, baca-baca aja di mana-mana.
Akhir kata, mari kita benahi pemahaman tentang qadha dan qadar, serta konsep diri sebagai manusia yang punya akal dan kemampuan memilih. Supaya ngerti betapa objektif dan tidak memihaknya Allah dalam penyusunan algoritma qadha dan qadar dan penempatan manusia di dalamnya.
Kedua pemahaman ini, jika dikombinasikan, bisa melahirkan sikap haunan, seperti Nabi Adam dalam doanya, rabbana dzalamna anfusana dst.
Life’s path is no fixed line; it is shaped by co-contributors who navigate its branching roads.
(Artinya, bukan Tuhan yang jahat, elu aja yang dzalim ke diri sendiri. Output lu itu bergantung input dan decision making yang lu pilih sendiri. Jangan salahin Tuhan kalo hasilnya malapetaka dan bencana. Stop ngerasa jadi korban di masalah yang lu buat sendiri.)
— Giza, tulisan ini isinya kayak marah-marah tapi jujur emang berangkat dari rasa kesel sama orang-orang masa kini yang asbun soal Allah padahal ga kenal Allah. Iqra lagi sono, jangan cinta-cintaan mulu. Giliran terluka nyalahinnya Allah.