A while ago, I told someone about one of my favorite surah in Quran, Taa-Haa QS:20. At that time I did not even know what was that person going through and I regretted that I was unable to help. I don’t have a chance to explain why I favor this surah so much. Thus, not even knowing whether that person will reach this explanation or not, I still would like to present it in this blog.
I write this on last September 2019 with some improvements.
Setiap orang memiliki lagu, quote, kisah, ataupun tulisan favoritnya. Beberapa bahkan ada yang memiliki doa favoritnya, ayat favoritnya ataupun surat dalam Qur'an favoritnya. Saya pernah mendengar seseorang menyatakan bahwa jika bagaimana Qur'an mempengaruhi dan memberikan keajaibannya itu akan dirasakan berbeda oleh tiap individu. Beberapa mendapatkan keajiaban Qur'an karena suatu ayat-ayat tertentu, dan sebagian lain mungkin akan merasakan keajaiban itu dari surat yang berbeda. Dan jika ada yang menanyakan pada saya apa ayat atau surat favorit saya maka saat ini akan saya jawab ayat ke 4 surat ke 19 dan bagian awal surat 20, surat Maryam dan surat Taha.
Sebelumnya merupakan ketidaksengajaan, kira-kira setahun lalu (2018), tahun dimana saya diberikan sentilan terkait keimanan saya. Antara perasaan, bakti pada orang tua, ketakutan dan kekhawatiran terkait masalah aqidah yang selama ini digenggam erat tiba-tiba digoyahkan dan salah satu yang saya lakukan untuk mengatasi itu adalah mencari tahu tentang aqidah saya lebih lanjut dan jadi senang mendengar tilawah. Dulu yang paling membuat saya tenang adalah tilawah oleh Ust. Abu Usamah Syamsul Hadi. Namun setelah saya mendengar kajian seorang asatid dan bercerita mengenai doa nabi Musa (Taha : 25 -27), dan juga terkait kisah sahabat Umar bin Al Khattab yang akhirnya memeluk Islam karena surat Taha, akhirnya saya mencoba mencari surat Taha ini (saya terkhususnya menyukai yang dibacakan oleh reciter Ismail An nuri)
Cukup surat ini membuat saya tersentuh, hingga sampai ayat 37 - 40, terkait cerita Ibu Nabi Musa alaihisalam yang harus membuang putranya ke sungai Nil, pertahanan itu runtuh. Kenapa? Dalam kondisi saya yang saat itu diliputi ketakutan tiba-tiba melalui ayat itu Allah berikan petunjuk melalui Ibu Nabi Musa (as) Karena keyakinan yang sangat kuat terhadap pertolongan Allah bahkan pada situasi yang paling tidak memungkinkan.
Saya yakin, ada satu titik dimana kita merasa iman kita diuji pada titik terendahnya, saat merasa sendirian, saat rasa ketakutan yang tidak bisa dijelaskan, saat khawatir diam-diam menyapa di tengah malam, saat kita merasa ditinggalkan, saat kita merasa Allah menolak permohan kita, saat kita dibayangi kemungkinan terburuk, saat kita bahkan tidak bisa menceritakan ini kepada teman terbaik kita, saat kita begitu takutnya ditinggalkan Allah, saat bayang-bayang kedurhakaan menyelimuti, saat kita akhirnya mencoba merelakan, saat menangis menjadi suatu kebiasaan tiap malam, pada saat seluruh dunia mencemooh dan mengabaikan, saat tidak ada lagi orang percaya dan yang paling mengerikan adalah pada saat kita mulai merasa kehilangan kepercayaan pada pertolongan Allah. Kita akan mencari berbagai macam cara untuk menenangkan hati. Untuk saya Taha adalah salah satu jurus mujarab.
Ketika membaca awal-awal surat Taha, Allah menetapkan kebaikan untuk diri-Nya, menetapkan nama-nama terbaik untuk-Nya dan menyatakan bahwa kitab ini tidak Ia turunkan untuk menyusahkan kekasihnya (Rasulullah), melainkan sebagai pengingat. Pengingat bagi siapa dan terhadap apa? Pengingat bagi mereka yang takut pada Allah dan bagi mereka yang membutuhkan rahmat Allah. Pengingat terhadap ancaman Allah bagi mereka yang lalai dan terhadap kasih sayang Allah bagi mereka yang mendekat pada Rabb-nya.
Awal surat Taha (1-8) adalah bagian dimana Allah memperkenalkan diri-Nya pada hamba-Nya, bahwa Dia adalah ar-Rahman (yang paling baik, penuh kasih sayang, yang maha pengasih bahkan untuk hamba-Nya yang lalai). Bumi dan langit dibawah kendali Allah, maka Allah pula yang mengatur apa-apa yang terjadi pada kita, dan Allah menetapkan bagi-Nya kekuasaan untuk mengetahui yang paling tersembunyi dalam hati manusia, termasuk dosa yang ia tutup rapat dan apa-apa yang membahagiakan hamba-Nya, kesakitan yang hamba-Nya rasakan, kesedihan yang tersembunyi dalam setiap tarikan nafas, luka yang dikubur dalam-dalam, Allah mengetahui itu. Dan alasan pertama mengapa saya jatuh hati dengan surat ini “karena saya dikuatkan”, bahwa Allah mendengar setiap ungkapan kesedihan, setiap keputusasaan yang terucap, “bahwa saya tidak ditinggalkan”. Dan pada bagian ini adalah bagian dimana sahabat Umar bin Al-khattab mengenal Allah. Mungkin sudah selayaknya hijrah akan dimulai saat seorang hamba sudah mengenal Tuhannya. Tahu kan kisah Sahabat Umar bin Al-khattab? Terlalu banyak yang bisa dikisahkan tentang beliau, tapi diantara para sahabat yang menjadi khalifah, kisah sahabat Umar memang yang paling saya senangi, karena beliau tidak seperti tiga khalifah lainnya yang memeluk Islam di awal dakwah Nabi dan sejak semula memiliki akhlak yang baik, Umar bin Al-khattab pernah ada niatan membunuh Nabi, masa lalunya kelam, namun setelah mengenal Allah, bahwa Allah adalah Ar-rahman, Allah terima tobatnya, Allah angkat derajatnya bahkan menjadi sahabat mulia di sisi Rasulullah. Bukti bahwa Allah akan membukakan ampunan dan jalan bagi yang tulus bertobat dan berjuang di jalan Allah, meskipun pada akhirnya perjalanannya itu tidaklah mudah (kalau mudah kan nggak hijrah namanya :) ) dan amalan kan dilihat dari akhirnya.
Bagian surat Taha selanjutnya adalah Kisah Nabi Musa alaihisalam (9 - 36), pada saat Allah bercakap dengan Nabi Musa di lembah suci Tuwa. Saat Allah perintahkan kepada Nabi Musa untuk memperingatkan Fir'aun dengan kelemahlembutan. Para asatid selalu mengingatkan bagian berlemah lembut pada musuh ini, Fir'aun yang sudah melampaui batas, bersikap bengis pada bani Israil, menyiksa, menindas, dan mengaku sebagai Tuhan namun Allah perintahkan untuk bersikap lemah lembut kepadanya, adalah perintah bagi kita untuk berlemah lembut dan bersikap baik pada orang-orang yang bersikap kurang pantas pada kita, sekalipun kita berkemampuan untuk membalas perbuatannya. Kenapa? Karena Allah maha lembut dan penyayang, karena Allah mencintai mereka yang berlemah lembut. Dan Allah tahu beratnya perintah ini untuk Nabi Musa, Allah tahu beban yang Nabi Musa pikul, dan Allah dengan kasih sayang-Nya mengabulkan permintaan Nabi Musa untuk memberikannya seorang kawan dalam urusan ini, Dan inilah alasan kedua saya, bahwa Allah yang maha mengabulkan doa, Allah tahu dan paham bahwa hamba-Nya tidak mungkin ditinggalkan sendirian tanpa pendampingan dan solusi. Bagi beberapa orang bahkan doa nabi Musa (29-35) adalah doa untuk meminta pendamping hidup yang shaleh dan shalihah
(“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yakni Harun saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu, sesungguhnya engkau maha melihat keadaan kami”). Dan bagian terindahnya adalah, pada ayat-ayat ini, bukti interaksi Tuhan Allah pada hamba-Nya. Kenikmatan yang paling menenangkan adalah pada saat keluh kesah kita didengar tanpa penghakiman. Dan siapa lagi kan yang dapat melakukan itu selain As-samii yang maha mendengar, disaat manusia mulai lelah dengan segala kegusaran kita. Karena pada ayat setelahnya (36) secara langsung Allah memperkenankan permintaan Nabi Musa “Dan Allah berfirman, “Sungguh telah diperkenankan permintaanmu wahai Musa!”
Dan bagian selanjutnya adalah kenikmatan Allah pada Nabi Musa dan Ibundanya (37-40). Bagian paling sulit bagi manusia adalah tentang mengikhlaskan dan ketaqwaan. Dan rentang ayat ini menceritakan bentuk ketaqwaan Ibu Nabi Musa melepaskan penjagaan putranya yang masih kecil kepada Allah, mengalirkannya ke sungai Nil, beliau bertaruh pada kemungkinan-kemungkinan yang ada dibandingkan harus melihat anaknya dibunuh oleh Fir'aun ataupun tentaranya. Beliau bermuamalah dengan Allah dan menempatkan percaya-nya pada Allah untuk mengurus urusannya. Dengan kasih sayang Allah, Allah kembalikan nabi Musa pada Ibunya, agar tidak sedih lagi hatinya. Dan alasan terakhir saya mencintai surat Taha, bahwa mungkin ada hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi, tapi siapapun, siapapun yang menyerahkan urusannya pada Allah, akan Allah bantu dia, Allah permudah urusannya, Allah kembalikan apa-apa yang diambil darinya, entah diganti atau dikembalikan dalam kondisi yang lebih baik, Seperti bagaimana Allah menolong Nabi Ibrahim dan Ismail dengan mengembalikan Ismail pada pangkuannya atau seperti bagaimana Allah mengganti dan melipatgandakan rezeki Nabi Ayyub pada pengelolaannya. Ustz Yasmin Mogahed pernah mengatakan bahwa Allah mungkin saja mengambil darimu sesuatu yang berharga untuk nantinya akan dikembalikan lagi padamu agar cukup kau genggam dalam tanganmu tidak dengan hatimu. Atau ungkapan Imam Syafi'i (rahimahullah) bahwa kita pantas untuk memiliki sesuatu saat kita siap kehilangan sesuatu tersebut.
Tidak mudah memang, namun bukti keimanan seorang hamba adalah saat dia sanggup percaya dan yakin bahwa Allah akan mendekap dan mengijabah doanya. Bukankah salah satu buah ketaqwaan adalah pertolongan Allah dari arah yang tidak disangka-sangka [At-talaq : 2 - 3] ?
Dan untuk menutup tulisan ini, perkenankan saya mengutip pernyataan Mbak Aji Nur Afifah dalam buku “Melangkah Searah”. Pada saat hatimu kalut, saat kamu merasa doa mu tidak ujung dikabulkan, ketika perlahan percayamu pada Allah mulai meluntur, hujamkan dalam hati kuat-kuat pernyataan ini.
“Dan Allah tidak pernah main-main dengan doa hamba-Nya” – Aji Nur Afifah
Percaya dan bersabarlah, bahwa dalam hal yang paling tidak kita inginkan, akan Allah tumbuhkan harapan-harapan.