Imam Syahid Hasan Al-Banna. Entah sudah berapa tulisan atau diskusi yang saya ikuti, sosok ini banyak memberikan inspirasi dan sayang sekali kalau hanya disimpan sendiri.
Buku terbaru tulisan Mas Viki yang berjudul "Membaca Hasan Al-Banna : Catatan tentang Gagasan dan Relevansinya" setidaknya memantik diri untuk menulis kembali tentang Beliau, dengan mengambil beberapa poin dari buku ini :
1. Membaca Secara Leterlek
Perjumpaan saya dengan Beliau pertama kali ketika membaca buku dengan judul Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin terbitan Era Intermedia. Saat itu, sudah menjadi barang wajib membaca buku ini bagi seorang aktivis kesatuan.
Saya begitu terpantik dengan pernyataan yang lugas berkenaan dengan agama disertai diksi yang mengalir hingga membuat tulisanya hidup. Sekilas bagi Aktivis anyaran akan memunculkan semangat yang membara setelah membaca tulisanya.
Jujur saya cukup leterlek dengan kalimat yang intinya Beliau ingin senantiasa beramal dan tidak banyak bicara. Hingga saya beranggapan aktivis yang fafifuwasweswos (baca : suka mengkritik jamaah) nyatanya tak lebih baik dari mereka yang fokus amal di wajihah masing-masing. Seiring berjalanya waktu, saya mulai sadar hal itu kurang tepat, khususnya menjadikan dalih tokoh utama jamaah dakwah sebagai tameng.
Nasihat dari salah satu asatidz, untuk memahami pemikiran tokoh terkhusus dalam pergerakan Islam, perlu melihat konteks peristiwa dan linimasa tokoh itu hidup yang akhirnya mempengaruhi cara pandangnya. Tentu ini sangat panjang sekali.
Lanjut beliau, pentingnya kita memiliki guru sebagai sarana pensyarah agar tak terlalu leterlek dalam memahami sebuah pemikiran. Kaidahnya gurunya guru bukan buku. Tanpa mengesampingkan semangat membaca setiap al-akh, potensi salah tetap ada, apalagi yang tidak membaca.
Dalam buku itu juga, Mas Viki juga menekankan untuk kita agar tidak leterlek membaca sebuah pemikiran. Misalnya ada satu studi kasus yang menyorot bagaimana Imam Hasan Al-Banna yang kurang menyetujui adanya partai politik. Namun beberapa dekade kemudian, IM mengambil ijtihad berbeda pada masa Arab Spring Mesir yang akhirnya menjadikan Partai sebagai kendaraan untuk menghantarkan Presiden Mursi menjadi Presiden Mesir pasca revolusi.
2. Tidak Membawa Islam Yang Baru
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, awalnya saya menganggap Imam Syahid membawa Islam yang baru hingga mempengaruhi mayoritas gerakan Islam pasca runtuhnya Turki Utsmani.
Setelah membaca lebih dalam, saya memahami bahwa Beliau bukanlah membawa ajaran yang baru, melainkan mencoba mengajak umat kembali kepada ajaranya dengan rangkuman yang sederhana disertai dengan Qudwah yang paripurna.
Kalau memahami Maratibul Amal, Ushul Isyrin, Arkanul Baiah, 8 Fikrah Ikhwan, dan Perangkat Tarbiyahnya, dijelaskan beberapa Asatidz, semua itu bukanlah hal yang baru. Imam Hasan Al-Banna hanya merangkum dengan melakukan pendekatan metode sesuai dengan problematika zamanya.
Apa yang membuat beliau diminati, selain metode pendekatan adalah Qudwah yang baik dalam Dakwah Fardiyah. Dijelaskan oleh Mas Viki dalam bukunya, Imam Hasan Al-Banna adalah orang yang mampu mampu menyederhanakan bahasa yang pas kepada Mad'u dakwah hingga mampu meminimalisir sekat dan menyelaraskan visi antara 'Al-Azhar' dan 'orang pasar' untuk kembali menghidupkan nilai ukhwuah Islamiyah.
Selain itu, salah satu paradigma yang akhirnya membuat saya cocok dengan dakwah ikhwan adalah tidak fokus pada perdebatan madzhab fiqh melainkan kerja-kerja untuk ukhuwah Islam. Sejak dulu hingga sekarang memang cukup jengah melihat perdebatan antara umat Islam, terkhusus bagi mereka yang awam sampai berlarut-larut hingga mengesampingkan problematika umat yang lebih urgent.
Cara Beliau meletakan relevansi Al-Quran dengan problematika umat adalah contoh lainya dalam cara berkomunikasi yang mudah dipahami. Tak sekadar cherry picking untuk menguatkan hujjah.
Dalam Bab Kepada Apa Kami Menyeru Manusia (1) ditulisakan bahwa Al-Quran sebagai tolok ukur yang dapat memberi umat manusia referensi tujuan hidup. Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Hajj 77-78 yang artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung." 77.
"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur`an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." 78
Dengan semangat Al-Quran, beliau menyerukan Dakwah yang syumul (menyeluruh) kepada seluruh umat, bahwa Islam Islam itu menyeluruh meliputi semua zaman, kehidupan, dan eksistensi manusia.
“Adalah risalah yang panjang terbentang sehingga meliputi semua abad sepanjang zaman, terhampar luas sehingga meliputi semua cakrawala umat, dan begitu mendalam sehingga memuat urusan-urusan dunia dan akhirat.” (Imam Hasan Al-Banna)
Berbicara tentang pemuda, sepertinya perlu untuk menonton video ini terlebih dahulu :
Dalam video itu, Imam Hasan Al-Banna menyebutkan bahwa faktor-faktor kesuksesan sebuah ada empat: al-iman (keyakinan), al-ikhlash (ikhlash), al-hamasah (semangat), dan al-amal (amal).
Keempat hal tersebut adalah bagian dari karakteristik pemuda. Para pemuda haruslah menjadi pilar kebangkitan, rahasia kekuatan, dan pengibar panji fikrah Islam untuk mewujudkan kembali Ustadziyatul Alam.
Beberapa hal tersebut sejatinya telah beliau teladankan dalam kehidupannya. Sejumlah tokoh IM bahkan menuliskan bahwa apa yang beliau ucapkan bukan sekadar gagasan atau nasihat, melainkan sesuatu yang telah lebih dahulu beliau tunaikan. Perkataan dan perbuatan berjalan beriringan, sehingga keteladanan menjadi bahasa yang paling meyakinkan. Inilah pelajaran penting bagi para pemuda.
Salah satu kisah yang masyhur adalah ketika beliau melihat belum banyak mahasiswa yang menunaikan salat berjamaah di kampus. Berbekal inisiatif dan optimisme, beliau memulai salat berjamaah di tanah lapang. Mula-mula, tindakannya mengundang keheranan. Namun, keteguhan itu perlahan menggerakkan banyak hati. Satu per satu orang berdatangan, hingga akhirnya mereka berbondong-bondong mengikuti salat berjamaah di belakangnya.
Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip 10 Wasiat beliau, agar selalu teringat dan menjadi pelecut semangat untuk memenuhinya :
Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.
Baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya
Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.
Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.
Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.
Jangan suka bergurau, karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus menerus.
Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.
Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.
Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).
Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.
Surakarta, 02 Juli 2026 | (4/30)
Challenge Membaca 30 Buku Selama Setahun & Menulis di Tumblr Setiap Hari